Pulang ke rumah setelah matahari terbenam seharusnya menjadi hal yang biasa. Namun, bagi beberapa perempuan, perjalanan pulang sering kali tidak sesederhana itu. Langkah yang cepat, genggaman erat pada ponsel dan kebiasaan menoleh ke belakang menjadi hal yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Bukan karena mereka ingin hidup dalam ketakutan, melainkan karena kewaspadaan telah menjadi bagian dari rutinitas.
Sejak kecil, banyak perempuan tumbuh dengan berbagai nasihat tentang cara menjaga diri. Mereka dinasihati untuk tidak pulang terlalu malam, tidak berjalan sendirian, tidak terlalu percaya kepada orang asing, dan selalu memberi kabar kepada keluarga ketika bepergian. Nasihat tersebut tentu lahir dari rasa sayang dan kepedulian. Akan tetapi, di balik semua itu tersimpan kenyataan bahwa perempuan masih harus beradaptasi dengan lingkungan yang belum sepenuhnya aman.
Tidak sedikit perempuan yang akhirnya terbiasa memikirkan banyak hal sebelum melakukan aktivitas yang sebenarnya sederhana. Pergi ke suatu tempat tidak hanya soal tujuan, tetapi juga soal keamanan. Pulang pada malam hari bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal risiko. Kewaspadaan yang terus-menerus hadir ini perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ketakutan sebagai Hal yang Biasa
Beberapa orang menganggap ketakutan perempuan berlebihan. Padahal, rasa cemas itu tidak muncul tanpa alasan. Berbagai berita tentang pelecehan, kekerasan, dan tindakan kriminal yang menyasar perempuan terus bermunculan. Pengalaman pribadi maupun cerita dari orang lain membuat banyak perempuan memahami bahwa risiko tersebut nyata. Akibatnya, kewaspadaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Anggapan bahwa ketakutan tersebut menjadi persoalan. Ketika seorang perempuan merasa takut berjalan sendirian pada malam hari, respons yang muncul sering kali berupa saran agar ia lebih berhati-hati. Saat terjadi pelecehan, pertanyaan sering kali merujuk kepada korban. Di mana ia berada? Mengapa sendirian? Mengapa pulang larut? Perhatian justru tertuju pada korban, bukan pelaku.
Cara pandang ini membebani perempuan untuk menjaga diri. Menuntut mereka lebih waspada, berhati-hati, dan membatasi diri. Sementara itu, pembicaraan mengenai bagaimana menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan sering kali tidak mendapatkan perhatian yang sama besar.
Ruang Aman Bukan Kemewahan
Tidak sedikit perempuan yang membatalkan rencana, mengubah rute perjalanan, atau menahan diri untuk pergi ke suatu tempat karena alasan keamanan. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi jika terjadi terus-menerus, kebebasan seseorang perlahan menjadi terbatas. Ketika rasa takut memengaruhi pilihan hidup, masalahnya tidak lagi bersifat pribadi, melainkan sosial.
Persoalannya bukan kewaspadaan perempuan, melainkan kondisi yang menuntut mereka terus waspada. Selama ini, perhatian lebih tertuju pada upaya perempuan melindungi diri daripada menciptakan lingkungan yang aman bagi mereka. Akibatnya, perempuan terus beradaptasi dengan rasa takut, sementara akar masalahnya sering luput dari perhatian. Padahal, rasa aman bukanlah sebuah kemewahan. Rasa aman adalah hak dasar setiap manusia. Perempuan tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya ingin belajar, bekerja, bepergian, dan hidup tanpa rasa takut.
Menciptakan lingkungan yang aman tentu bukan hanya tugas perempuan. Keamanan tidak hanya dengan meminta perempuan berhati-hati. Kesadaran bersama untuk menghormati orang lain, menolak pelecehan, dan peduli terhadap sesama juga penting.
Pada akhirnya, pertanyaan “Bolehkah perempuan merasa aman?” tidak perlu menjadi perdebatan. Jawabannya tentu boleh, bahkan harus. Sebab, tidak ada seorang pun yang seharusnya hidup dalam ketakutan hanya untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Jika perempuan masih cemas berjalan sendirian atau pulang malam, berarti masalah keamanan masih perlu diselesaikan. Rasa aman bukan privilese, melainkan hak setiap perempuan.[]

