Jika orang sering menganggap perempuan harus kuat menghadapi berbagai persoalan hidup, apakah laki-laki juga merasakan hal yang sama? Kondisi emosional laki-laki sering kali luput dari perhatian karena banyak orang melihat laki-laki sebagai sosok yang santai, tenang, dan seolah tidak memiliki beban pikiran. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar.
Mereka memilih menyembunyikan perasaan mereka karena takut orang lain menganggap mereka lemah. Kebiasaan menahan emosi membuat mereka sering berpura-pura kuat meskipun sebenarnya sedang berada dalam keadaan tidak baik-baik saja. Selain itu, banyak dari mereka menyimpan berbagai pikiran, rasa lelah, dan tekanan hidup tanpa menceritakannya kepada siapa pun.
Feby Putri menggambarkan kelelahan emosional seseorang ketika menghadapi hidup melalui lagu Runtuh (2021). Lagu ini seolah menjadi pengingat bahwa laki-laki juga manusia yang dapat merasakan rapuh dan berada di titik hampir runtuh, meskipun terlihat kuat dan tenang.
Tuntutan untuk Selalu Terlihat Kuat
Lingkungan sering membentuk laki-laki menjadi sosok yang kuat dan seakan tidak terjadi apa-apa, mereka belajar untuk tidak mudah menangis dan harus mampu menghadapi masalah sendiri. Akibatnya, mereka terbiasa menyembunyikan perasaan demi mempertahankan citra kuat di hadapan orang lain. Padahal, di balik sikap tenang itu ada banyak pikiran yang sebenarnya sedang berisik di dalam kepala mereka.
Dalam lagu Runtuh terdapat penggalan lirik Ku terbangun lagi/ Di antara sepi/ Hanya pikiran yang ramai//. Lirik tersebut terasa dekat dengan kehidupan. Tidak sedikit dari mereka yang memilih duduk sendiri di malam hari, minum kopi, atau sekadar merokok untuk menenangkan isi kepala. Malam menjadi tempat paling sunyi untuk berdamai dengan pikiran yang selama ini mereka pendam sendirian.
Selain itu, lirik lainnya mengalun: Ketika kau lelah/ bBerhentilah dulu/ Beri ruang, beri waktu//. Namun, realitanya laki-laki sering merasa tidak memiliki waktu untuk benar-benar berhenti. Berbagai tuntunan hidup membuat mereka harus kuat, tetap tenang, dan terlihat baik-baik saja, meskipun sebenarnya sedang lelah menghadapi hidup.
Jika seseorang terus memendam tekanan tersebut, kondisi itu dapat berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang, seperti kasus laki-laki bunuh diri di jembatan Cangar, Kota Batu yang sempat menjadi perhatian masyarakat. Karena itu, laki-laki juga membutuhkan ruang untuk bercerita dan memiliki pendengar, bukan hanya menghadapi tuntutan untuk selalu terlihat kuat.
Ruang Aman Menjaga Kesehatan Emosional Laki-laki
Selama ini, banyak orang sering menganggap bahwa laki-laki harus mampu menghadapi semua masalahnya sendiri. “Laki-laki tuh harus kuat, gak boleh nangis”, “Cowok kok gak bisa angkat barang berat? Lemah”, dan “Cowok harus berani”. Tanpa kita sadari, perkataan semacam itu termasuk bagian dari budaya patriarki yang menuntut laki-laki untuk selalu terlihat sesuai ekspektasi.
Ketika mereka tidak mampu memenuhi standar tersebut, banyak orang menilai mereka gagal menjadi laki-laki. Berbagai ekspektasi sosial mengharapkan mereka lebih cerdas, memiliki pekerjaan yang lebih baik, dan berpenghasilan lebih tinggi daripada perempuan.
Dalam lagu itu ada penggalan lirik lain: Kita hanyalah manusia yang terluka/ Terbiasa ‘tuk pura-pura tertawa/ Namun, bolehkah sekali saja ku menangis? Ku tak ingin lagi membohongi diri//. Laki-laki juga berhak menangis, berhak mengekspresikan emosi, menyampaikan rasa sakit, maupun mengungkapkan kelelahan yang selama ini mereka pendam sendiri. Menangis bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa setiap manusia memiliki batas dalam menghadapi hidup.
Sayangnya, banyak orang sering kali lebih menghargai laki-laki yang terlihat kuat dibandingkan mereka yang jujur terhadap perasaannya sendiri. Akibatnya, banyak yang memilih memendam semuanya sendirian karena takut dianggap lemah atau tidak pantas disebut “lelaki sejati”. Padahal, memendam terlalu banyak emosi hanya akan membuat seseorang semakin lelah secara mental.
Di sinilah pentingnya ruang aman bagi laki-laki untuk bercerita tanpa takut menerima penilaian negatif dari orang lain. Terkadang, mereka tidak membutuhkan solusi yang rumit, melainkan hanya seseorang yang mau mendengar dan memahami bahwa dirinya juga bisa merasa rapuh, seperti yang tergambar dalam lagu Runtuh karya Feby Putri dan Fiersa Besari.[]

