Latest posts

All
fashion
lifestyle
sports
tech

Terbaru

Kehilangan Sosok Cinta Pertama 01
02
Putri Kecil Ayah sudah Besar
03
Perempuan dan Pendidikan: Akses, Pilihan, dan Ketimpangan yang Tersisa

Artikel Popular

Kehilangan Sosok Cinta Pertama
Putri Kecil Ayah sudah Besar
Perempuan dan Pendidikan: Akses, Pilihan, dan Ketimpangan yang Tersisa
Derajat Sama, Beban tak Pernah Setara

Kehilangan Sosok Cinta Pertama

Banyak orang mengatakan bahwa ayah adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan. Bagi saya, itu bukan sekadar ungkapan, melainkan kebenaran yang hidup dalam pengalaman. Ayah adalah sosok pertama yang membuat saya merasa aman, tempat pertama untuk bersandar, dan orang yang selalu hadir tanpa perlu kita minta. Dalam caranya yang sederhana, ayah menunjukkan bagaimana cinta seharusnya…

Baca Lengkapnya

Putri Kecil Ayah sudah Besar

Ayah selalu ada di garda terdepan dalam membela, melindungi, dan rela mengerahkan segalanya bagi putri kecilnya. Cinta tanpa syarat yang dia berikan kepada putrinya seolah lentera kecil yang meneranginya di kala lelah seharian bekerja. Lahirnya anak perempuan pertama dalam kehidupannya memberikan warna baru dalam dunianya. Kebahagiaan, tanggung jawab yang besar, dan ketentraman hati sebagai seorang…

Baca Lengkapnya

Perempuan dan Pendidikan: Akses, Pilihan, dan Ketimpangan yang Tersisa

Pendidikan kerap kita pahami sebagai ruang yang terbuka dan netral, seolah setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengaksesnya. Namun bagi banyak perempuan, perjalanan menempuh pendidikan tidak sesederhana itu. Ada berbagai pertimbangan sosial, budaya, dan ekonomi yang membuat proses belajar harus kita (perempuan) lalui dengan tantangan yang berbeda daripada laki-laki. Dalam sejumlah keluarga, pendidikan perempuan…

Baca Lengkapnya

Derajat Sama, Beban tak Pernah Setara

Sejak kecil, banyak perempuan sudah akrab dengan kalimat, “perempuan itu tempatnya di dapur”. Kalimat tersebut terulang-ulang seolah menjadi hukum alam. Ironisnya, ketika perempuan itu tumbuh dewasa, pertanyaan yang datang justru berubah “sudah kerja belum?”. Di sisnilah letak kontradiksi sosial yang sering luput kita sadari. Perempuan mendapat kewajiban masuk dapur, pun tertuntut bekerja. Sementara laki-laki, sejak…

Baca Lengkapnya

Jika Takdir Mengizinkan Kita Bertemu Kembali

Ada hari-hari ketika aku terlihat baik-baik saja. Aku menjalani hidup seperti perempuan lain tersenyum, bercanda, dan sibuk dengan urusan dunia. Namun, hanya aku yang tahu betapa sering hatiku diam-diam menyebut namamu. Bukan dengan suara, bukan pula dengan tulisan, melainkan dengan perasaan yang menekan pelan tapi terus-menerus, seperti ombak kecil yang tak pernah berhenti menghantam pantai….

Baca Lengkapnya

Membedah Kata “Nyambung” dalam Perspektif Gender

Tulisan ini lahir dari sebuah keresahan kecil yang muncul justru di tengah suasana liburan akhir bulan lalu. Momen tersebut terjadi dalam beberapa perbincangan santai bersama sejumlah rekan perempuan di Surakarta. Penulis berulang kali memancing perdebatan dalam banyak sudut pandang relasional cinta, hingga kemudian lahir anggapan dari sudut pandang perempuan. Bahwa kemampuan nyambung atau tidaknya seorang…

Baca Lengkapnya

Membentengi Remaja dari Radikalisme melalui Nilai-nilai Moderasi Beragama

Di zaman sekarang menjadi remaja rasanya mudah terbawa arus zaman. Informasi datang dari mana saja misalnya TikTok, Instagram, YouTube, sampai pesan WhatsaApp yang isinya kadang lebih menakutkan dari berita aslinya. Belum lagi, banyak konten yang membicarakan agama tapi bahasanya meledak-ledak, seakan hanya mereka yang paling paham kebenaran. Dari sinilah radikalisme dan ekstremisme bisa masuk pelan-pelan…

Baca Lengkapnya

Broken Strings: saat Senar Hidup tak Lagi Sempurna, tapi Tetap Bersuara

Ada luka yang tak berdarah, tapi sakitnya lebih awet daripada bekas sayatan di kulit. Luka itu sembunyi di ingatan, tumbuh lewat rasa takut yang terpendam, dan sering kali tertutup oleh diam yang orang lain kira sebagai ketegaran. Lewat memoar Broken Strings (2025), Aurelie Moeremans mencoba bicara. Bukan dengan teriakan, tapi dengan suara yang lirih, jujur, dan…

Baca Lengkapnya

Naik Kelas bersama Isra Mikraj: Saat Perempuan Berani Berubah, Berbenah, dan Menggerakkan Keadilan

Isra Mikraj bukan sekadar kisah perjalanan Rasulullah saw. menembus langit. Melainkan peristiwa spiritual yang mengubah cara manusia memandang hidup, iman, dan tanggung jawab sosial. Dari peristiwa inilah salat turun bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai latihan kesadaran, disiplin jiwa, dan keberpihakan pada nilai keadilan. Dalam konteks kehidupan hari ini, Isra Mikraj adalah undangan untuk naik…

Baca Lengkapnya