Perempuan Menanggung Beban Sosial

Sumber Gambar: rahma.id

Di tengah narasi kemajuan zaman yang terus terelu-elukan, perempuan justru masih berjalan dengan beban yang nyaris tak pernah benar-benar selesai. Mereka selalu terdorong untuk berpendidikan tinggi, mandiri secara ekonomi, dan aktif di ruang publik. Namun di saat yang sama, ia juga tetap tertuntut sempurna dalam ruang domestik mengurus rumah, melayani keluarga, dan menjadi ibu yang “ideal” tanpa cela.

Sebenarnya hal-hal seperti ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan refleksi dari konstruksi sosial yang telah mengakar sejak lama. Banyak perempuan tidak hanya bekerja, tetapi juga memikul ekspektasi ganda. Seolah mereka itu harus berhasil di luar rumah, tanpa boleh gagal di dalam rumah. Dalam dua pilihan itu, kaum hawa tetap berada di posisi yang serba salah.

Perempuan tetap Disalahkan

Dalam berbagai kasus, perempuan kerap mendapat tempat sebagai pihak yang tersalahkan, bahkan saat mereka berada dalam posisi rentan. Salah satu contohnya terlihat pada kasus kekerasan di sebuah daycare di Yogyakarta yang sempat viral di media sosial. Puluhan anak mengalami kekerasan fisik dan verbal di tempat tersebut. Namun, alih-alih sepenuhnya menyoroti pelaku dan lemahnya pengawasan, sebagian respons publik justru mengarah pada ibu dari anak-anak tersebut.

Perempuan terpertanyakan: mengapa mereka menitipkan anak, mengapa mereka memilih bekerja, dan mengapa mereka tidak mengawasi secara langsung? Narasi ini menunjukkan bahwa beban pengasuhan masih sepenuhnya terelekatkan pada ibu. Bahkan ada salah satu komentar yang mengatakan “anak orang dididik sedangkan anak sendiri dititipkan” .

Padahal, keputusan untuk bekerja sering kali bukan semata pilihan, melainkan tuntutan ekonomi. Dalam situasi ini, mereka berada dalam posisi yang serba salah. Ketika bekerja, mereka teranggap mengabaikan anak. Namun ketika tidak bekerja, ia juga terstigma tidak berkontribusi secara ekonomi.

Baca Lainya  Kepemimpinan Perempuan Perspektif Tafsir Maqashidi

Beban Ganda dan Beban Sosial

Pola pada kasus tersebut memperlihatkan bahwa posisi seorang perempuan tidak hanya menghadapi beban ganda, tetapi juga beban sosial berupa penilaian dan stigma. Bahkan dalam situasi di mana mereka tidak sepenuhnya memiliki kontrol, mereka tetap menjadi pihak yang pertama kali tersalahkan.  Di titik inilah terlihat bahwa beban perempuan bukan hanya persoalan kerja dan tanggung jawab, tetapi juga persoalan cara pandang masyarakat yang belum sepenuhnya adil.

Namun, beban perempuan tidak berhenti cukup sampai di situ.  Ketika anak sakit, ibu tercap lalai. Ketika anak bermasalah, ibu ternilai gagal mendidik. Bahkan ketika anak tidak memenuhi standar sosial, ibu kembali menjadi sasaran kritik. Padahal sebenarnya pengasuhan anak itu bukan tanggung jawab ibu saja namun tanggung jawab bersama. Ada ayah dan ibu yang seharusnya berbagi peran secara adil. Namun realitas sosial justru menempatkan ibu sebagai pusat tanggung jawab, sementara peran ayah sering kali tidak tersorot dengan standar yang sama.

Kehidupan seorang perempuan sampai saat ini masih terikat adanya stigma patriarki di masyarakat bahwa mengurus anak teranggap tugas alami ibu, bukan tanggung jawab bersama antara dua orang tua. Akibatnya, ibu hidup dalam tekanan yang terus-menerus. Ia tertuntut untuk selalu benar, selalu sabar, dan selalu siap. Tidak ada ruang untuk salah, apalagi lelah.

Beban Mental yang Tak Terlihat

Tekanan yang terus-menerus ini melahirkan beban psikologis yang sering kali tidak tersadari. Banyak perempuan merasa bersalah sepanjang waktu, merasa tidak cukup baik, bahkan meragukan diri sendiri sebagai ibu. Padahal, yang terjadi bukan semata kegagalan personal, melainkan hasil dari ekspektasi sosial yang tidak adil.

Standar yang terbebankan terlalu tinggi, tetapi dukungan yang ada sangat minim. Ironisnya, masyarakat lebih mudah menghakimi daripada memahami. Perempuan mendapat tuntutan harus kuat, tetapi tidak mendapat ruang untuk rapuh.

Baca Lainya  Rekonstruksi Pola Pikir Masyarakat tentang Pendidikan Perempuan

Beban yang tak pernah usai ini menunjukkan bahwa persoalan kesetaraan belum benar-benar selesai. Memberi perempuan akses pendidikan dan pekerjaan saja tidak cukup jika seluruh tanggung jawab domestik masih menjadi bebannya. Kesetaraan seharusnya juga berarti pembagian peran yang adil, pengakuan terhadap kerja domestik, serta perubahan cara pandang terhadap peran ayah dan ibu dalam keluarga. Jika tidak, perempuan akan terus berada dalam lingkaran yang sama bekerja tanpa henti, menanggung beban tanpa jeda, dan tetap tersalahkan ketika sesuatu tidak berjalan sempurna.

Adanya hal ini tidak menempatkan perempuan sebagai pihak yang selalu menjadi korban. Namun, penting untuk melihat bahwa sistem yang ada sering kali membuat perempuan bekerja dua kali lebih keras, sekaligus menanggung tekanan yang lebih besar. Jika kita ingin berbicara tentang kemajuan, maka pertanyaannya bukan lagi apakah perempuan bisa bekerja. Pertanyaannya adalah: mengapa perempuan harus menanggung semuanya sendirian? Selama pertanyaan ini belum dijawab, beban itu akan tetap ada diam, tetapi nyata, dan tak pernah benar-benar usai.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *