Dalam masyarakat serba modern ini, gelar dan cita-cita sering terpandang sebagai pencapaian tertinggi dari sebuah keberhasilan hidup seseorang. Tidak ada yang pernah menanyakan apakah jiwa seorang mahasiswa baik-baik saja atau tidak? Dari sejak kecil pertanyaan terkait cita-cita mulai banyak orang pertanyakan, akan menjadi apa kelak? Lantas ketika dewasa pertanyaan tersebut bergeser menjadi, sudah sejauh mana pencapaian tersebut tercapai?
Lingkungan sosial, keluarga, bahkan dunia pendidikan membentuk pola pemikiran bahwa kesuksesan itu terlihat dari bagaimana puncak karier yang ia capai. Memiliki gelar akademis yang tinggi dan prestasi adalah sebuah bentuk pencapaian. Namun, dalam menggapai mimpi tersebut tidaklah mudah, banyak sekali pengorbanan yang harus kta pertaruhkan.
Tidak ada yang tahu sejauh mana proses telah terlalui, mereka hanya melihat hasil akhirnya tanpa peduli dengan proses. Hari-hari berat mahasiswa rasakan sendiri tanpa ada satu orang pun tahu. Perhatian kesehatan mental mahasiswa perlu mendapat perhatian karena mereka memiliki banyak sekali tuntutan dan tanggung jawab berat yang mesti terpenuhi.
Pengabaian Kesehatan
Banyak mahasiswa berupaya mendapatkan sebuah gelar tanpa mempedulikan kesehatan mental dan jiwa diri sendiri. Sesungguhnya yang bisa memahami diri kita adalah diri kita sendiri. Mahasiswa sangat mudah terpengaruh terhadap kesehatan mental akibat stres, depresi, tekanan sosial, dan tanggung jawab yang harus terpenuhi.
Gelar dan cita-cita bukan hal yang salah untuk mahasiswa capai dan wujudkan, tetapi di balik itu terdapat tekanan yang menyertainya. Terutama ketika di mana mahasiswa merasa harus selalu tampil sempurna, produktif, dan unggul di depan umum. Namun tidak ada yang peduli dengan keadaan jiwa dan kesehatan mental mereka, bahkan diri sendiri juga mengabaikannya.
Ternyata kesehatan jiwa dan mental mahasiswa harus benar-benar terjaga. Serta perlu mendapat perhatian agar tidak ada hal-hal negatif yang mereka lakukan di luar kesadaran dan kendalinya. Berdasarkan UU No. 18/2014 tentang Kesehatan Jiwa menjelaskan, Indonesia menjamin setiap orang hidup sejahtera lahir dan batin, serta memperoleh pelayanan kesehatan dengan penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
Di balik setiap gelar yang tersemat di belakang nama mahasiswa, ada perjalanan panjang berliku-liku, penuh tangis, dan duka. Ada malam dan hari-hari tanpa tidur untuk menyelesaikan tugas serta tuntutan akademik. Ada kecemasan menyelinap di setiap menjelang ujian, rasa takut mengecewakan orang tua, dan tekanan sosial yang tidak pernah berhenti.
Kuat di Luar, Rapuh di Dalam
Banyak orang tampak kuat dari luar tetapi menyimpan tekanan berat secara mental yang tidak terlihat oleh banyak orang. Mahasiswa berjuang dengan keras bukan hanya demi cita-cita dan gelar yang ingin ia raih, tetapi demi memenuhi tekanan-tekanan yang ada di dalam diri mereka. Dalam diam, mahasiswa merasa lelah dengan semua yang ada, menangis dalam diam, dan pikiran yang selalu penuh, tapi enggan mengakui, karena takut teranggap lemah oleh banyak orang terutama masyarakat sekitar.
Banyak sekali berita-berita yang beredar bahwa mahasiswa dari universitas tertentu melakukan sebuah aksi nyata bunuh diri karena beban yang sangat berat. Beban yang tidak bisa terceritakan kepada orang lain, sehingga beban tersebut memuncak dan tidak dapat terkontrol oleh mahasiswa. Bukti nyata bahwa kesehatan mental mahasiswa harus benar-benar terjaga.
Salah satu mahasiswa dari universitas tertentu melakukan bunuh diri dari sebuah gedung lima lantai. Terjadi pada Jumat bulan Oktober 2025 silam. Mahasiswa tersebut terduga sebagai mahasiswa aktif semester ganjil di salah satu universitas terkenal. Mahasiswa tersebut memiliki penyakit bipolar yang satu tahun kemarin telah di rawat di rumah sakit jiwa.
Bukti nyata bahwa jiwa mahasiswa tidak baik-baik saja terlihat pada sebuah kejadian nyata bunuh diri seorang mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun tugas akhir dari perkuliahannya. Dari semua contoh tersebut dapat terlihat bagaimana mahasiswa memiliki tekanan sangat berat yang harus mereka tanggung sendiri. Tidak ada yang peduli dengan kesehatan mereka. Mahasiswa hanya terlihat baik-baik saja, tetapi yang sesungguhnya banyak sekali pikiran yang bercabang setiap hari menghampiri mereka.
Berdasarkan informasi dari Riskesdas 2018, angka kejadian gangguan mental berat di Indonesia mencapai 7 per mil. Mengalami peningkatan signifikan daripada dengan tahun 2013 yang hanya sebesar 1,7 permil. Selain itu, sekitar 6,1% dari penduduk yang berusia 15 tahun ke atas mengalami depresi, dan 9,8% mengalami gangguan emosional. Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), prevalensi gangguan mental pada tahun 2018 tercatat sekitar 10 per mil, di mana 5,6% dari penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami depresi, dan 10% mengalami gangguan mental emosional.
Pengaruh Lingkungan Sosial
Dari informasi tersebut dapat kita ketahui bahwa kesehatan mental dan jiwa di Indonesia sangat penting terjaga agar kehidupan ini tidak sia-sia. Masyarakat sering menanamkan paradigma bahwa berbicara soal kesehatan jiwa dan mental adalah bentuk kelemahan, sehingga membuat banyak orang memilih untuk diam meski sebenarnya membutuhkan bantuan.
Keluarga, teman, dan lingkungan sosial pun memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan jiwa dan mental seseorang terutama bagi mahasiswa. Orang tua perlu memahami bahwa potensi setiap anak itu berbeda-beda. Manfaatkan teman untuk saling bertukar pikiran dan jangan pernah sungkan bercerita kepada teman yang terpercaya ataupun dengan keluarga. Maksudnya, agar beban pikiran yang terasakan dapat sedikit terselesaikan karena dengan bercerita dapat sedikit membuat beban pikiran menjadi lebih sedikit hilang.
Bisa juga dengan bercerita akan mendapatkan sebuah solusi dan pastinya motivasi. Begitu pula dengan pendidikan dan orang-orang terdekat perlu menciptakan ruang yang aman. Tempat bertukar cerita yang dapat mengakui kelelahannya tanpa takut terhakimi. Dukungan emosional sekecil apapun bisa menjadi penopang penting dalam perjalanan mencapai tujuan hidup.
Selain itu, mahasiswa perlu memahami bahwa kegagalan bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan. Banyak orang terjebak dalam ketakutan berlebihan terhadap kegagalan, seolah-olah satu kegagalan akan menentukan seluruh masa depan.
Padahal, kegagalan adalah bagian dari proses belajar, yang menentukan bukanlah seberapa sering kegagalan itu muncul. Namun bagaimana harus bangkit dan merawat diri dalam proses bangkit. Karena sejatinya kesuksesan bukan hanya tentang gelar yang melekat pada nama, melainkan tentang jiwa yang tetap terjaga di balik semua perjuangan.[]

