Dekapan Islam pada “Mood” Perempuan

Sumber Gambar: keboncinta.com

Pernah tidak, hari ini rasanya pengin ketawa terus, tapi besok tiba-tiba diam dan menjauh dari semua orang? Jika pernah, tenang, itu bukan aneh tapi sebuah kenormalan seorang manusia. Namun, stigma masyarakat yang terjadi tidak selalu berbanding lurus dengan hal ini. Perubahan mood (suasana hati), terutama pada perempuan, sering tersalahartikan.

Kecewa sedikit orang bilang “lebay”, “drama”, atau “nggak stabil”. Padahal, mood swing itu bukan sekadar perubahan emosi tanpa alasan. Hal itu adalah respon alami tubuh dan pikiran terhadap apa yang sedang terjadi baik dari dalam diri maupun dari luar.

Masalahnya, standar sosial kita sering terlalu sempit. Emosi stabil teranggap dewasa, sedangkan emosi naik turun terasumsi lemah. Akhirnya banyak perempuan yang merasa harus “menahan”, “menutupi”, atau bahkan menyangkal perasaannya sendiri demi terlihat normal. Padahal, yang tertekan bukan cuma emosi tapi juga kejujuran terhadap diri sendiri.

Mood menurut Islam

Di titik ini, Islam sebenarnya punya sudut pandang yang lebih dalam dan manusiawi. Dalam Al-Qur’an, ada penjelasan bahwa manusia sebagai makhluk yang punya jiwa (nafs) dengan berbagai potensi termasuk emosi. Dalam Surah Asy-Syams tertulis bahwa manusia terilhami potensi baik dan buruk dalam dirinya. Artinya, dinamika batin termasuk perubahan mood itu bukan kesalahan. Itu bagian dari desain Tuhan.

Jadi kalau mood naik turun, itu bukan tanda kita lemah. Itu tanda kita hidup. Lebih jauh lagi, dalam Al-Qur’an surat Al-Isro’ ayat 84 juga menegaskan bahwa setiap orang bertindak sesuai dengan “pembawaannya”. Ini termasuk kondisi biologis dalam tubuh kita. Artinya, cara perempuan dan laki-laki dalam merasakan dan mengekspresikan emosi memang berbeda dan hal demikian adalah sebuah kewajaran.

Baca Lainya  Fenomena Ketakutan Menikah di Kalangan Generasi Z

Mood Tanda Hormon Bekerja

Dari sisi sains, penjelasannya makin jelas. Tubuh manusia punya hormon yang mengatur banyak hal, termasuk mood. Ada estrogen, progesteron, testosteron, oksitosin, dan kortisol. Semuanya ada di laki-laki dan perempuan, hanya saja takaran yang mempengaruhi kinerja hormon menjadi berbeda. Pada perempuan, estrogen dan progesteron punya peran besar dalam mengatur emosi.

Kedua hormon ini naik turun mengikuti siklus biologis, dan memengaruhi zat di otak yang mengatur suasana hati. Makanya, perempuan bisa merasa lebih sensitif, lebih empatik, tapi juga lebih mudah lelah atau sedih di waktu tertentu. Bukan karena lemah, tetapi karena sistemnya memang lebih kompleks.

Sementara itu, laki-laki cenderung lebih stabil karena dominasi testosteron. Namun bukan berarti mereka tidak punya emosi, cara mengekspresikannya saja yang berbeda. Lebih langsung pada tindakan. Lalu ada oksitosin, hormon yang bikin kita merasa dekat, nyaman, dan terhubung dengan orang lain. Hormon ini lebih kuat pengaruhnya pada perempuan. Itu sebabnya perempuan cenderung lebih hangat, lebih peduli, dan lebih “ngeuh” secara emosional dalam hubungan.

Dan jangan lupa kortisol, hormon stres. Saat stres datang, perempuan sering merasakannya lebih emosional karena efek gabungan hormon lain. Sedangkan laki-laki lebih sering menyalurkannya lewat tindakan atau menarik diri. Dari sini jelas satu hal, mood perempuan bukan drama tapi itu adalah sebuah biologis dan fitrah dari Allah Swt.

Namun Islam tidak berhenti di penjelasan. Islam juga mengajarkan cara mengelolanya. Dalam lanjutan surat Asy-Syams bahwa orang yang beruntung adalah yang mampu menyucikan jiwanya. Artinya, manusia punya tanggung jawab untuk merawat kondisi batinnya. Bukan dengan menekan emosi, tapi dengan mengenali dan mengelolanya.

Baca Lainya  Asmaraloka: Tradisi Perjodohan di Pesantren

Merawat Emosi

Jadi kuncinya bukan “jangan emosional”, tapi “bagaimana caranya tetap sadar saat emosional”. Merawat emosi itu bisa mulai dari hal sederhana: tidur cukup, makan teratur, bergerak, istirahat, dan yang tak kalah penting memberi ruang ke diri sendiri untuk merasa. Pun dengan doa dan refleksi, supaya hati tetap punya arah.

Di sinilah sains dan Islam bertemu. Sains menjelaskan “apa yang terjadi di tubuh kita”. Sementara Al-Qur’an menjelaskan “kenapa kita harus menjaganya”. Dua-duanya mengatakan hal yang sama: emosi itu bukan musuh. Jadi mungkin, daripada bilang “aku kenapa sih kok gini banget?”, kita bisa mulai mengganti pertanyaan dengan “aku butuh apa ya sekarang?”. Karena sebenarnya, mood itu bukan sesuatu yang harus kita lawan, itu merupakan sebuah pesan yang sebenarnya perlu kita dengarkan. 

Teruntuk perempuan, kamu bukan lebay. Kamu cuma sedang menjalani sistem tubuh dan perasaan yang luar biasa kompleks. Dan itu bukan kelemahan. Itu kekuatan. Pada akhirnya, Dengan kacamata sains dan kebijaksanaan Al-Qur’an, kita belajar bahwa satu hal yang sangat penting, memahami diri sendiri adalah bentuk ibadah, dan merawat emosi adalah bentuk rasa syukur.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *