Ramadan yang Datang, Rasa yang Hilang

Setiap kali bulan suci Ramadan semakin dekat, suasana berubah menjadi lebih hangat. Masjid mulai ramai, ucapan “Marhaban ya Ramadhan” berseliweran di media sosial, dan hati banyak orang terasa berbunga-bunga. Ramadan selalu identik dengan kebersamaan, harapan baru, dan kesempatan memperbaiki diri. Bagi sebagian besar orang, datangnya adalah kabar bahagia yang ternantikan sepanjang tahun. Namun, di tengah…

Baca Lengkapnya

Hak Anak, Tanggung Jawab Orang Tua: Pondasi Pendidikan dari Keluarga

Akhir-akhir ini dunia maya heboh dengan banyaknya anak kurang terpenuhi haknya. Terlebih hak memperoleh pendidikan dan kasih sayang dari orang tua. Beredar video di Instagram, Threeds, X, maupun TikTok mengenai anak kurang terpenuhi kebutuhan sekundernya, sedangkan negara mempunyai cita-cita mencerdaskan anak bangsa. Seorang laki-laki dan perempuan jika sudah memiliki ikatan hubungan keluarga maka akan terbebani…

Baca Lengkapnya

Serigala, Domba, dan Pemburu: Cermin Krisis Identitas Manusia Modern

Ketika empati memudar, manusia perlahan kehilangan kompleksitas diri sendiri. Gambaran ini tercermin kuat dalam sebuah adegan film Frankenstein (2025) ketika makhluk ciptaan itu menyaksikan serigala menyerang domba, lalu seorang pemburu membunuh serigala. Dalam keheningan setelah peristiwa itu, ia menyadari satu hal sederhana tapi mengganggu: pemburu tidak membenci serigala, serigala tidak membenci domba, tapi kekerasan di antara mereka…

Baca Lengkapnya

Logika di Balik Murka: Mencari Keadilan di Tengah Ego

Dalam kehidupan manusia, kemarahan adalah emosi yang sering muncul tanpa peringatan. Ia hadir ketika seseorang merasa disalahpahami, diperlakukan tidak adil, atau ketika harapan tiba-tiba runtuh. Ledakannya terasa spontan, tetapi di baliknya terdapat persoalan yang lebih dalam tentang cara manusia memahami diri dan dunianya. Sejak lama para filsuf memikirkan emosi ini. Bagi kaum Stoa, kemarahan merupakan…

Baca Lengkapnya

Menolak Kekerasan sebagai Pemulihan Martabat

Kau mungkin lupa, situasi yang menyakitkan mampu berbalik arah. Kau akan mengingatku sebagai angka delapan yang tegak serupa sketsa jam waktu. Pasir di dalamnya adalah usahaku, begitu banyak, terbuat dari butir-butir kemantapan hati, terkikis oleh kenyataan yang kau buat sendiri. Duka yang akan menggelapkan harimu lebih kejam dari tiap-tiap kemungkinan yang dapat dibayangkan.  Sekilas, petikan…

Baca Lengkapnya

Kisah Aurélie Moeremans, Broken Strings, dan Relasi yang Salah Arah

Menjelang akhir 2025, nama Aurélie Moeremans ramai publik bicarakan setelah ia merilis buku Broken Strings (2025). Bukan karena gosip murahan atau sensasi kosong, melainkan karena keberaniannya membuka luka lama yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Buku itu bukan sekadar memoar selebritas, tapi catatan pahit tentang bagaimana relasi yang kita kira cinta justru menjelma menjadi rangkaian kekerasan…

Baca Lengkapnya

Broken Strings, Child Grooming, dan UU Perkawinan

Viralnya buku Broken Strings (2025) karya Aurelie Moeremans membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang relasi timpang kuasa dalam hubungan personal. Salah satu hal yang paling mengusik nurani publik adalah praktik child grooming yang oleh tokoh Bobby lakukan kepada Aurelie. Tergambarkan sebagai relasi manipulatif, penuh kontrol, dan bertopeng kasih sayang. Fenomena ini sejatinya bukan hal baru. Ia telah lama…

Baca Lengkapnya
Kuliah sambil Kerja

Bangku Kuliah Dibiayai Rasa Bersalah 

Seseorang bisa hidup di kota rantauan, menjalani hari-hari sebagai mahasiswa dengan tas punggung berisi buku, laptop, dan kegelisahan yang tak pernah benar-benar bisa ia tinggalkan di kamar kos. Ia merantau bukan untuk bergaya, melain untuk bertahan pada satu harapan. “Pendidikan (kuliah) bisa menjadi jalan keluar dari lingkungan kesulitan yang selama ini membelit keluarganya”. Sejak ayahnya…

Baca Lengkapnya

Kehilangan Sosok Cinta Pertama

Banyak orang mengatakan bahwa ayah adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan. Bagi saya, itu bukan sekadar ungkapan, melainkan kebenaran yang hidup dalam pengalaman. Ayah adalah sosok pertama yang membuat saya merasa aman, tempat pertama untuk bersandar, dan orang yang selalu hadir tanpa perlu kita minta. Dalam caranya yang sederhana, ayah menunjukkan bagaimana cinta seharusnya…

Baca Lengkapnya

Perempuan dan Pendidikan: Akses, Pilihan, dan Ketimpangan yang Tersisa

Pendidikan kerap kita pahami sebagai ruang yang terbuka dan netral, seolah setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengaksesnya. Namun bagi banyak perempuan, perjalanan menempuh pendidikan tidak sesederhana itu. Ada berbagai pertimbangan sosial, budaya, dan ekonomi yang membuat proses belajar harus kita (perempuan) lalui dengan tantangan yang berbeda daripada laki-laki. Dalam sejumlah keluarga, pendidikan perempuan…

Baca Lengkapnya

Derajat Sama, Beban tak Pernah Setara

Sejak kecil, banyak perempuan sudah akrab dengan kalimat, “perempuan itu tempatnya di dapur”. Kalimat tersebut terulang-ulang seolah menjadi hukum alam. Ironisnya, ketika perempuan itu tumbuh dewasa, pertanyaan yang datang justru berubah “sudah kerja belum?”. Di sisnilah letak kontradiksi sosial yang sering luput kita sadari. Perempuan mendapat kewajiban masuk dapur, pun tertuntut bekerja. Sementara laki-laki, sejak…

Baca Lengkapnya

Membedah Kata “Nyambung” dalam Perspektif Gender

Tulisan ini lahir dari sebuah keresahan kecil yang muncul justru di tengah suasana liburan akhir bulan lalu. Momen tersebut terjadi dalam beberapa perbincangan santai bersama sejumlah rekan perempuan di Surakarta. Penulis berulang kali memancing perdebatan dalam banyak sudut pandang relasional cinta, hingga kemudian lahir anggapan dari sudut pandang perempuan. Bahwa kemampuan nyambung atau tidaknya seorang…

Baca Lengkapnya

Membentengi Remaja dari Radikalisme melalui Nilai-nilai Moderasi Beragama

Di zaman sekarang menjadi remaja rasanya mudah terbawa arus zaman. Informasi datang dari mana saja misalnya TikTok, Instagram, YouTube, sampai pesan WhatsaApp yang isinya kadang lebih menakutkan dari berita aslinya. Belum lagi, banyak konten yang membicarakan agama tapi bahasanya meledak-ledak, seakan hanya mereka yang paling paham kebenaran. Dari sinilah radikalisme dan ekstremisme bisa masuk pelan-pelan…

Baca Lengkapnya