Kehidupan berumah tangga tidak lepas dari peranan seorang perempuan atau Ibu. Ia adalah pondasi dalam sebuah keluarga yang sering kali perannya memicu tekanan sosial. Seperti umumnya dalam sebuah keluarga ia bertanggung jawab merawat, mendidik, dan membesarkan seorang anak. Sementara Ayah menjalankan kewajibannya memberi nafkah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Merawat anak tidak lain menjaganya, memastikannya dalam kondisi rapi dan sudah mandi, memberinya makan mengatur nutrisinya hingga mengaturnya jam tidurnya. Belum lagi segala drama yang harus seorang Ibu hadapi. Namun masih banyak menganggap ibu “hanya” berada di rumah saja.
Membahas masalah peran seorang Ibu rumah tangga terutama di lingkungan publik tidak pernah ada habisnya. Sosoknya sudah seperti tokoh utama film. Dalam ceritanya ibu memiliki besar di mana setiap hal ia lakukan menimbulkan opini publik jika menyangkut anak dan rumah tangga. Anak adalah tanggung jawab kedua orang tua. Sayangnya realitas di kalangan masyarakat memberikan perlakukan berbeda antara Ayah dan Ibu . Masyarakat lebih banyak memberikan kritik kepada Ibu. Padahal ia lebih fasih memahami tentang keluarganya daripada masyarakat itu sendiri.
Peran Ibu dan Ekspektasi Publik
Mengurus anak tidak selamanya selalu berada di rumah karena ada saatnya anak membutuhkan waktu bermain di luar bersama teman seusianya. Usia balita adalah kondisi di mana perkembangan kognitif belum cukup memahami lingkungan sekelilingnya. Oleh sebab itu, perlu pengawasan ekstra dari Ibu. Bahkan membawanya ke tempat bermain pun perlu mempersiapkan dirinya serta sang anak agar tetap rapi dan bersih untuk menghindari penilaian buruk dari masyarakat. Lihat bagaimana terdapat kasus Ibu membawa anaknya sambil berpenampilan compang-camping akan muncul stereotipe bahwa ia tidak bisa mengurus dirinya. Belum lagi respons masyarakat melihat seorang anak menangis sedangkan ibu tidak mampu mendiamkannya akan muncul stigma ia tidak becus mengurus anak.
Ironisnya stigma tersebut sangat kontras terjadi, melihat seorang Ayah sedang bertugas membawa putri kecilnya bermain ke taman tanpa peduli penampilannya compang-camping, masyarakat menjatuhkan kesalahan kepada istri jika ia tidak bisa mengurus suaminya. Kewajiban istri adalah melayani suami. Tidak mungkin masalah penampilan suami bahkan harus dengan istri? Sebaliknya tidak ada yang menyalahkan suami mengenai penampilan istri. Selain itu, respons kepada seorang Ayah tidak mampu mendiamkan tangisan anaknya, masyarakat justru memahami dan turut merasa simpati. Anggapan karena ia adalah seorang Ayah yang pasti akan kesulitan untuk mengurus seorang anak.
Lingkaran Relasi Mom Shaming
Sebagian besar penilaian subjektif tidak hanya datang dari laki-laki, melainkan juga sesama perempuan atau mereka yang pernah merepresentasikan diri sebagai seorang Ibu, orang asing, bahkan orang terdekat. Fenomena penghakiman gaya pengasuh pada perempuan dapat diartikan sebagai mom Shaming. Berdasarkan artikel yang ditulis Villines (2017), mom shaming adalah kegiatan mengkritik pilihan seorang Ibu dalam mengasuh anak tanpa melihat atau mempertimbangkan faktor lain seperti kehadiran ayah, pengasuh lain, budaya, atau status finansial. Persoalan tersebut dapat mengakibatkan gangguan psikologis bagi sasaran kritikan berupa rendah diri, perasaan cemas dan merasa bersalah pada segala tindakannya, stress hingga paling parahnya mengalami baby blues akibat dinamika tekanan sosial di lingkungan publik.
Potret kondisi kehidupan berumah tangga memiliki relasi kuat pada praktik patriarki yang masih sering terjadi hingga membebani tanggung jawab bagi perempuan atau Ibu rumah tangga untuk membentuk ekspektasi sosial. Hal ini mengindikasikan konstruksi budaya yang masih mengakar dalam lingkungan sosial masyarakat. Pada sistemnya urusan masalah domestik adalah mereka para perempuan atau Ibu, sementara mereduksi posisi suami memenuhi kebutuhan keluarga. Meski demikian, masalah rumah tangga adalah tanggung jawab bersama, tanpa memandang apakah subjek adalah perempuan atau laki-laki.
Jika istri mengalami mom shaming, peran suami adalah memberi pembelaan dan dukungan penuh serta memberi ruang validasi kepada istri. Ibu dapat melakukan beberapa hal jika seseorang melakukan mom shaming, misalnya dengan cara mengabaikan ujaran pada pengkritik, membangun rasa percaya diri pada setiap tindakan, mencari dukungan dari orang-orang terdekat baik keluarga maupun teman dekat serta jika perlu memberi tanggapan bijak. Selain itu, ibu hanya perlu mempusatkan perhatian pada keluarga hingga tidak ada waktu memikirkan kritik tersebut agar tidak menimbulkan kecemasan hingga kesehatan emosional.[]

