Saya percaya bahwa setiap dari kita adalah seorang penampil yang terampil. Bukan penampil dalam arti orang yang berdiri di atas panggung dan memainkan sebuah peran, melainkan seseorang yang, secara sadar ataupun tidak, terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan keadaan. Kita belajar membaca situasi, mengenali siapa yang sedang berada di hadapan kita, lalu menampilkan versi diri yang teranggap paling tepat untuk situasi tersebut.
Saya mengamatinya pada diri saya sendiri. Sosok saya ketika terkelilingi teman-teman bisa sangat berbeda dari sosok yang saya tampilkan ketika bersama keluarga. Ada versi diri yang muncul ketika sedang bekerja, versi lain ketika bertemu orang yang baru kita kenal, dan mungkin versi yang sama sekali berbeda ketika berhadapan dengan seseorang yang kita kagumi atau takuti.
Perbedaannya terkadang begitu halus sehingga kita sendiri tidak menyadarinya. Jika diperhatikan, kita sebenarnya terus-menerus mengganti “kulit” sosial kita. Saya seperti bunglon yang terus mengganti warna untuk bertahan hidup. Mungkin Anda juga melakukan hal yang sama. Kita menyesuaikan nada bicara, pilihan kata, ekspresi wajah, bahkan pendapat dan sikap, tergantung siapa yang berada di sekitar kita. Bukan selalu karena kita palsu.
Justru sering kali karena kita adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan orang lain, membutuhkan penerimaan, membutuhkan rasa aman, dan pada tingkat yang paling mendasar, kita mendambakan rasa memiliki. Sejak kecil, kita belajar bahwa menjadi bagian dari kelompok adalah sesuatu yang penting. Kita belajar kapan harus berbicara dan kapan sebaiknya diam. Pun tahu bahwa ada hal-hal tertentu yang bisa dibicarakan dengan teman, tetapi tidak dengan orang tua.
Kemampuan Adaptasi
Kita tahu bahwa ada perilaku yang dapat diterima di lingkungan tertentu, tetapi dianggap aneh di lingkungan yang lain. Sedikit demi sedikit, kita menjadi ahli dalam membaca ekspektasi orang lain. Masalahnya, kemampuan beradaptasi yang pada awalnya membantu kita bertahan hidup itu bisa menjadi begitu kuat hingga kita lupa seperti apa diri kita ketika tidak sedang menyesuaikan diri.
Di tengah kehidupan yang semakin ramai, pertanyaan itu terasa semakin penting: siapa sebenarnya diri kita ketika tidak ada orang lain yang melihat? Mungkin jawabannya tidak selalu menyenangkan. Sebab ketika sendirian, kita tidak lagi memiliki penonton yang harus dibuat terkesan. Tidak ada citra yang harus dipertahankan, tidak ada peran yang perlu dimainkan, dan tidak ada ekspektasi sosial yang harus dipenuhi.
Kita tidak perlu terlihat sukses, bahagia, bijaksana, kuat, menarik, atau bahkan baik. Kita hanya ada. Dan mungkin justru pada titik itulah kita berkesempatan bertemu dengan diri sendiri. Saya tidak sedang mengatakan bahwa versi diri kita ketika bersama orang lain adalah palsu. Kita memang memiliki banyak sisi, dan semuanya bisa sama-sama autentik. Manusia bukan benda dengan satu wajah tetap. Kita berubah mengikuti konteks, hubungan, pengalaman, dan perasaan.
Diri kita yang bercanda bersama sahabat tidak lebih palsu daripada diri kita yang diam ketika sedang bersama keluarga. Ada perbedaan antara memiliki banyak sisi dan kehilangan kontak dengan diri sendiri. Kita bisa begitu sibuk menjadi orang yang dibutuhkan oleh orang lain sampai tidak lagi tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Kita sibuk memenuhi harapan keluarga, menjaga perasaan teman, membangun citra profesional, mempertahankan hubungan, dan mengikuti standar sosial, sampai akhirnya hampir tidak pernah bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya saya ingin apa? Di sinilah kesendirian memperoleh makna yang berbeda.
