Di perguruan tinggi, bangku perkuliahan saat ini tidak lagi sepi dari kehadiran perempuan. Jika kita melihat ke dalam kelas, jumlah mahasiswi bahkan sering kali memadati barisan kursi depan. Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan narasi bahwa “perempuan bebas menjadi apa saja”. Namun, jika kita mau duduk sejenak untuk mendengarkan keluh kesah mereka di koridor kampus, realitasnya tidak seindah angka-angka statistik di dalam buku itu.
Di balik tumpukan tugas dan ambisi mengejar prestasi, ada beban mental yang tidak tampak secara sekilas. Banyak perempuan muda di perguruan tinggi hari ini nyatanya sedang berdiri di persimpangan jalan: satu jalan membuat mereka ingin terus berkembang, sedangkan jalan lainnya membawa mereka pada tuntutan keluarga dan masyarakat.
Standar Ganda di Meja Makan
Perjalanan ini terasa kian menyiksa ketika mereka mulai mencicipi bangku pendidikan tinggi. Kuliah, bagi seorang perempuan muda, sering kali bukan hanya sekadar urusan belajar lalu lulus. Namun, ini adalah medan pertempuran batin yang sunyi. Selama proses perkuliahan, kampus biasa mendorong mereka untuk belajar lebih jauh, berpikir secara terbuka, dan mengejar impian mereka.
Namun di sisi lain, saat pulang ke rumah atau berkumpul di meja makan keluarga, mereka kerap ditarik mendapat bisikan halus dari keluarga kerap mengusik mereka kembali. Ada standar ganda yang tidak adil di sini: keluarga dan tetangga kerap kali hanya menganggap gelar akademik perempuan sebagai pajangan. Pada akhirnya, tetangga dan keluarga tetap mengukur kesuksesan perempuan dari seberapa cekatan ia mengurus rumah dan seberapa cepat ia menikah
Jam Dinding Biologis dan Jam Dinding Akademis
Benturan yang paling sering dihadapi mahasiswi adalah masalah waktu. Masa-masa emas untuk menyerap ilmu (usia 18 hingga 25 tahun) berada di garis waktu yang sama dengan munculnya pertanyaan masyarakat, “Kapan nikah?” atau “Jangan sekolah tinggi-tinggi, nanti laki-laki minder.”
Ketakutan kolektif ini akhirnya menciptakan rasa bersalah yang sengaja menyusup ke dalam kepala perempuan yang ambisius terhapad karis mereka. Banyak perempuan muda terpaksa mengerem potensi terbaiknya, mengurungkan niat ikut pertukaran pelajar, membatalkan riset, atau mengubur mimpi lanjut S2 bukan karena mereka tidak mampu secara intelektual, melainkan karena lelah dengan tuntutan sosial yang terus-menerus mendikte langkah mereka.
Sayangnya, masyarakat sering kali menafsirkan teks keagamaan dan konsep tentang ‘kodrat’ secara sempit. Akibatnya, pemahaman yang keliru ini sengaja dipakai sebagai senjata untuk membatasi ruang gerak perempuan di dunia akademik. Masyarakat sering kali mendefinisikan pendidikan tinggi perempuan secara sempit: sebatas komoditas agar “laku” di pasar pernikahan atau sekadar modal agar pintar mendidik anak kelak. Padahal, jika kita menengok sejarah Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban yang luhur bagi setiap Muslim tanpa sekat gender. Perempuan berhak kuliah tinggi demi memperluas cara berpikirnya sebagai seorang hamba Allah yang utuh, bukan sekadar menjadi pelengkap status sosial orang lain.
Meruntuhkan Sekat, Membangun Peradaban
Perempuan tentu tidak bisa memikul beban dilema perjalanan ini sendirian.. Kita membutuhkan pergeseran cara pandang dari lingkungan paling kecil, yaitu keluarga. Orang tua dan calon pasangan sudah saatnya duduk bersama untuk membicarakan pembagian peran yang adil. Jadi, mimpi kuliah atau karier seorang perempuan tidak harus langsung gulung tikar begitu saja setelah kata ‘sah’ diucapkan di depan penghulu.
Pada akhirnya, memilih antara mimpi dan kehidupan sosial tidak seharusnya menjadi pilihan hidup dan mati yang saling mengorbankan. Perempuan yang memilih berpendidikan tinggi tidak sedang menjauh dari fitrahnya. Justru dengan ilmu, ia sedang membangun fondasi peradaban yang lebih kuat. Sebab, masyarakat yang sehat dan cerdas tidak akan pernah lahir dari rahim perempuan-perempuan yang harus memadamkan mimpinya di tengah jalan.[]

