Dalam dinamika perkuliahan, kerja kelompok sering kali menyisakan cerita ketimpangan yang luput dari perhatian. Sering kali, tanggung jawab berat untuk melakukan riset literatur dan merangkai argumen makalah secara otomatis bergeser ke pundak mahasiswi. Ironisnya, dedikasi intelektual yang menguras energi ini kerap kali hanya menjadi komoditas kelompok. Di mana mahasiswa yang pasif sepanjang proses pengerjaan bisa dengan mudah ikut menikmati nilai dan panggung presentasi tanpa beban moral.
Fenomena ini bukan hanya sekadar masalah pembagian tugas kelompok, melainkan bentuk ketidakadilan hakiki. Pada intinya telah mengabaikan martabat kerja keras perempuan di ruang akademik sekarang. Di balik tugas bertuliskan nama anggota kelompok, ada eksploitasi yang terjadi dan terus ternormalisasikan dari sudut pandang oknum tertentu.
Beban Tak Terlihat dan Prinsip Kasih Sayang
Mari kita bedah apa yang terjadi di balik layar. Kenyataan menunjukkan bahwa beban riset dan penulisan makalah sering kali terpikul sendirian oleh mahasiswi. Mereka menghabiskan waktu, energi hingga kuota internet untuk memastikan tugas kelompok selesai dan sesuai dengan standar nilai yang ada. Namun, sebagian rekan laki-laki sering kali absen (tidak hadir) dalam proses pengerjaan tugas tersebut. Mereka hadir hanya saat bab kesimpulan telah terketik rapi.
Perilaku membiarkan rekan perempuan bekerja sendirian tanpa bantuan adalah bentuk pengabaian nyata terhadap nilai empati dan kasih sayang yang seharusnya mendasari hubungan antarmanusia. Pendidikan itu bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga ruang untuk memanusiakan manusia. Ketika rasa peduli dan empati lenyap dari kerja kelompok, ruang kelas selanjutnya akan menjadi miniatur pasar yang sifatnya transaksional dan eksploitatif, di mana kerja keras terhisap demi keuntungan pihak lain.
Ketimpangan di ruang akademik ini harus kita tarik ke dalam diskursus kesetaraan yang lebih luas. Partisipasi yang setara dalam pendidikan adalah hak mendasar yang tidak boleh terurangi oleh sikap pasif. Hal ini sangat tidak adil ketika mahasiswa laki-laki dengan mudahnya “menumpang nama” di sampul makalah, lalu mendapatkan nilai yang sama persis dengan mahasiswi yang memeras otak untuk menyusun makalah ini.
Keadilan yang hakiki menuntut adanya pembagian yang setara antara kontribusi dengan apresiasi. Dengan membiarkan praktik “free rider” (penumpang gelap) ini terus kukuh, sama saja dengan melatih calon-calon pemimpin masa depan untuk melegitimasi ketidakadilan sejak dari bangku perkuliahan. Kelas harus bisa menjadi tempat penguatan keadilan, bukan tempat penyemaian mentalitas jalan pintas.
Solidaritas Intelektual sebagai Bentuk Kesalingan
Namun, di sinilah pentingnya kita menghidupkan kembali pondasi kesetiaan dalam kelompok, yang mewujud dalam solidaritas intelektual. Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak mahasiswa laki-laki untuk mengevaluasi kembali peran mereka. Sudah saatnya kita membangun kesadaran kelompok yang sehat dan aktif dengan mengadopsi prinsip kesalingan.
Prinsip Kesalingan ini mengajarkan kita bahwa relasi antara laki-laki dan perempuan harus berbasis pada kerja sama yang aktif, setara, dan saling meringankan beban, bukan membiarkan satu pihak terbebani secara sepihak. Makalah kelompok adalah tanggung jawab bersama, termasuk tugas lain yang membutuhkan kerja sama. Ketika mahasiswa laki-laki ikut aktif dalam mencari data, berdiskusi, dan menyusun argumen, di situlah martabat kemanusiaan dan intelektual kedua belah pihak sama-sama dijunjung tinggi.
Tanpa kita sadari, membatasi atau membiarkan peran mahasiswi hanya pada pengerjaan dokumen di balik layar sehingga memosisikan mereka sebagai sekretaris abadi kelompok adalah bentuk penindasan simbolik karena ada stigma gender yang halus dan menyesakkan. Stigma tersebut adalah perempuan yang harus rajin dan rapi di balik meja, sementara laki-laki hanya tinggal memetik hasilnya di panggung depan.
Kita harus bisa menolak tegas penindasan secara halus ini. Lingkungan kampus harus menjadi ruang kebebasan, di mana setiap mahasiswa memiliki kedudukan setara tanpa memandang gender, sehingga tercipta ruang dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi secara utuh. Mahasiswi berhak untuk tidak dieksploitasi tenaganya, dan mahasiswa laki-laki berkewajiban untuk melepaskan hak istimewa semu yang merugikan orang lain.
Sudah saatnya bentuk penindasan di balik layar tugas kelompok ini kita singkap. Menggugat ketimpangan intelektual di ruang kelas adalah awal untuk menjamin bahwa mimbar akademik kita benar-benar melahirkan manusia yang adil sejak dalam pikiran, dan setara dalam perbuatan.[]

