Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) selalu ramai netizen bincangkan mulai di tempat perkopian sampai media sosial. Progam ini awalnya mempunyai tujuan mulia yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi. Namun, kini menimbulkan insiden, ratusan siswa keracunan sebab melahap MBG. Sopir mobil SPPG mulai ugal-ugalan, nyawa rakyat terancam, sehingga banyak masyarakat menginginkan program ini berhenti lewat slogan “STOP MBG”.
Anggaran program MBG mendapatkan anggaran terbesar daripada lembaga lainnya. Sejauh ini anggaran MBG sebesar Rp1,2 triliun perhari termasuk anggaran bahan makan, insentif dapur, dan penyaluran. Pada tahun 2026 Badan Gizi Nasional (BGN) menetapkan anggarannya senilai Rp268 triliun. Tentunya dengan anggaran sebesar ini masyarakat menginginkan output yang memuasakan.
BGN kini membeli 21.800 unit motor listrik supaya dapat mengakses daerah terpencil yang hanya bisa terlewati motor. Tambah heboh, BGN juga ingin membeli kaos kaki sebanyak 17.000 pasang senilai Rp6,9 miliar dan pengadaan sekitar 5.000 unit laptop. Hal ini memunculkan polemik antara pegawai satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dengan rakyat jelata.
Kenyataan Berbicara
Memang salah satu alokasi program ini untuk sekolah, tapi entah kenapa yang sekolah terima kadang berkualitas buruk, tidak layak kita konsumsi. Kenyataan tersebut bukan omong kosong, berbagai platfom di media sosial memberi bukti. Wali murid menangis karena hidangan MBG tak layak makan, hingga mubazir tersisa tak termakan. Tentunya jika MBG ini pemerintah biarkan begitu saja akan banyak anak yang membuang makanan, sehingga kemungkina kerugian ekonomi juga akan berdampak.
Pada bulan Ramdahan semua umat muslim wajib beribadah puasa, terkecuali beberapa kondisi. Pada waktu bersamaan terdapat fenomena di luar dugaan, program MBG maksa tetap berjalan. Tujuannya MBG akan anak makan ketika sudah berbuka puasa. Ironisnya pemberian MBG itu ketika para siswa masih dalam jam pelajaran (siang hari). Perbuatan ini membuka peluang kepada siswa untuk tidak melakukan puasa, karena sudah mendapat makanan pada jam yang salah.
Batu Uji Maqashid Syariah
Jika kita lihat dari berbagai kontroversial mengenai perjalanan program MBG ini pastinya bertentangan dengan konsep maqashid syariah. Pertama, hifzh al-din (menjaga agama). Pelaksanaan MBG ini bukan sekedar memberi makanan, melainkan bagaiamana seluruh komponen itu menjaga amanah.
Agama Islam mengajarkan sifat amanah, jujur, dan memberi manfaat kepada orang lain. Namun, realita sudah menjawab bahwa program MBG ini sudah jauh dari harapan semua orang. Keracunan, pengelolaan anggaran, sudah menciderai terhadap hifz al-din. Sebab agama bukan menilai dari tujuannya saja, tetapi juga cara yang bersih, amanah, dan adil terhadap semua umat.
Kedua, hifzh al-nasl (menjaga jiwa). MBG sudah mempunyai tujuan positif dan kuat. Namun, berbagai kasus keracunan karena makan MBG ini justru menjadi ancaman terhadap kejiwaan anak. Musabab program ini sudah menyakitkan banyak jiwa dan memunculkan bahaya, maka perlu terbenahi supaya tidak bertentangan dengan hifzh al nasl.
Ketiga, hifzh al-mal (menjaga harta). Program MBG menggunakan anggaran paling tinggi, dampaknya efisesi di mana-mana. Nasi menjadi makan pokok di negara Indonesia, tetapi kadang terbuang secara percuma. Pembelian sepeda listrik, dan kaos kaki, seharusnya tidak terlalu urgensi. Namun, hal itu seolah-olah menjadi kepentingan yang mendesak, efeknya kerugian ekonomi semakin tinggi. Perbuatan tersebut menjadi suatu pemborosan, maka tidak selaras dengan hifz al mal.
Dari Rakyat untuk Mereka
Program ini memang sudah jalan, tapi imbasnya ke kenaikan pajak, pemangkasan anggaran pendidikan dan inflasi. Di sisi lain anggaran untuk program ini justru membengkak, padahal tidak seluruh rakyat ikut merasakan manfaatnya. Dari dampak itu, wajar saja jika masyarakat mempertanyakan apakah ini termasuk pemborosan pemerintah atau skema yang terselubung di baliknya?
Jika kita lihat dari anggaran serta kebutuhan bisa terbilang program MBG ini termasuk pemborosan. Logikanya jika isi dompet tipis, jangan membeli di atas kebutuhan kalau tidak menginginkan beban. Apalagi barangnya belum tentu sampai di tangan yang membutuhkan.
Tujuan dari program ini tetap mulia, sehingga mampu menghipnotis masyarakat, walupun kenyataan lapangannya jauh dari sasaran. Program ini ditujukan kepada anak-anak yang rentan gizi, kenyataannya mereka mengalami keracunan. katanya dari rakyak, oleh rakyat, dan untuk rakyat, realitanya nyusahin nyusahin rakyat dari segala sektor.
Program MBG bukan lagi program unutk pemenuhan gizi anak secara murni. Melainkan menjadi proyek para raksasa, dan mitra bisnisnya, dengan dalih kesejahteraan dan menjalankan program secara masif. MBG ini tidak sepenuhnya salah, tujuannya tetap bagus dan penting, yang menjadi masalah ketika menjalankannya. Jika pelaksanaanya belum murni dan masih jauh dari sasaran, maka wajar saja kalau publik mempertanyakannya.
Rakyat membutuhkan transparansi dari pemerintah, supaya tidak menjadi kejanggalan dan merasakan manfaatnya secara luas. Negara perlu menyatakan dengan jujur apakah MBG ini sudah berjalan semstinya, atau perlu adanya evaluasi secara total? Karena jika dibiarkan begitu saja, yang dipertaruhkan bukan hanya harta, tetapi kepercayaan publi. Sebaik apapun programnya, jika kepercayaan publik telah pudar maka program tersebut tidak ada maknanya.[]

