Lagu Anak di Tengah Musik Viral

Keberadaan dan popularitas lagu anak-anak mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Berbeda kondisinya pada 20 tahunan silam. Perkembangan serta tingginya peminat di zaman itu, menyebabkan seniman musik khususnya yang berkecimpung pada bidang anak-anak melimpah. Papa T. Bob (Erwanda Lukas) dan A.T. Mahmud (Abdullah Totong Mahmud) adalah contoh dari seniman yang banyak melahirkan lagu anak-anak. Proses penyebaran melalui televisi, radio, koran, maupun dari mulut ke mulut.

Kondisi di atas mencerminkan bagaimana perlakuan industri memperhatikan musik anak-anak. Berlimpahnya seniman yang menekuni lagu anak-anak merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Lain halnya mulai tahun 2000-an industri lagu anak-anak mulai berkurang. Akibatnya, banyak dari mereka yang mengkonsumsi lagu dewasa dan tidak sesuai dengan usianya.

Padahal menurut Rosediana (dalam Ardipl 2015) lagu anak-anak sebaiknya menyelipkan pesan moral atau nasihat, isinya tentang keceriaan tidak tentang emosi destruktif, seperti keluhan, pesimistis, rendah diri, dan bukan mengasihani diri sendiri. Namun, realitanya, anak-anak mendendangkan lagu tanpa mengetahui makna dan tidak menyesuaikan dengan usianya.

Kognitif terhadap Anak

Bisa memperhatikan usia mulai balita hingga anak-anak banyak dari mereka mengkonsumsi lagu bertema percintaan, kekecewaan, dan lagu remaja serta dewasa. Hal ini sangat miris karena dapat berpengaruh terhadap perkembangan otak anak. Berdasarkan laman Universitas Negeri Surabaya, musik dapat membantu perkembangan kognitif anak. Misalnya, meningkatnya daya ingat dan konsetrasi dengan bernyanyi secara berulang akan memperkuat memori anak, sebagai sarana pengenalan kosa kata, intonasi, meningkatkan imajinasi, dan koordinasi motorik. Pada usia tersebut perkembangan anak seharusnya memiliki perhatian lebih. Bukan hanya asupan dari makanan saja, tetapi menjaga anak-anak dengan cara memberikan sesuatu yang sesuai dengan jenjangnya.

Walaupun lagu anak-anak tidak hilang sepenuhnya, tetapi popularitasnya semakin menurun. Kondisi ini merupakan pengaruh dari perkembangan media digital dan kurangnya pengawasan dari orang tua. Penyebaran konten di media sosial mudah sekali bagi balita maupun anak-anak menangkap konten tersebut. Misalnya dalam aplikasi TikTok berbagai genre lagu dari anak-anak, pop, religi, jedag-jedug (jj), percintaan, dan sebagainya. Kebanyakan dari mereka menyanyikan lagu yang sedang viral dan sesuai dengan algoritma. Padahal lagu tersebut seringkali tidak mengandung moral atau nilai-nilai, yang seharusnya menjadi asupan bagi generasi muda.

Baca Lainya  Menentang Stereotipe Perempuan Berhijab

Anak-anak kerap kali merasa cuek dengan tindakan yang mereka kerjakan dan gampang terbawa arus. Misalnya, saat temannya membeli es krim maka akan timbul di benaknya untuk membeli supaya dapat merasakan apa yang temannya nikmati. Sama halnya yang terjadi pada dunia musik di kacamata anak-anak. Saat ini viral lagu MBG Mas Bahlil Ganteng di mana-mana terdengar orang yang menyanyi atau sengaja memutar sound . Dari banyaknya orang yang mengetahui lagu tersebut salah satunya adalah anak-anak. Mereka turut bernyanyi, ada yang tahu lewat teman, internet, ataupun tertarik karena melodinya yang ceria.

Genre Musik Saat Ini

Anak-anak sering menyanyikan lagu yang sedang viral karena memiliki ciri liriknya unik, melodinya yang ceria atau tidak membosankan, dan banyak pengulangan. Di posisi lain terdapat lagu kicau mania dan malu-malu. Keduanya merupakan genre musik yang kembali populer saat Covid-19, banyak orang mengenal dengan istilah jedag jedug (jj). Genre musik ini mudah sekali viral jika tempo dan melodinya asik didengar serta beat-nya menyatu.

Oleh sebab itu, di kalangan anak-anak pun genre musik ini ramai digandrungi. Namun, dengan keunggulan dan ciri khasnya anak-anak kurang cocok mengkonsumsi lagu tersebut. karena lirik yang memuat kosa kata yang kurang baik dan nilai-nilai penting dalam kehidupan terkadang tidak ada. Akibatnya anak-anak yang terpapar dengan hal tersebut perkembangan kognitifnya dapat terhambat.

Genre lagu atau musik yang tidak sesuai untuk anak-anak, tetapi malah banyak yang menikmati mempunyai beberapa latar belakang. Media sosial membuka ruang bagi siapa saja dapat mengakses dengan mudah. Tren merupakan salah satu alasan mengapa lagu cepat sekali mengalami perkembangan. Terkadang agar dapat mengikuti tren, seseorang akan menghafalkan lirik terlebih dahulu. Begitu pun yang dilakukan anak-anak, memilliki sifat mudah terbawa arus tanpa sengaja melakukan tindakan tersebut. Mereka menggunakan musik atau lagu sebagai media hiburan semata tanpa menyaring dan menyesuaikan konten yang ada di dalamnya.

Baca Lainya  Menggugat Stigma “Ujungnya Cuma ke Dapur”

Tanggung Jawab Orang Tua dan Lingkungan

Orang tua memiliki peran penting dalam memilih, mendampingi, dan memenuhi kebutuhan anak, termasuk dalam memilih musik yang sesuai. Anak-anak tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena pada usia tersebut mereka belum memahami pentingnya musik bagi perkembangan diri.

Oleh karena itu, orang tua perlu mengenalkan lagu-lagu edukatif, memberikan tontonan yang sesuai usia, serta membatasi penggunaan media sosial. Selain keluarga, lingkungan sekolah juga berperan dalam pembentukan karakter. Melalui pembelajaran, pentas seni, dan berbagai kegiatan lainnya, pendidik dapat menumbuhkan minat peserta didik terhadap lagu yang mengandung nilai edukatif.

Perkembangan musik saat ini menunjukkan kemajuan yang pesat, tetapi banyak lagu lebih mengutamakan hiburan daripada edukasi. Kondisi ini dapat memengaruhi minat anak terhadap lagu yang sesuai usianya. Karena itu, orang tua, sekolah, dan lingkungan perlu bekerja sama agar anak tumbuh sesuai tahap perkembangannya. Eksistensi musik anak-anak merupakan tanggung jawab bersama agar kembali diminati dan memberi manfaat bagi perkembangan kognitif anak.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *