Pernahkah kalian menemukan potongan hadis saat sedang scrolling media sosial yang berbunyi kira-kira: “perempuan kekurangan akal”, “Allah menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok”, atau bahkan “kebanyakan penghuni neraka adalah perempuan”. Padahal, kesetaraan gender dalam Islam sangat jelas dari konsep nafs wahidah.
Sebagai sesama perempuan, kita sering merasa dada sesak ketika membaca kutipan itu tanpa konteks. Apalagi jika komentar di bawahnya sudah ramai menyudutkan perempuan. Seolah-olah Islam memang mengajarkan bahwa laki-laki itu lebih unggul, dan perempuan hanya makhluk kedua. Namun, apa benar Islam seperti itu?
Saya juga pernah gelisah, sampai akhirnya menemukan penjelasan para ulama kontemporer seperti Quraish Shihab, Nasaruddin Umar, Faqihuddin Abdul Qodir, hingga Abu Syuqqah. Ternyata, banyak orang selama ini menyebarkan anggapan tentang superioritas laki-laki sebagai “ajaran Islam” dengan memakai potongan teks yang dilepaskan dari konteks sejarah dan sosialnya. Bahkan, Al-Qur’an justru membuka bab pertama relasi laki-laki dan perempuan dengan kalimat yang sangat berbeda: kita berasal dari satu jiwa yang sama.
Fondasi Teologi Kesetaraan Gender Islam
Al-Qur’an surat An-Nisa’ (4): 1 menyatakan: “Hai, sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafsun wahidah (seorang diri) dan dari pada-Nya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Dalam ayat di atas, Allah tidak menceritakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Allah juga tidak menyebut jenis kelamin, kaya, miskin, Arab, maupun non-Arab. Yang ada adalah nafs wahidah, yaitu satu entitas manusia yang tidak berjenis kelamin. Artinya, laki-laki dan perempuan itu awalnya sama-sama berasal dari sumber kemanusiaan yang setara dan ayat itu adalah fondasi dari teologi kesetaraan gender.
Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa Hawa bukanlah makhluk “turunan” Adam dalam arti hierarkis. Dia berasal dari esnsi yang sama dengan Adam. Begitu juga Nasaruddin Umar dalam Argumentasi Kesetaraan Gender mengatakan bahwa nafs memang berjenis feminim dalam bahasa Arab, tetapi itu tidak merujuk pada “perempuan biologis”. Nafs menunjukkan universalitas manusia yang melampaui laki-laki atau perempuan. Jadi, kalau dari awal penciptaan saja sudah setara, lalu darimana datangnya paham bahwa laki-laki lebih mulia?
Takwa Bukan Jenis Kelamin
Jika ada yang bertanya, “Lalu apa yang membuat seseorang lebih mulia di sisi Allah?” Al-Qur’an surat Al-Hujurat (49): 13 menjawab: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Allah tidak menyebut jenis kelamin, kaya, miskin, Arab, maupun non-Arab. Hanya satu ukuran: takwa. Nur Rofiah dari Fatayat Nahdlatul Ulama sering mengingatkan bahwa kita perlu membaca ayat ini dengan perspektif tafsir yang adil. Jangan sampai kita salah menafsirkan hingga merugikan salah satu gender.
Coba bayangkan dala keseharian kita. Pernah lihat ibu-ibu yang sabar merawat anak sakit, sambil tetap salat malam? Atau perempuan yang gigih berjuang menghidupi keluarganya tanpa mengeluh? Itu bentuk takwa yang tidak kalah dengan siapa pun. Jadi, tidak ada alasan untuk merasa lebih mulia hanya karena terlahir sebagai laki-laki. Agama kita sendiri sudah menegaskan itu. Tapi kenapa kita masih sering mendengar narasi sebaliknya?
Perempuan itu Saudara Kandung Laki-laki
Rasulullah saw. bersabda (HR.Abu Dawud & Tirmidzi): “Sesungguhnya, perempuan itu saudara (mitra sejajar) laki-laki.” Kata kuncinya: syaqa’iq, yaitu saudara kandung. Islam juga tidak menempatkan perempuan sebagai pembantu, bawahan, atau makhluk lemah yang harus menerima perlindungan tanpa hak bersuara. Faqihuddin Abdul Qodir dalam bukunya 60 Hadis Shahih menjelaskan bahwa ini sejalan dengan prinsip kesalingan. Hak satu pihak juga menjadi hak pihak lain. Kewajiban laki-laki juga bisa menjadi kewajiban perempuan, tergantung konteks.
Nah, kalau saudara kandung, apa mungkin kita tega merendahkan, mengejek, atau bahkan menyakiti? Hubungan kesetaraan gender dalam Islam itu idealnya seperti dua orang saudara yang saling menjaga. Bukan saling menjatuhkan. Sayangnya, banyak orang justru menenggelamkan makna hadis mulia ini dengan menyebarkan potongan hadis lain yang lebih “viral” tanpa memahami konteksnya.
