Kita sering kali abai bahwa kata-kata punya bebannya sendiri. Dan tidak semua orang memiliki hati yang cukup lapang untuk menampung lelucon yang salah sasaran itu. Kalau mau jujur, tawa yang membungkus komentar-komentar fisik itu sebenarnya adalah sebuah tindakan penghakiman kecil yang bekerja diam-diam. Mengejek bentuk tubuh orang (body shaming) ini bukan lagi sekadar masalah salah ucap yang selesai begitu saja dengan kata “maaf”.
Namun, itu kebiasaan buruk yang pelan-pelan meruntuhkan kepercayaan diri seseorang dan meninggalkan luka emosional yang awet di kepala korbannya. Masyarakat mungkin masih menganggap urusan demikian sebagai hal yang sepele. Bahkan mereka sering membelanya sebagai candaan renyah atau basa-basi pencair suasana.
Bentuk penilaian ini merupakan represi sosial nyata yang mendorong masyarakat menerima seseorang hanya jika ia memenuhi standar penampilan tertentu. Begitu ada orang berpenampilan sedikit melenceng dari standar mayoritas, komentar miring langsung keluar dengan sangat lancang. Dampak dari omongan yang orang lemparkan sambil lalu ini bisa berujung fatal. Sebab korban lambat laun mulai memercayai omongan tersebut dan memandang diri sendiri dengan rasa tidak puas. Alih-alih mendorong orang untuk hidup lebih sehat, ejekan fisik justru jadi penjara tak kasat mata. Hal itu membuat korban merasa serba salah, cemas, dan minder untuk sekadar keluar rumah.
Penjara Kultur Visual Permukaan
Kebiasaan lingkungan mengkritik dan menghakimi fisik sebenarnya barang lama yang lahir dari cara pandang telanjur keliru tentang tubuh “ideal”. Di ruang pergaulan, tubuh manusia, terutama perempuan, seolah-olah telah menjadi milik bersama. Dengan begitu, siapa saja merasa berhak menilai, mengukur, menimbang, atau mengkritiknya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Kita seperti sedang hidup di tengah masyarakat yang terlalu mendewakan tampilan luar. Ssebuah kultur yang gila hormat pada visual permukaan. Di mana kultur tersebut kerap meringkas nilai manusia dengan kejam hanya sebatas lingkar pinggang, angka di timbangan, atau warna kulit.
Parahnya, hari ini ketika sebagian besar interaksi sosial berpindah ke layar ponsel, celah menghakimi fisik semakin menjadi-jadi tanpa rasa sungkan. Medsos berupa Instagram atau TikTok berubah menjadi panggung raksasa untuk ikut campur mengomentari tubuh orang lain di balik akun anonim. Diperparah oleh standar kecantikan semu dari filter digital yang jelas-jelas tidak mungkin dicapai orang di dunia nyata.
Komentar pedas netizen hari ini seolah-olah siap menggulung siapa saja yang menjadi berbeda atau tampil apa adanya di dunia maya sebagai dosa sosial besar. National Eating Disorders Association (NEDA, 2022) merilis riset yang menunjukkan bahwa sekitar 65% orang yang mengalami gangguan makan menganggap perundungan fisik sebagai pemicu utama runtuhnya kepercayaan diri mereka terhadap citra tubuh.
Memulihkan Nilai Kemanusiaan
“Candaan santai” yang kita lontarkan di meja makan atau ketikan jempol di layar HP punya daya rusak yang luar biasa nyata. Kehilangan rasa percaya diri di tahap ini bukan lagi perkara remeh soal bingung memilih baju saat mau bepergian, melainkan kecemasan akut yang mengancam kesehatan mental; membuat seseorang menarik diri dari pergaulan, malas kuliah, bahkan takut mengambil peluang kerja karena merasa dirinya terlalu buruk untuk tampil di depan publik.
Pada akhirnya, kita harus berani berhenti dan mulai memikirkan ulang kebiasaan buruk yang gemar menjadikan bentuk tubuh orang lain sebagai bahan gosip yang murah atau materi lelucon tongkrongan. Memutus lingkaran setan ini sama sekali tidak membutuhkan aturan hukum yang rumit, melainkan cuma butuh satu hal mendasar: kesadaran paling purba dari dalam isi kepala kita untuk memanusiakan orang lain secara utuh. Kita perlu belajar lagi cara menghargai sesama tanpa harus menyenggol urusan fisiknya, sebab isi kepala, pencapaian hidup, dan kebaikan hati seseorang jelas jauh lebih berharga daripada ukuran pakaian yang mereka pakai.
Tubuh manusia adalah urusan personal masing-masing, bukan ruang publik tempat orang bebas mengomentarinya atas nama perhatian yang salah kaprah atau rasa sayang yang keliru. Sudah saatnya kita mengalihkan energi penghakiman itu ke depan cermin kita sendiri, membenahi cara berpikir kita yang masih dangkal, ketimbang sibuk mengurusi bentuk badan orang lain. Karena pada dasarnya, Pada dasarnya, kita merawat dan menumbuhkan kepercayaan diri generasi yang tangguh bukan dengan memaksa semua orang berpenampilan seragam, melainkan dengan menjaga lidah agar tetap menghargai manusia di balik tubuh tersebut.[]

