Menggugat Stigma “Hanya” Ibu Rumah Tangga

Pertanyaan mengenai rencana pasca-kelulusan sering kali menjadi beban psikologis bagi banyak mahasiswa. Muncul ketakutan tersirat bahwa memilih peran sebagai ibu rumah tangga berarti menyia-nyiakan seluruh jerih payah menuntut ilmu di universitas. Kita tentu tidak asing dengan sinisme komunal yang sering terdengar di masyarakat, seperti, “Sekolah tinggi-tinggi kok ujung-ujungnya cuma ke dapur.” Penggunaan kata “hanya” di…

Baca Lengkapnya

Tekanan Sosial Melanjutkan Impian Pendidikan

“Masa depan perempuan itu sudah pasti di dapur. Mau berpendidikan atau tidak ujungnya tetap sama. Jadi, buat apa melanjutkan pendidikan?” begitulah kalimat yang sering masyarakat penganut budaya patriarki lontarkan. Lagi-lagi perempuan berhadapan dengan tekanan sosial yang merendahkan martabatnya. Bukankah pendidikan merupakan hak bagi setiap insan tanpa memandang jenis kelamin?Perempuan juga memiliki cita-cita, keinginan untuk berkembang, serta harapan untuk…

Baca Lengkapnya

Peran Orang Tua Menanamkan Sifat Kejujuran pada Anak

Kejujuran merupakan salah satu sifat yang harus orang tua tanam, kembangkan, serta latih sejak dini kepada anak. Kejujuran dapat menjadi tolok ukur seseorang dapat kita percaya dalam perkataan, tindakan, dan perilaku. Dengan menanamkan sifat jujur sejak dini, tentu akan sangat banyak sekali manfaat dalam kehidupan sehari-hari dan berdampak positif bagi anak. Sifat jujur merupakan modal…

Baca Lengkapnya

Kekerasan Seksual di Ruang Agama: Relasi Kuasa, Manipulasi Doktrin Agama, dan Silence Culture

Jagad media sedang heboh dengan masifnya perilaku bejat berupa kekerasan seksual oleh oknum kiai. Pasalnya, pesantren yang seharusnya menjadi ruang aman bagi santriwati justru menjadi tempat terjadinya perilaku yang keji dan menjijikkan. Kiai yang merupakan figur agama juga menciptakan stigma buruk yang berdampak pada banyak hal. Di antaranya menjadikan masyarakat skeptis terhadap lingkungan pesantren bahkan…

Baca Lengkapnya

Penempatan Laki-Laki di Gerbong Depan: Bukan Solusi, Melainkan Tumbal

Peristiwa kecelakaan kereta api di Bekasi pada Rabu 29 April 2026 menimbulkan 106 korban. Di antaranya 16 orang meninggal dan 90 orang luka-luka. Kepanikan publik kembali membuka perdebatan mengenai keselamatan penumpang transportasi umum di Indonesia. Di tengah duka dan evaluasi yang seharusnya berfokus pada perbaikan sistemnya keamanan transportasi kereta api, muncul pernyataan dari Menteri Pemberdayaan…

Baca Lengkapnya

Menggugat Predator Akademik: Alarm Keras dari UIN Raden Mas Said Surakarta

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia kembali terkejutkan oleh kabar kelam yang mencoreng institusi akademik berbasis moral dan agama. Mutakhir, media sosial heboh oleh unggahan yang mengungkap dugaan pelecehan seksual seorang oknum dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta. Kasus ini mencuat setelah seorang alumni berinisial P berani menyuarakan pengalaman pahitnya ke ruang…

Baca Lengkapnya

Ibu: Ruang Belajar Pertama Membentuk Masa Depan Anak

Pendidikan sering kali terpahami sebagai proses belajar yang berlangsung di sekolah, lengkap dengan guru, buku, dan ruang kelas. Padahal, sebelum seorang anak mengenal huruf, angka, maupun pelajaran lainnya, ia terlebih dahulu belajar dari rumah. Dalam proses itulah ibu hadir sebagai ruang belajar pertama bagi anak. Dari pengajarannya, anak mengenal kasih sayang, bahasa, sikap, hingga nilai-nilai…

Baca Lengkapnya

Menandaskan Keberanian dan Kemandirian dalam Diri Perempuan

Sempat saya baca salah satu artikel berjudul “Daya Juang Perempuan dalam Skala Sosial Budaya” karya Aulia Normalita yang terbit di laman nisa.co.id ini. Dalam tulisan tersebut, Aulia menyuratkan salah satu narasi tentang perjuangan perempuan yang harus ada dalam diri mereka agar rasa percaya muncul dalam kelindan manifesto perjuangannya. Saya tidak bertujuan untuk menggugat narasi yang…

Baca Lengkapnya

Menjadi Biasa Saja adalah Bentuk Perlawanan 

Dunia hari ini terlihat sebagai pasar raksasa yang tidak pernah tidur. Era saat informasi mengalir jauh lebih cepat daripada kemampuan otak manusia untuk memprosesnya. Kemudian kita tertuntut menjadi seorang pelari maraton yang tidak akan pernah mencapai sebuah garis finis. Di kantong kita, ada mesin kecil bernama ponsel yang setiap detiknya terus melakukan perlawanan terhadap sisi…

Baca Lengkapnya