Selama ratusan tahun, laki-laki mendominasi tafsir Al-Qur’an dan pemahaman hadis. Bukan salah mereka, karena itu memang kondisi sejarahnya. Namun konsekuensinya, sudut pandang perempuan sering absen dalam membaca teks. Para pemikir feminis muslim seperti Amina Wadud (dalam Qur’an and Women) dan Asma Barlas (dalam Believing Women in Islam) mengingatkan bahwa penafsiran yang mengidentikkan nafs wahidah dengan “Adam” saja sudah mengandung bias patriarki. Mereka menunjukkan bahwa Al-Qur’an sebenarnya memiliki semangat anti-patriarki jika kita membacanya dengan hati dan perspektif yang adil.
Mereka juga tidak berusaha mengganti ajaran Islam, melainkan mengajak kita untuk memperluas cara pandang: bagaimana jika perempuan ikut menafsirkan ayat-ayat yang membahas mereka? Pasti ada nuansa pengalaman yang selama ini tertinggal. Di Nisa.co.id, kita sering bilang: agama itu rahmat, bukan beban. Maka tafsir pun seharusnya menghadirkan keadilan, bukan justru melanggengkan diskriminasi.
Mengapa Kesetaraan Gender dalam Islam Sering Disalahpahami?
Pemikir Prancis Simone de Beavoir pernah menulis kalimat yang terkenal: “One is not born, but rather becomes, a woman.” Maksudnya, seseorang tidak otomatis menjadi “perempuan” dalam arti peran sosial tertentu hanya lahir dengan tubuh perempuan. Justru masyarakat dan budaya yang membentuk: perempuan harus lembut, perempuan hanya di dapur, perempuan tidak boleh terlalu pintar.
Menariknya, Al-Qur’an memang tidak memuat banyak stereotip yang selama ini dianggap sebagai “kodrat perempuan”. Misalnya, tidak ada ayat yang mengatakan bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin, atau bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Budaya patriarki yang diwariskan turun-temurun justru lebih banyak membentuk anggapan-anggapan tersebut.
Di Indonesia, kita sering mendengar “perempuan itu malu-maluin kalau kerja sampai malam,” tapi laki-laki tidak masalah. Atau “laki-laki kalau nangis itu cengeng,” padahal Rasulullah sendiri sering menangis. Jadi, hati-hati membedakan antara nilai wahyu dengan kebiasaan sosial ya, teman. Ini pertanyaan besar. Kalau Al-Qur’an dan hadis sudah jelas setara, kenapa praktik kesetaraan gender di masyarakat masih timpang? Jawabannya sederhana tapi menyakitkan: bias dalam penafsiran.
Kita Satu Jiwa, Hanya Berbeda Fisik
Faqihuddin Abdul Qodir menjelaskan bahwa para mufasir klasik hidup di tengah budaya patriarki yang sangat kuat. Wajar jika penafsiran mereka ikut terwarnai zamannya. Sayangnya, generasi setelahnya sering menelan mentah-mentah hasil tafsir tersebut, tanpa mempertimbangkan konteks historisnya. Akibatnya, banyak orang menjadikan potongan hadis yang sebenarnya lahir dari latar belakang sosial tertentu, misalnya hadis tentang perempuan yang “kurang akal” dalam konteks perang dan tanggung jawab kesaksian, sebagai dalil universal untuk merendahkan perempuan.
Makanya, literasi keagamaan yang kontekstual sangat penting. Kita tidak cukup hanya baca terjemahan lalu merasa sudah paham. Kita perlu belajar dari ulama-ulama kontemporer yang sudah membuka jalan tafsir yang lebih adil. Tantangannya sekarang: bagaimana kita membawa pemahaman ini ke ruang keluarga, ke majelis taklim, dan ke percakapan sehari-hari?
Sampai di titik ini, saya semakin yakin satu hal: Islam tidak pernah mengajarkan superioritas gender. Laki-laki tidak lebih mulia, perempuan juga tidak lebih mulia dari laki-laki. Parameter kemuliaan hanya satu: takwa. Perbedaan biologis dan sosial yang Allah ciptakan bukan untuk membuat kita saling unggul-mengungguli, tapi untuk saling melengkapi. Laki-laki butuh ketenangan dari perempuan. Perempuan butuh perlindungan dari laki-laki. Tapi semua itu dalam bingkai kemitraan, bukan penindasan.
Karena itu, setiap kali kita mendengar narasi bahwa “perempuan itu inferior karena hadis ini dan itu,” kita tidak perlu langsung memasukkannya ke hati. Buka kembali Al-Qur’an. Baca dengan konteks. Dan ingatlah ayat di awal surat An-Nisa’: kita berasal dari satu jiwa yang sama. Di hadapan Allah, Allah tidak menilai kita dari fisik, jenis kelamin, maupun status sosial. Hanya dari hati yang bertakwa. Wallahu’alam.[]

