Malam menurunkan tirai gelapnya, memeluk kota yang lelah dan menenangkan hiruk-pikuk siang. Di antara detak jam yang pelan dan napas rumah yang hampir terhenti terbentang pada satu ruang yang berbeda. Mungkin bagi sebagian perempuan membutuhkan ruang yang tidak hanya sunyi namun jua memberi obat untuk jiwa.
Aku terbangun dalam tidur yang tak lelap, mimpi buruk, pikiran bertumpuk dan bahkan membuat raga seolah tak berhenti bekerja. Lantas menghela, selagi berjalan mengambil air wudu. Salat Tahajud, bukan sekadar ritual ibadah yang mengulang gerakan dan bacaan. Ia menjadi penyampai pesan antara jiwa yang rapuh dan Sang Pencipta tempat di mana luka-luka batin ditenangkan dan harapan dapat disulam kembali.
Malam datang seperti tirai lembut yang menurunkan hari. Saat keramaian mereda dan lampu-lampu berangsur padam, dunia mendapat ruang untuk bernafas. Kebisingan kota, tuntutan pekerjaan jarak jauh, dan kebiasaan layar sampai larut kerap mengganggu siklus malam. Selain itu, bagi mereka yang mengalami kecemasan atau trauma, malam bisa menjadi waktu ketika pikiran mengulang luka.
***
Dalam keheningan malam, aku ingin menarik napas untuk menengok kembali siapa diriku di hadapan-Nya, bukan semata perempuan yang hanya melakukan perintah-Nya tetapi hamba yang dicintai, yang boleh memohon, mengadu, dan berharap. Aku tidak kuasa menahan tangis, kesunyian malam yang ku dambakan merenggut segala emosi yang selama ini kupendam erat dalam-dalam.
Doa-doa yang ku lantunkan dalam kesendirian memberiku ruang pengakuan dosa, permohonan ampun, dan penyerahan diri yang mendalam. Isak tangisku tidak tertahan, aku tersandar dalam sujudku yang pilu. Kuserahkan segala-galanya pada-Nya, seperti saat aku merasakan indahnya nikmat dunia.
Salat malam kujadikan ritual yang memberi kontrol kembali atas diriku, sebuah wadah tempatku kembali, waktu di mana mereka memilih untuk berhenti, hadir dan aku ingin merawat batinku sendiri. Betapa aku tertunduk atas segala dosaku yang kuperbuat, betapa aku meratap pada ujian dan musibah yang selalu ku keluhkan, dan berkali-kali ku tak sempat mengucap syukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Allahu Rabbi …
Terkadang aku terdiam, apakah pantas aku meminta, lagi? Dan lagi? Sedangkan ibadahku di dunia masih sering ku tunda.
***
Perempuan dengan segala overthinking-nya, keheningan malam kuharapkan dapat memberikan refleksi diri yang jernih. Di siang hari, tanggung jawab menuntut tindakan cepat dan keputusan instan, sedangkan malam memberiku jarak untuk menimbang pengalaman, mengkaji niat, dan menyusun tujuan hidup yang lebih tertata. Perempuan, yang sering harus menyesuaikan kebutuhan orang lain, menemukan dalam tahajud kesempatan untuk mengevaluasi prioritasnya antara tuntutan eksternal dan suara batin yang sering terbendung.
Aku harap kejernihan ini bukan sisi keegoisanku namun sebaliknya, ia memperkuat kapasitas merawat orang lain, karena seseorang yang batinnya sehat mampu memberi lebih penuh energi. Emosiku gugur seketika dalam tangisku, ragaku mulai menemukan ketenangan hati. Aku merintih tangis sepanjang malam dan ajaibnya, aku bisa tertidur di atas sajadah dengan sangat pulas sampai fajar datang. Sungguh kuasa Allah yang Mahaagung.
Katanya salat malam adalah pelarian dari realitas atau solusi terhadap masalah yang menimpa perempuan seperti ketidakadilan, kekerasan, atau beban ekonomi. Menurutku ini akan valid bila salat malam terpahami sebagai realita perempuan menyampaikan pesan pada Sang Pencipta. Namun bisa terbaca bersamaan sebagai sumber kekuatan batin yang mendorong tindakan salat malam malahan memperkuat batin, diri dan raga.
Perempuan yang menemukan ketenangan dan keberanian lewat ibadah malam kerap menjadi agen perubahan yang lebih tahan banting, lebih berwibawa dalam memperjuangkan haknya dan hak orang lain. Bukan berati perempuan itu lemah ya,. Kesendirian perempuan seringkali tersalahartikan, nyatanya perempuan membutuhkan ruang untuk menyampaikan luka, duka, suka cita, dan berbagai perasaan yang menghantuinya.
***
Akhirnya, keheningan malam itu menyembuhkanku karena ia menyatukan sesuatu yang hilang atau bahkan terpecah dari pengalaman spiritualitas dan materialitas, kelembutan dan keberanian, individualitas dan komunitas. Di saat dunia menuntut penampilan sempurna, malam memberi izin untuk hancur sebentar dan untuk merapuh agar kemudian pulih. Dalam sujud dan doa, perempuan memulihkan hubungan dengan diri sendiri dan dengan Sang Pencipta dan dari sana tumbuh energi untuk menyongsong hari dengan jiwa tempur yang lebih besar. Memberi energi dan sumber waras yang hampir kehabisan isi.
Keheningan malam bukan pelarian ia adalah laboratorium batin, tempat penyembuhan berlangsung secara bertahap namun nyata. Bagi perempuan, praktik sholat malam menjadi saksi bisu proses yang meneguhkan kembali bahwa setiap kali mereka bangun untuk berdoa di tengah gelap, mereka tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga menemukan kembali keberanian untuk hidup.
Perjuangan yang terus akan melaju, entah lambat atau pesat, namun kuharapkan doa-doa yang kupanjatkan menjadi topangan kuat untukku berlari menuju keajaiban. Keheningan malam, dengan segala kesederhanaannya, menawarkan obat yang lama. Kesempatan untuk turun dari kapal hiruk-pikuk dan memperbaiki layar yang robek. Jika kita menjadikannya bagian dari kebiasaan hidup, maka malam bukan hanya penutup hari, melainkan perawat yang setia membawa kita kembali utuh ke pagi yang baru.[]

