Laki-Laki, Nafkah, dan Kuasa

Sumber Gambar: hukumonline.com

Saya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang masih memegang kuat budaya patriarki. Sejak kecil, saya melihat ayah memosisikan diri sebagai seseorang yang kuat dan pemegang kuasa utama. Beliau telah bekerja keras mencari nafkah dalam keluarga. Sementara ibu, mengerjakan seluruh pekerjaan domestik di rumah secara mandiri. Masyarakat menganggap memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengurus keluarga sebagai kewajiban biasa seorang perempuan.

Perempuan melakukan pekerjaan tersebut setiap hari, tetapi mereka tidak memandangnya sebagai bentuk kerja yang penting. Laki-laki menilai pekerjaan tersebut tidak menghasilkan uang secara langsung. Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa patriarki bukan hanya teori atau konsep sosial. Ternyata budaya patriarki hidup dan terus berjalan di dalam rumah melalui kebiasaan-kebiasaan yang masyarakat anggap normal sejak lama.

Warisan Patriarki dalam Kehidupan Keluarga

Budaya patriarki masih menjadi bagian kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sistem ini memandang laki-laki sebagi pemimpin, pengambil keputusan, dan pencari nafkah utama. Sementara menempatkan perempuan pada peran domestik yang berkaitan dengan melayani dan mengurus rumah. Masyarakat mewariskan pembagian peran tersebut secara turun-temurun hingga menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dan alamiah.

Sejak kecil, seringkali mendidik anak laki-laki untuk menjadi kuat, mandiri, dan bertanggung jawab mencari nafkah. Sementara membiasakan anak perempuan untuk membantu pekerjaan rumah, patuh, dan melayani kebutuhan keluarga. Pola asuh seperti ini akhirnya membentuk cara pandang yang timpang. Laki-laki menempati posisi lebih tinggi daripada perempuan.

Budaya patriarki menganggap pekerjaan yang menghasilkan uang merupakan kontribusi paling penting dalam keluarga. Posisi laki-laki mencari nafkah sering menjadi dasar legitimasi kekuasaan dalam rumah tangga. Banyak laki-laki merasa berhak menentukan keputusan, mengatur, dan menuntut pelayanan penuh dari perempuan karena menganggap dirinya sebagai penopang utama keluarga. Cara pandang tersebut menganggap pekerjaan domestik adalah pekerjaan remeh dan tidak memiliki nilai ekonomi secara langsung.

Baca Lainya  Kesetaraan Gender dan Perjuangan Pahlawan Perempuan Indonesia

Laki-laki menganggap tidak membersihkan rumah masih bisa ditempati, tidak mencunci pakaian bisa laundry, dan tidak masak pun bisa jajan. Sebaliknya, ketika tidak ada penghasilan ekonomi, mereka menganggap kehidupan keluarga tidak akan berjalan. Akibatnya, nafkah menjadi sumber superioritas laki-laki dan memandang pekerjaan domestik perempuan sebagai sesuatu yang biasa dan tidak memerlukan penghargaan khusus.

Nafkah sebagai Dasar Legitimasi Kekuasaan?

Padahal, menentukan keberlangsungan hidup keluarga tidak hanya melalui penghasilan finansial, tetapi perempuan yang melakukan pekerjaan domestik setiap hari juga turut mendukung. Mengurus rumah tangga bukanlah pekerjaan sederhana yang sepele. Seorang Ibu sering menjadi pihak yang memastikan rumah tetap bersih dan nyaman, makanan tersedia, pakaian terurus, kebutuhan anak terpenuhi, hingga menjaga kestabilan suasana dalam keluarga. Semua pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga, waktu, perhatian, dan tanggung jawab yang besar.

Selain itu, Ibu juga sering memikul beban emosional dalam keluarga, seperti menjaga hubungan tetap harmonis, memahami kebutuhan anggota keluarga, serta menahan perasaan sendiri demi menjaga kenyamanan rumah tangga. Namun, karena pekerjaan domestik tidak menghasilkan uang secara langsung, banyak laki-laki menganggap pekerjaan tersebut bukan bentuk kerja yang penting dan tidak layak mendapatkan penghargaan yang sama seperti pekerjaan di ruang publik.

Banyak keluarga patriarkal menganggap penghasilan ekonomi laki-laki lebih penting daripada kontribusi perempuan.Laki-laki memosisikan dirinya sebagai pihak yang paling berjasa karena membawa uang ke dalam rumah, sementara menganggap perempuan hanya menjalankan kewajiban biasa. Akibatnya, kondisi tersebut sering membatasi ruang perempuan dalam pengambilan keputusan keluarga dan menuntut perempuan untuk melayani serta mematuhi laki-laki.

Cara pandang seperti ini menciptakan ketimpangan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan karena mengukur kekuasaan berdasarkan penghasilan ekonomi semata. Perempuan melakukan kerja domestik dan emosional setiap hari membuat kehidupan keluarga dapat berjalan dengan baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa budaya patriarki masih memengaruhi cara masyarakat memandang nilai kerja laki-laki dan perempuan secara tidak setara.

Baca Lainya  Dinamika Perempuan dan Patriarki dalam Masyarakat Modern

Peran Ganda Seorang Perempuan

Perkembangan masyarakat modern sebenarnya telah membawa perubahan besar terhadap posisi perempuan dalam kehidupan sosial. Jika dahulu masyarakat lebih banyak membatasi perempuan pada ruang domestik, kini perempuan memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan, pekerjaan, kepemimpinan, dan berbagai bidang profesional lainnya. Perempuan mampu bekerja, menjadi pemimpin, menyampaikan pendapat, bahkan turut menopang ekonomi keluarga.

Hal tersebut membuktikan bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kesempatan, kompetensi, dan kerja keras yang dimiliki. Namun, budaya patriarki masih membuat banyak perempuan menghadapi ketimpangan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak keluarga masih membebankan pekerjaan domestik kepada perempuan meskipun mereka juga bekerja di ruang publik. Masyarakat sering menuntut perempuan menjalankan peran ganda, sementara budaya patriarki masih menempatkan laki-laki sebagai pihak utama dalam pengambilan keputusan keluarga.

Bagi saya, kesetaraan gender bukan berarti perempuan ingin menyaingi atau merendahkan laki-laki. Kesetaraan gender bertujuan menciptakan hubungan yang lebih adil dan manusiawi antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat tidak seharusnya membebankan pekerjaan domestik hanya kepada perempuan, sebagaimana tanggung jawab mencari nafkah juga tidak harus sepenuhnya berada di tangan laki-laki.

Hubungan yang sehat seharusnya dibangun melalui kerja sama, sikap saling menghargai, dan pembagian peran yang seimbang tanpa adanya dominasi dari salah satu pihak. Pengalaman hidup dalam lingkungan keluarga patriarkal membuat saya memahami bahwa budaya yang menjadikan nafkah sebagai sumber superioritas laki-laki sudah tidak relevan untuk terus dipertahankan. Laki-laki dan perempuan seharusnya memandang satu sama lain sebagai mitra yang memiliki hak, kemampuan, dan kesempatan setara dalam menjalani kehidupan bersama.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *