Guru PAUD: Mengapa Hampir Selalu Perempuan?

Sumber Gambar: projectmultatuli.org

Coba perhatikan ruang kelas PAUD atau TK sekitar kita. Hampir pasti, seorang perempuan berdiri di depan anak-anak. Ia berbicara dengan suara lembut, menunjukkan kesabaran yang besar, dan tetap tersenyum meski ada anak yang menangis, bertengkar, atau tiba-tiba rewel saat belajar.

Ini bukan suatu kebetulan. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan bahwa perempuan mendominasi lebih dari 90 persen posisi guru PAUD di Indonesia. Angka ini cukup mencolok dan sebenarnya layak untuk kita pertanyakan. Bukan karena ada yang salah dengan perempuan yang menjadi guru PAUD. Namun, angka tersebut menyimpan banyak hal menarik untuk kita bahas. Kita bisa melihat cara masyarakat memandang perempuan, nilai ekonomi sebuah profesi, dan anggapan tentang siapa yang “cocok” bekerja bersama anak-anak.

Anggapan Masyarakat

Jika ditanya mengapa guru PAUD kebanyakan perempuan, banyak orang akan menjawab dengan santai: “Ya memang perempuan lebih sabar, lebih lembut, lebih cocok untuk anak kecil.” Jawaban itu terdengar masuk akal. Tapi jika dipikir lebih jauh, dari mana datangnya keyakinan itu?

Sejak kecil, lingkungan sosial sudah membiasakan kita dengan gambaran tertentu: perempuan yang mengasuh adik, ibu yang selalu ada di rumah, guru TK yang penuh kasih. Masyarakat telah lama menganggap peran merawat dan mendidik sebagai “dunianya perempuan.” Masyarakat tidak membangun anggapan ini karena perempuan lebih mampu secara biologis. Sebaliknya, masyarakat terus menanamkan dan mengulang pandangan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan ini mempunyai dampak nyata. Orang tua cenderung merasa lebih nyaman menitipkan anak usia dini kepada guru perempuan. Sekolah pun sadar atau tidak lebih sering merekrut perempuan untuk posisi ini. Laki-laki yang tertarik mengajar PAUD pun kerap menghadapi pandangan miring. Banyak orang bertanya “Kok laki-laki mau mengajar anak TK?” seolah ada yang tidak wajar dari pilihan tersebut. Padahal kesabaran, kehangatan, dan empati tidak hanya dimiliki oleh satu gender saja.

Baca Lainya  Bulan Ramadan: Menengok Kisah Wafatnya Aisyah Sang Ummul Mukminin

Tuntutan Unik dalam Mendidik

Terlepas dari soal jenis kelamin, ada alasan lain mengapa tidak semua orang cocok menjadi guru PAUD dan ini lebih berkaitan dengan sifat pekerjaannya itu sendiri. Mengajar anak usia dini memang berbeda dari mengajar anak yang lebih besar. Pada rentang usia 3–6 tahun, anak-anak belum bisa duduk diam dalam waktu lama, belum bisa mengikuti instruksi yang panjang, dan belum bisa mengelola emosinya sendiri. Guru PAUD harus mampu mengajar sembari bermain. Mereka juga mendampingi anak yang belum mandiri dan membangun kedekatan emosional. Bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran.

Pekerjaan ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan setengah hati. Membutuhkan kesabaran yang luar biasa dan kepekaan terhadap kebutuhan setiap anak. Selain itu, kemampuan untuk tetap tenang di tengah situasi kelas yang bisa berubah menjadi “pasar malam” dalam hitungan menit.

Karena tuntutan emosional ini cukup besar, masyarakat sering mengaitkan pekerjaan guru PAUD dengan sifat-sifat yang secara sosial mereka hubungkan dengan perempuan. Padahal, sejatinya hal ini bukan soal perempuan atau laki-laki, melainkan soal kesiapan dan komitmen seseorang untuk benar-benar hadir bagi tumbuh kembang anak.

Rendahnya Kesejahteraan dan Minimnya Minat Laki-Laki

Banyak daerah di Indonesia, honor guru PAUD terutama yang berbasis yayasan atau Lembaga swasta kecil masih jauh dari kata layak. Tidak sedikit guru PAUD menerima gaji di bawah upah minimum regional. Bahkan, sebagian guru hanya memperoleh beberapa ratus ribu rupiah setiap bulan. Pemerintah dan masyarakat belum memberikan perlindungan serta penghargaan yang setara kepada profesi ini dibandingkan guru pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di sinilah faktor gender dan ekonomi saling berkaitan

Laki-laki di Indonesia, baik karena pilihan pribadi maupun tekanan sosial sering kali menghadapi ekspektasi sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Dengan kondisi gaji guru PAUD yang relatif rendah, banyak laki-laki akhirnya memilih jalur profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan secara finansial. Bukan karena mereka tidak mampu atau tidak mau, melainkan karena pertimbangan ekonomi berbicara lebih keras.

Baca Lainya  Pendidikan Perempuan, Kunci Perubahan Dunia

Sementara itu, sebagian perempuan, terutama yang sudah berkeluarga memilih profesi guru PAUD karena beberapa alasan. Mereka memperoleh jam kerja yang lebih fleksibel, dekat dengan dunia anak, dan dapat mereka jalani selaras dengan peran di rumah. Bukan karena perempuan tidak memiliki ambisi, tetapi karena struktur sosial dan ekonomi memang kerap membentuk pilihan-pilihan tersebut. Dengan demikian, dominasi perempuan di profesi ini bukan semata soal “kodrat,” tetapi ada perhitungan ekonomi yang nyata di baliknya.

Keterbukaan Profesi dan Keberagaman Tenaga Pendidik

Tidak ada yang salah dengan banyaknya perempuan yang memilih menjadi guru PAUD. Mereka adalah tulang punggung pendidikan anak usia dini di Indonesia, dan kita sungguh tidak boleh meremehkan kontribusi mereka. Yang perlu dipertanyakan adalah: apakah profesi ini benar-benar terbuka bagi siapa saja?

Ketika sebagian orang masih memandang dan meragukan niat laki-laki yang ingin mengajar di PAUD/TK, ada sesuatu yang perlu kita perbaiki bersama. Ketika pemerintah dan pemangku kebijakan tidak kunjung memperbaiki gaji guru PAUD sehingga hanya mereka yang tidak mempunyai tuntutan ekonomi besar yang dapat menerimanya.

Keberagaman tenaga pendidik termasuk dari sisi gender sebenarnya dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kaya bagi anak. Mereka bisa belajar sejak dini bahwa merawat, mengajar, dan peduli terhadap sesama bukanlah pekerjaan yang hanya milik satu jenis kelamin saja.

Dominasi perempuan dalam profesi guru PAUD bukan sekadar angka statistik. Di baliknya terdapat lapisan-lapisan yang kompleks: bagaimana masyarakat mendefinisikan peran perempuan, bagaimana pekerjaan pengasuhan dihargai secara ekonomi, dan bagaimana tekanan sosial turut membentuk pilihan karier seseorang.

Yang terpenting bukan soal siapa yang mengajar, melainkan bagaimana kita sebagai masyarakat menghargai profesi yang bertanggung jawab atas fondasi tumbuh kembang generasi penerus bangsa. Selama masyarakat masih memandang guru PAUD sebelah mata, pemerintah dan pemangku kebijakan tidak akan menempatkan kesejahteraan mereka sebagai prioritas. Akibatnya, kita terus meremehkan salah satu pekerjaan paling penting bagi masa depan bangsa.[]

Baca Lainya  Tekanan Sosial Melanjutkan Impian Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *