Patriarki dan Peran Domestik

Sumber Gambar: persfe.com

Membahas mengenai patriarki tak pernah lelah untuk terbicarakan dari waktu ke waktu sejak dulu. Praktik budaya yang mengakar kuat dalam suatu masyarakat yang terakibatkan oleh cara pandang terhadap peran antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki bertempat sebagai pihak dominasi kekuasaan terhadap perempuan dalam suatu kelompok sosial. Sedangkan pihak perempuan selalu menjadi kaum yang tidak terbiarkan menyuarakan pilihannya. Pada akhirnya, posisi kaum perempuan berubah sebagai objek yang tersalahkan ketika muncul sebuah masalah. Dampaknya urusan berkaitan tanggung jawab rumah tangga ikut tergeser.

Sebelum dewasa, sebagian perempuan pernah mengenal berbagai bumbu dapur lalu merangkai racikan dan mendapat pelajaran mengenai teknik memasak oleh ibu. Mereka juga mendapat pemahaman istilah “rajin” lewat membantu mengurus rumah dengan menyapu, mengepel, mencuci piring dan baju, memasak, menata tempat tidur, dan masih banyak lagi. Menyebutkan semuanya satu persatu mungkin tak ada habisnya.

Namun, hal ini bukannya mengarah pada suatu bagian yang positif justru sering kita salahartikan untuk melihat kelayakan perempuan sebelum menikah, bagaimana mereka nanti melayani suaminya. Berbanding terbalik bagi anak laki-laki yang termaklumi jika mereka sekalipun tak membantu. Mereka memiliki pandangan, wajar karena mereka laki-laki kelak bukan berakhir di dapur atau mengurus rumah.

Keberadaan Peran

Pekerjaan mencuci, memasak, mengepel, dan bersih-bersih, ketika terlintas di pikiran banyak orang pasti akan teringat dengan perempuan. Peran yang terlalu melekat sehingga apabila laki-laki yang melakukannya akan terlihat tak lazim. Terlebih saat mereka benar-benar secara terus-menerus melakukannya, pihak perempuan akan tercari keberadaan perannya dalam rumah tangga. Apakah selama ini perempuan tersebut hanya malas-malasan? Ataukah masih di balik selimut sehingga laki-laki tersebut yang melakukannya?

Pertanyaan tadi akan selalu ada meskipun perempuan telah melakukan sebagian besar pekerjaan dan rehatnya yang selalu orang permasalahkan. Selain itu, perkara seperti nasi habis, rumah berantakan, barang-barang tak ada yang menata, pihak perempuan pasti lebih dulu terkena sasaran kecaman daripada laki-laki. Seolah-olah pihak perempuan hanya berdiam diri, nyatanya tidak begitu. 

Baca Lainya  Fesyen Mahasiswa: Gaya Mereduksi Kenyamanan

Saat laki-laki turut mengerjakan urusan domestik, istilah “baik” atau “membantu” terdengar sebagai apresiasi. Lain halnya perempuan, pekerjaan tersebut sebatas harus mereka jalankan sebab “wajib” yang harus terlaksanakan, bukan mengharapkan penghargaan. Pihak perempuan tak pernah mendapat penghargaan terkait hal-hal yang pernah mereka kerjakan.

Anggapan laki-laki yang mencari nafkah sementara perempuan mengurus rumah. Padahal urusan domestik tanggung jawab bersama, saling membagi peran di setiap pekerjaan. Laki-laki tidak masalah jika mengerjakan tugas menyapu atau mengepel. Perempuan bisa mengerjakan pekerjaan lain saat pekerjaan tersebut telah terpenuhi. 

Praktik Turun-temurun

Praktik patriarki sayangnya bisa terjadi secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Penyebabnya tidak hanya dari segi budaya tapi berasal dari berbagai keadaan yang mereka lihat dan pelajari dari lingkungannya. Mereka memperhatikan sikap yang terjadi berulang-ulang keluarga mereka, setelahnya mengikuti pola yang teranggap normal tersebut.

Sikap ini pun menguat saat kondisi di sekitarnya mengulangi pola yang sama sampai teranggap memang begitulah tindakannya. Bahkan, akibat dari pengalaman-pengalaman hidup orang lain dalam menjalankan urusan rumah tangga bersamaan mengenakan praktik tersebut yang menurut mereka berhasil menjaga rumah tangganya, sistem itu terus bekerja. 

Larangan semacam perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi karena kehidupan penghujungnya berada di dapur, mengurus rumah, dan mengasuh anak, alhasil aksi ini mengarah pada diskriminasi. Diskriminasi ini bukan hanya terjadi pada perempuan akan tetapi juga laki-laki. Laki-laki tak boleh menangis agar terlihat kuat padahal mereka memiliki perasaan sedih sebagaimana manusia pada umumnya. Tekanan sosial kemudian muncul berimbas pada ekspektasi gender. Alasan mengapa isu patriarki selalu menjadi pembahasan.

Praktik patriarki sebetulnya dapat tercegah dalam pendidikan keluarga sejak kecil. Mereka bisa mengajarkan tanggung jawab bersama di rumah, pengajaran empati, dan keterampilan mengurus rumah yang sama, apalagi kecakapan memasak. Pihak laki-laki maupun perempuan saling melayani lewat sajian hangat makanan. Ini akan menambah keharmonisan dalam rumah tangga bahwa sebenarnya kasih sayang tak selalu lewat tindakan tapi bisa lewat sebuah masakan.

Baca Lainya  Pernikahan Dini: Bukan Solusi Ekonomi, Pemicu KDRT, dan Perceraian

Peran urusan domestik harus kita bicarakan dengan saling membagi peran tapi tetap mempertimbangkan kesepakatan bersama. Ketika laki-laki berperan mencari nafkah, pihak perempuan mengurus rumah. Saat pihak laki-laki memiliki waktu luang, diri mereka bisa membantu mengurus rumah dan membantu mengasuh anak, apabila keduanya telah dikaruniai keturunan. 

Melalui penerapan ini, nantinya menuju tujuan memutus praktik patriarki sehingga mencapai kesetaraan gender dan urusan domestik. Diskriminasi akan menghilang. Tekanan sosial mengenai laki-laki harus kuat bahkan tidak boleh menangis akan perlahan berkurang. Praktik budaya patriarki tidak lagi mengakar kuat. Isu mengenai patriarki mungkin tak perlu terbicarakan lagi[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *