“Perempuan sekolah tinggi ngapain? Ujung-ujungnya juga di dapur.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar kuno, tetapi faktanya masih sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Ada yang mengucapkannya sebagai candaan, ada pula yang benar-benar meyakininya. Di balik kalimat tersebut, sebagian masyarakat menganggap pendidikan tinggi lebih penting bagi laki-laki, sedangkan perempuan pada akhirnya hanya akan menjalankan peran domestik sebagai istri dan ibu rumah tangga.
Pandangan semacam ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih melihat perempuan melalui kacamata stereotip gender. Mereka menganggap perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi karena masa depannya seolah sudah mereka tentukan sejak awal. Padahal, pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, melainkan sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas hidup seseorang.
Salah satu alasan yang sering digunakan untuk meremehkan pendidikan perempuan adalah anggapan bahwa perempuan nantinya akan menikah dan mengurus rumah tangga. Karena itu, banyak orang menganggap pendidikan tinggi tidak terlalu penting bagi mereka. Cara berpikir seperti ini sebenarnya terlalu menyederhanakan makna pendidikan. Jika tujuan sekolah hanya untuk mendapatkan pekerjaan, mengapa semua orang menempuh pendidikan sejak kecil?
Pendidikan Tak Hanya untuk Pekerjaan
Pendidikan memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Melalui pendidikan, seseorang belajar berpikir kritis, mengambil keputusan, memahami lingkungan sosial, dan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Perempuan yang berpendidikan tidak hanya membawa manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat. Mereka dapat memanfaatkan pengetahuan mereka untuk mendidik anak, mengelola keuangan keluarga, mengambil keputusan yang tepat, hingga berpartisipasi dalam pembangunan sosial.
Pandangan bahwa perempuan akhirnya “hanya di dapur” juga perlu dikaji kembali. Mengurus rumah tangga bukanlah pekerjaan yang rendah atau tidak penting. Justru rumah tangga merupakan fondasi utama dalam kehidupan sosial. Masalahnya bukan terletak pada aktivitas di dapur atau peran sebagai ibu rumah tangga, melainkan pada anggapan bahwa peran tersebut membuat pendidikan menjadi tidak berguna. Banyak orang menganggap perempuan yang memilih fokkus pada keluarga tidak membutuhkan pengetahuan dan wawasan luas.
Padahal, ibu yang berpendidikan memiliki peran besar dalam perkembangan anak. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan keluarga. Dengan kata lain, pendidikan perempuan tetap memiliki manfaat, baik ketika mereka berkarier maupun ketika memilih fokus pada keluarga.
Hak Memilih Masa Depan
Setiap orang memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Ada perempuan yang memilih menjadi dosen, dokter, pengusaha, peneliti, atau pemimpin organisasi. Ada pula yang memilih menjadi ibu rumah tangga, bertungkus-lumus dengan dapur. Masyarakat perlu menghargai kedua pilihan tersebut secara setara. Persoalan muncul ketika masyarakat membatasi pilihan perempuan sejak awal melalui anggapan bahwa mereka tidak memerlukan pendidikan tinggi. Padahal, pendidikan justru membuka lebih banyak kesempatan dan pilihan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak peluang yang terbuka di hadapannya.
Tidak ada yang dapat memprediksi masa depan seseorang. Perempuan yang saat ini menempuh pendidikan tinggi mungkin suatu hari menjadi ilmuwan, guru, pemimpin perusahaan, atau bahkan tokoh yang membawa perubahan bagi masyarakat. Ketika masyarakat membatasi akses pendidikan berdasarkan gender, mereka juga menghambat potensi besar perempuan.
Di era yang semakin maju, pendidikan seharusnya dipandang sebagai hak setiap individu tanpa memandang jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kemampuan untuk belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Kalimat “perempuan sekolah tinggi ngapain?” mungkin terdengar sederhana, tetapi di baliknya terdapat cara pandang yang dapat menghambat kemajuan. Ketika masyarakat memberikan kesempatan yang sama kepada perempuan untuk memperoleh pendidikan, perempuan tidak hanya merasakan manfaatnya secara pribadi, tetapi keluarga, masyarakat, dan bangsa juga ikut merasakan dampak positifnya.
Anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena pada akhirnya akan berada di dapur sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Pendidikan bukan hanya tentang pekerjaan, melainkan tentang pengembangan diri, peningkatan kualitas hidup, dan kemampuan berkontribusi bagi masyarakat. Jika pada akhirnya seorang perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga, ia tetap dapat memanfaatkan pendidikannya dalam berbagai aspek kehidupan.
Sebaliknya, pendidikan tetap menjadi bekal berharga untuk menjalankan berbagai peran dalam keluarga maupun masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu menentukan jalan hidup perempuan. Yang perlu diperjuangkan adalah memberikan kesempatan yang sama agar setiap perempuan dapat memilih jalan hidupnya sendiri sesuai dengan kemampuan, cita-cita, dan keinginannya.[]