Gambaran Kesepian
Masyarakat modern sering menggambarkan kesepian sebagai sebuah epidemi. Dan memang, rasa kesepian yang kronis bukan perkara sepele. Ketika seseorang merasa terputus dari orang lain, tidak memiliki hubungan yang bermakna, atau merasa tidak dipahami, dampaknya dapat menjalar ke banyak aspek kehidupan. Kita membutuhkan koneksi. Tidak ada gunanya menyangkal kenyataan tersebut. Tetapi sendirian tidak sama dengan merasa kesepian.
Keduanya sering kita campuradukkan, padahal pengalaman batin yang ditimbulkannya sangat berbeda. Kesepian adalah perasaan terputus. Kesendirian adalah keadaan berada bersama diri sendiri. Seseorang bisa berada di tengah pesta yang penuh orang tetapi merasa sangat kesepian. Sebaliknya, seseorang bisa duduk sendirian di sebuah kamar, menikmati secangkir kopi dan pikirannya sendiri, tanpa merasa kehilangan siapa pun.
Karena itu, mungkin yang perlu kita pelajari bukan bagaimana menghindari kesendirian, melainkan bagaimana menjadi lebih baik dalam menjalaninya. Kesendirian yang sehat memberi ruang bagi kita untuk mendengar suara yang biasanya tenggelam oleh kebisingan. Kita bisa membaca tanpa perlu memikirkan apakah orang lain menganggap buku itu keren. Pun bisa berjalan tanpa harus mengunggah perjalanan tersebut. Kita bisa makan tanpa memotret makanan.
Ruang Kesunyian
Kita bisa duduk diam tanpa merasa harus menjelaskan mengapa kita tidak melakukan apa-apa. Lebih penting lagi, kita bisa berpikir tanpa terus-menerus dipengaruhi oleh penonton. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa banyak keputusan penting dalam hidup justru lahir ketika kita sedang sendirian. Dalam kesunyian, kita punya kesempatan untuk membedakan keinginan kita sendiri dari keinginan yang selama ini kita serap dari orang lain.
Kita mulai menyadari mana ambisi yang benar-benar berasal dari dalam diri dan mana yang sebenarnya hanya keinginan untuk mendapatkan pengakuan. Kesendirian, dengan demikian, bukan semata-mata ketiadaan orang lain. Ia bisa menjadi sebuah ruang untuk berhenti tampil. Ruang untuk tidak perlu menjadi siapa-siapa.
Mungkin, paradoksnya, justru ketika kita semakin nyaman berada sendirian, kita menjadi lebih mampu hadir secara jujur bersama orang lain. Kita tidak lagi terlalu bergantung pada penerimaan mereka untuk merasa berharga. Pun dapat mencintai tanpa terus-menerus meminta pembuktian. Kita dapat berteman tanpa kehilangan diri sendiri. Serta kita dapat berada dalam sebuah kelompok tanpa merasa harus mengubah seluruh diri agar diterima.
Adapun tujuan kesendirian bukanlah membuat kita menjauh dari manusia lain. Justru sebaliknya. Kesendirian yang sehat bisa membantu kita kembali kepada orang lain sebagai diri yang lebih utuh. Kita tetap akan menjadi bunglon. Juga akan terus menyesuaikan diri, karena begitulah manusia bekerja. Kita akan memiliki banyak wajah dan memainkan banyak peran sepanjang hidup.
Di antara semua wajah itu, barangkali kita membutuhkan satu ruang yang tidak menuntut kita untuk tampil. Sebuah ruang ketika tidak ada yang menonton, ketika kita tidak perlu terlihat baik-baik saja, ketika kita akhirnya bisa bertanya, dengan jujur dan tanpa takut pada penilaian siapa pun: jika tidak ada seorang pun yang perlu saya buat terkesan, sebenarnya saya ingin menjadi siapa?[]
