Toxic Parenting: Ketika Orang Tua Jadi Sumber Luka

Sumber Gambar: prenagen.com

Kebanyakan dari kita sering mendengar perkataan dari orang tua “jangan jadi anak durhaka”. Namun di tengah adanya pernyataan tersebut ada satu bumerang jarang sekali seorang anak menanyakan “jangan jadi orang tua durhaka”. Pastinya seorang anak tahu efek dari pertanyaan tersebut, dimarahi atau bahkan ditelantarkan.

Tindakan durhaka bukan hanya berupa kekerasan fisik, tetapi kelalaian dalam memenuhi kebutuhan secara sengaja juga termasuk bentuk kedurhakaan. Artinya tindakan durhaka yaitu gagal menjalankan kewajiban. Walaupun anak sudah melaksanakan tugas mulia dari keduanya secara maksimal, tetapi mereka malah memberikan imbalan berupa perkataan yang menyakitkan bagi anak.

Agama Islam mengajarkan adanya bentuk kasih sayang dan adil di antara orang tua dengan anak, bahkan keduanya bertanggung jawab penuh atas perilaku anaknya ketika belum tamyiz (memebedakan baik dan buruk). Kesalahan ibu-bapak sering kali terawali ketidaktahuan apa saja yang oleh anaknya perlukan. Hal kecil tersebut jika tidak segera tertangani maka dampaknya akan signifikan terhadap pertumbuhan anak.

Bentuk kedurhakaan orang tua lebih miris lagi terbungkus kata “untuk mendidik” anak supaya ke depannya terbiasa menyikapi realita kehidupan nyata. Kata ikhlas, berbakti, dan patuh lebih ramai di telinga anak dan kata yang berulang kali oleh keduanya ucapkan. Dengan adanya praktik seperti ini anak akan merasa terdesak dan marah tetapi ia tidak berani mengungkapkannya. 

Orang tua mempunyai peran mulia dalam masa depan anak maka dari itu mereka harus mengetahui kondisi anaknya. Anak merupakan amanah dari tuhan supaya dalam masa kehidupannya menjadi seorang yang berperilaku sebagaimana mestinya. Kebutuhan anak merupakan tanggung jawab mereka berdua yang harus terpenuhi secara maksimal. Karena dengan mencukupi keperluannya anak akan merasa mendapat kasih sayang dan perhatian, sehingga mereka juga akan menuai di masa depan.

Baca Lainya  Keluarga: Sekolah Pembentuk Nilai Kehidupan

Realitas Kelalaian Orang Tua 

Seorang bapak dan ibu hukumnya wajib untuk memenuhi kebutuhan anak, jika tidak maka pertumbuhan anak akan terganggu. Kebutuhan seorang anak memang memerlukan sebuah materi, dalam memenuhi kebutuhan tersebut orang tua tertuntut untuk bekerja keras. Keduanya harus pandai dalam mengelola keuangan, supaya hak anak terpenuhi secara maksimal.

Sudah terlalu banyak orang tua melalaikan kewajibannya terhadap anak mulai dari tidak memberi pendidikan, pola asuh terabaikan, sampai menaruh anaknya dipanti asuhan. Kebanyakan bapak-ibu yang lalai atas kewajibannya tersebabkan faktor kemiskinan. Akibatnya mereka menganggap bahwa anak merupakan beban tambahan dalam kehidupan dan merusak reputasi dalam mengejar karir.

Ibu-bapak perlu bercermin megenai kasus yang terlansir dalam Tempo.co pada 21 Februari 2026. Remaja laki-laki berinisial NS (12 tahun) tewas di rumah sakit, terduga mengalami penganiayaan dari ibu tirinya. Parahnya lagi, sebelum meninggal dunia wajah anak lebam, kedua matanya membiru, serta terdapat luka terbuka di bagian paha yang menyerupai bekas siraman air panas. Dari kasus ini maka semua orang tua perlu mempunyai rasa kasih sayang yang penuh terhadap kenyaman, keselamatan dan kesejahteraan anak.

