Saya ingin mengawali tulisan ini dengan bercerita lebih dulu. Bulan lalu saya berkesempatan membedah buku di komunitas Serambi Kata. Komunitas kecil dengan agenda rutin membedah buku dalam berbagai genre setiap pekannya. Kebetulan buku yang saya pilih adalah karangan Badriyah Fayumi bertajuk Buat Apa Menikah? Mengapa Kita Takut dan Apa yang Selama ini Terlewat (2026).
Sekilas, buku karangan dari ulama perempuan, aktivis, salah satu pendiri Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) sekaligus pengasuh di Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits tesebut cukup meggelitik. Saya katakan demikian sebab sedari awal membaca judulnya sudah memunculkan ragam pertanyaan.
Maka, dalam tulisan ini, dari narasi judul yang tertera, agaknya menarik bila kita ulas secara sederhana dalam perspektif fonologi. Fonologi masuk dalam ilmu bahasa yang memfokuskan pada bunyi. Pandangan Mansur Muslich (2008) memaparkan soal material Bahasa tidak hanya kata, tetapi juga berfokus pada bahasa-bahasa bunyi ujar. Bunyi ujar tersebutlah yang kemudian masuk dalam kategori cabang linguistik mikro berupa fonologi.
Makna Berbeda
Apa kemudian kaitannya dengan judul buku? Sedangkan judul secara otomatis adalah bahasa tulis bukan bahasa lisan. Tajuk buku Buat Apa Menikah? bisa kita jelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis sederhana fonologi, yakni intonasi. Secara tertulis sah-sah saja apabila kita memaknainya sebagai kalimat tanya, apalagi terkuatkan dengan tanda tanya di bagian akhir. Namun, kalimat yang sama dapat memunculkan makna berbeda karena perbedaan intonasi, tekanan, tempo, dan jeda. Tampaknya tidak sesederhana apabila kita maknai dalam bahasa lisan, intonasi muncul untuk memberikan ragam makna dalam mengartikan judul tersebut. Intonasi yang berbeda dapat meguatkan hasil makna yang berbeda pula.
Barangkali begini, pertama, sebagai kalimat tanya, Buat Apa Menikah? terbaca sebagai betuk pertanyaan. Murni menanyakan apa dan bagaimana tujuan menikah tidak memiliki tendensi apapun. Seseorang benar-benar menanyakan alasan, apakah menikah untuk membangun keluarga, memperoleh pasangan hidup, memiliki keturunan, dan sebagainya. Dengan demikian, sudut pandang pertama ini sah termaknai sebagai kalimat tanya.
Kedua, sebagai narasi satire dan sinisme, Buat Apa Menikah?. Satire mengandung kritik terhadap realitas melalui sindiran, sedangkan sinisme merujuk pada keraguan atau pandangan yang negatif. Misalnya setelah melihat perceraian, KDRT, tekanan ekonomi, dan konflik rumah tangga lainnya. Secara struktur kalimat di atas memang pertanyaan, tetapi secara komunikatif ia justru dapat menjadi kritik, keraguan, ejekan, atau sindiran. Mempertanyakan esensi pernikahan yang kelihatannya makin ke sini makin tidak penting.
Ketiga adalah sebagai refleksi atas perenungan makna pernikahan yang ada, tajuk Buat Apa Menikah? justru diarahkan pada diri sendiri atau kepada persoalan kehidupan secara mendalam mengenai pernikahan. Mempertanyakan kembali makna pernikahan, bukan lagi dipahami sebagai tuntutan sosial semata tetapi pernikahan yang mampu menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan.
Berangkat dari Kegelisahan
Ketiganya memiliki makna yang berbeda. Padahal, sesuai gramatikal ketiganya memiliki pola yang sama. Setidaknya terdapat empat unsur penting: intonasi yang menentukan gerakan tinggi-rendah nada; tekanan menentukan kata yang dibuat lebih menonjol; tempo menunjukkan cepat-lambatnya ujaran; dan jeda dapat menciptakan penekanan serta suasana emosional. Makna ujaran tidak hanya ditentukan oleh kata dan struktur kalimat, tetapi juga bagaimana ujaran tersebut dibunyikan. Maka, seseorang akan banyak menemukan tafsiran dari sebuah judul buku yang sekilas terbaca sebelum mengetahui isinya.
Buku Buat Apa Menikah? sesungguhnya lahir dari kegelisahan. Kegelisahan karena pernikahan kerap kali dipahami secara sempit, terlalu rumit, sekadar kewajiban, status sosial, atau bahkan jalan keluar dari persoalan personal. Pertanyaan Buat Apa Menikah?tidak dimaksudkan sebagai penolakan, melainkan sebagai refleksi dan ajakan untuk berhenti sejenak, berpikir ulang, meresapi, dan menemukan kembali makna pernikahan yang sering kali terlewatkan (Fayumi, 2026).
Dengan demikian, meski dalam narasi judul yang penulis tayangkan sesungguhnya adalah bentuk kalimat reflektif, setidaknya ia berhasil melakukan kamuflase atas judul yang terusung. Tertambah lagi, Saya sebagai pembaca telah terjebak dalam ruang tafsir sejak pertama kali membaca. Bahkan Sebelum menyelami isi buku, tawaran judul telah lebih dulu “berbunyi” dalam kepala dengan intonasi yang berbeda-beda: sebagai pertanyaan, sindiran, bahkan perenungan. Di sinilah bahasa bekerja secara cerdik, satu susunan kata tetap sama, namun maknanya bergerak mengikuti cara kita membunyikan dan memaknainya.[]
