Dunia hari ini terlihat sebagai pasar raksasa yang tidak pernah tidur. Era saat informasi mengalir jauh lebih cepat daripada kemampuan otak manusia untuk memprosesnya. Kemudian kita tertuntut menjadi seorang pelari maraton yang tidak akan pernah mencapai sebuah garis finis. Di kantong kita, ada mesin kecil bernama ponsel yang setiap detiknya terus melakukan perlawanan terhadap sisi kemanusiaan kita.
Ponsel juga mempresentasikan rentetan pencapaian orang lain, paparan media sosial tanpa henti, dan tren yang berganti seolah tak memberikan napas. Mesin itu bekerja sangat keras untuk mencuri perlawanan berharga yang kita punya yaitu atensi.
Kita sedang berkelahi dengan mesin yang menuntut untuk selalu “ada” dan “terbaru”. Kecepatan informasi yang juga terpacu oleh kecerdasan buatan sudah memunculkan standar baru yang meletihkan. Jika kita tidak mengetahui isu pagi ini, kita teranggap seperti tertinggal selama satu dekade. Saat ini FOMO bukan lagi soal gaya hidup, terjadi pergeseran paradigma yang bermutasi menjadi kecemasan fugsional tentang relevansi diri. Kita tertuntut untuk menelan semua informasi, ikut setiap perdebatan di media sosial, serta memamerkan setiap pencapaian agar dunia tidak menganggap kita “mati”.
Namun di tengah kebisingan itu, ada sebuah oase bernama Joy of Missing Out (JOMO). Sebuah pemberontakan yang lebih mendasar yaitu keberanian tidak tahu, dan sebuah seni untuk memilih apa yang tidak perlu kita berikan ruang dalam kepala. Bukan tentang menjadi antisosial, tetapi upaya untuk mengambil kedaulatan atas atensi yang rasanya sudah seperti barang jarahan.
Menertibkan Lema “Harus”
Hambatan besar untuk tetap tenang seringkali bukan datang dari luar, tetapi dari “polisi internal” yang ada dalam pikiran kita. Kerap kali pikiran kita terkontaminasi dengan keberharusan. Harus tau isu ini, harus tau berita itu, harus ikut berkomentar, atau harus terlihat aktif dan produktif. Kita terjebak dengan delusi bahwa pikiran dan kecemasan kita apalagi pacuan untuk selalu update adalah jati diri yang sebenarnya. Padahal itu adalah pola emosional yang didorong oleh sistem aplikasi yang diciptakan dan membuat kita menjadi adiktif.
Dalam dunia psikologi ada istilah Cognitive Defusion, konsep Acceptance and Commitment Therapy (ACT)yang mempersuasif untuk memberikan jarak pada pikiran kita sendiri. Konsep yang mengajarkan bahwa kita perlu menyadari keinginan untuk mengecek ponsel atau keinginan untuk memvalidasi luka di media sosial adalah sebuah “peristiwa mental” bukan “perintah mutlak”. Daripada mengatakan “saya terluka”, konsep ini membawa kita kepada satu pemikiran “saya sadar saya sedang terluka”. Teknik ini tidak mengajarkan bahwa validasi dari sebuah emosi sebagai identitas mutlak yang harus kita pamerkan.
Saat rasa cemas takut tertinggal itu muncul, kita harus mampu memberikan jarak. Melakukan defusi artinya kita tidak lagi melebur dengan ketakutan tersebut. Sadar bahwa algoritma memang didesain untuk membuat kita merasa tidak cukup. JOMO aktif ketika kita tidak membiarkan pikiran reaktif memegang kendali atas apa yang kita tonton dan apa yang harus kita tahu.
Menanam Makna di Tanah Nyata
Pertanyaanya jika kita berhenti mengejar keriuhan di luar, energi itu lari kemana? jawabannya adalah sublimasi yakni mengalihkan dorongan emosional deskruktif itu menjadi daya cipta yang konstruktif. Di era yang serba instan ini, melakukan hal-hal yang manual dan “lambat” justru menjadi sesuatu yang mahal.
Alih-alih menghabiskan waktu untuk mendapatkan validasi digital yang sifatnya memberikan dopamin instan yang habis dalam hitungan detik, kita bisa mengalihkan energi itu untuk merawat “kebun” kita sendiri. Entah dengan menyelami literatur dari yang ringan hingga berat, atau sekadar melakukan interaksi tanpa distraksi dari notifikasi. Inilah sublimasi yang sempurna ketika kita tidak lagi membutuhkan “saksi” untuk setiap proses yang kita jalani dan belajar bahwa kedalaman jauh lebih berharga dibanding keluasan yang dangkal.
Otonomi dalam Ketidaktahuan
Akhirnya, kita harus berani untuk memilih “hak untuk tidak tahu”, memilih untuk tidak mengikuti tren atau drama yang fana. Bukan artinya kita mentup mata terhadap dunia secara total, tetapi itu adalah salah satu cara kita menjaga martabat emosional agar tetap memiliki cadangan energi untuk hal-hal yang memang esensial untuk kita pedulikan dalam hidup kita. Sadar bahwa kita tidak bisa memdulikan segalanya tanpa kehilangan diri kita dalam proses dan perjalanannya.
Ketidaktahuan yang disengaja (intentional ignorance) adalah pagar yang kita bangun untuk melindungi kesehatan mental dari polusi informasi. Era dimana semua orang merasa wajib memiliki opini atas segala hal, memiliki keberanian untuk berkata “Aku tidak tahu soal itu, dan aku tidak apa-apa dengan ketidaktahuanku” adalah sebuah kematangan intelektual. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa perhatian kita terbatas, dan kita hanya ingin memberikannya pada hal-hal yang benar-benar memberikan nutrisi bagi jiwa.[]