Kuasa, Luka, dan Tanggung Jawab

Secara struktural  ayah berperan sebagai kepala rumah tangga, jadi ia mempunyai amanah besar dan lebih leluasa untuk mengatur kehidupan keluarganya. Ibu berperan sebagai pendidik anak ketika di luar sekolah, baik ilmu agama maupun dunia. Artinya kedua orang tua sama-sama memiliki amanah yang mulia.

Kalau kita mengetahui perkataaan Karl Marx mengenai konflik dan dominasi  untuk memahami bahwa setiap hubungan sosial berpotensi adanya ketimpangan. Hubungan seperti itu sebenarnya bukan semestinya hubungan keluarga. Akan tetapi ini soal kekuasan siapa yang berhak mengatur dan kepada siapa ia mengatur. Dalam lingkup keluarga, keduanya lebih sering dominan mengatur penuh atas perilaku anak. Ketika dalam proses mengatur tergunakan dengan cara kekerasan, pemaksaan, dan tekanan, maka anak akan merasa tertindas.

Baca Lainya  Hak Anak, Tanggung Jawab Orang Tua: Pondasi Pendidikan dari Keluarga

Psikologis anak akan terganggu ketika ia merasa tertindas, dampaknya cukup besar serta sulit untuk menanganinya. Mengalami kekerasan, baik fisik maupun emosional, serta pengabaian terhadap kebutuhan, berimplikasi luka yang mendalam. Rasa sakit berupa trauma, dari masa kecil akan terbawa sampai anak menginjak umur dewasa. Lebih parahnya lagi anak akan terasa sulit untuk menentukan arah kehidupannya.

Anak merupakan suatu anugrah besar dari Allah, kemudian diamanahkan kepada orang tuanya supaya terpelihara. Perkataan Imam Algazali ketika memadang anak sebagai anugrah juga sama halnya, akan tetapi ia menambahkan supaya orang tua bertanggung jawab secara totalitas. Orang tua bukan hanya mememnuhi kebuhan berbentuk fisik, melainkan ada yang lebih fundamemntal yaitu harus membentuk karakter mulia seorang anak. Ketika orang tua lalai bahkan tidak mencukupinya, maka hal tersebut merupakan bentuk kedurhakaan terhadap amanah dari Allah.

Kekerasan dan Perlindungan Anak

Negara Indonesia juga sudah mencantumkan peranturaan terhadap perlindungan anak, dan sudah berlaku sejak 17 Oktober 2014. Peraturan tersebut tercantum dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Peraturan tersebut anak wajib mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Ketika orang tua tidak lengah dalam melindungi anak maka hal tersebut sudah termasuk kategori durhaka.

Pada akhirnya kita harus melihat fenomena menyakitkan ini,  bahwa banyak anak memilih untuk diam supaya orang tua tidak marah. Meskipun rasa sakit dalam hati itu ia alami, anak tetap bertahan dan memahami di bawah omelan orang tuanya. Bahkan anak pun bingung cara mengobati rasa saikt itu sehingga ia mengalami deprsesi sangat dalam akibat desakan orang tuanya.

Anak tidak sepenuhnya membutuhkan orang tua kaya raya, sempurna, dan dianggap publik orang terpandang. Anak hanya butuh disayangi tanpa syarat, pengertian, mau mendengarkan keluhan dari anak, dan tidak selalu dihakimi. Karena dalam kehidupan berkeluarga bukan tentang siapa yang unggul, tetapi saling mengerti itulah menjadi pondasi hubungan menjadi sejahtera.

Baca Lainya  Kekuatan Ekonomi Perempuan Berbasis PKK

Ketika anak mendapat masalah dari orang lain atau tugas dari sekolahannya pasti ia menginginkan orang tua membantu menyelesaikan hal itu. Jangan sampai orang yang paling kita harapkan menjadi tempat pulang, justru menjadi alasan kita untuk pergi.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *