Perempuan masa kini sering terhadapkan pada tuntutan yang kompleks. Mereka tertuntut mampu berprestasi di dunia pendidikan dan pekerjaan, berperan dalam keluarga, menjaga kesehatan mental, sekaligus tetap memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial. Di tengah tuntutan tersebut, sosok Siti Khadijah binti Khuwailid hadir sebagai teladan yang tidak terlekang oleh waktu.
Beliau bukan hanya terkenal sebagai istri pertama Nabi Muhammad saw. tetapi juga sebagai perempuan mandiri, pengusaha yang sukses, dan penopang perjuangan dakwah pada masa awal Islam. Kisah hidupnya dari Makkah memberi pelajaran berharga bagi perempuan masa kini, kemandirian bukan berarti hidup sendiri, melainkan memiliki kemampuan, keberanian, dan tanggung jawab untuk mengambil peran dalam kehidupan.
Siti Khadijah lahir di Makkah sekitar tahun 555–556 Masehi. Ia berasal dari keluarga Quraisy yang terhormat, yaitu Bani Asad. Ayahnya bernama Khuwailid bin Asad, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Za’idah. Sejak muda, Khadijah terkenal sebagai perempuan yang cerdas, jujur, berwibawa, dan berakhlak mulia. Masyarakat Makkah bahkan menjulukinya ath-Thahirah, yang berarti “yang suci”, karena kesucian akhlak dan perilakunya.
Siti Khadijah lahir dan besar di Makkah, ketika saat itu masyarakat yang pada masa itu masih sangat memegang nilai-nilai patriarki. Perempuan sering terpandang terbatas dalam urusan publik, termasuk perdagangan dan pengambilan keputusan. Namun, Siti Khadijah mampu menembus batasan tersebut. Dia terkenal sebagai saudagar terpandang yang mengelola usaha perdagangan secara luas, termasuk mengirimkan barang ke wilayah Syam melalui sistem kemitraan. Keberhasilannya menunjukkan bahwa perempuan dapat memiliki peran besar dalam bidang ekonomi tanpa kehilangan kehormatan dan juga martabatnya.
Kemandirian Usaha
Kemandirian Siti Khadijah tidak hanya terlihat dari kekayaannya, tetapi juga dari cara ia mengelola usaha. Ia memiliki kemampuan memilih mitra kerja, menilai kejujuran seseorang, dan mengambil keputusan yang tepat. Salah satu contohnya adalah ketika ia mempercayakan Nabi Muhammad saw. yang saat itu belum menjadi nabi, untuk memimpin perjalanan dagangnya. Kepercayaan tersebut menunjukkan kecerdasan Siti Khadijah dalam membaca karakter dan kemampuan seseorang. Bagi perempuan masa kini, hal ini menjadi pengingat bahwa kemandirian mulai dari kemampuan berpikir kritis, percaya diri, dan berani mengambil keputusan.
Lebih dari sekadar pengusaha, Siti Khadijah juga merupakan perempuan yang berani mengambil peran dalam perubahan sosial. Ketika Nabi Muhammad saw. menerima wahyu pertama dan menghadapi kecemasan yang mendalam, Siti Khadijah justru menjadi orang pertama yang meyakini kebenaran risalahnya. Dia menenangkan nabi, memperkuat imannya, dan memberikan dukungan moral yang sangat besar. Dukungan tersebut tidak berhenti pada kata-kata; Siti Khadijah juga menggunakan hartanya untuk menopang dakwah Islam, membantu nabi, serta melindungi kaum muslim awal yang menghadapi tekanan dari masyarakat Quraisy.
Di sinilah terlihat sisi kemandirian yang lebih dalam dari Siti Khadijah. Dia mandiri bukan untuk hidup egois, melainkan untuk memiliki kekuatan dalam membantu orang lain. Harta yang ia miliki tidak hanya tergunakan untuk kemewahan pribadi, tetapi juga untuk kepentingan keluarga, komunitas, dan perjuangan yang dia yakini. Ia menjadi contoh bahwa perempuan yang kuat secara ekonomi dapat menjadi sumber kebaikan bagi banyak orang. Nilai ini sangat relevan bagi perempuan masa kini, terutama dalam menghadapi isu keterbatasan akses pendidikan, pekerjaan, dan kesetaraan gender.
Finansial, Dakwah, dan Kemanusiaan
Perempuan masa kini dapat belajar banyak hal dari Siti Khadijah. Pertama, kemandirian finansial penting karena memberikan kebebasan dan rasa aman dalam mengambil keputusan hidup. Perempuan yang mampu mengelola keuangan, mencari penghasilan, atau mengembangkan keterampilan akan lebih siap menghadapi tantangan hidup. Kedua, kemandirian juga berarti memiliki keberanian untuk menentukan pilihan. Siti Khadijah tidak ragu mendukung Nabi Muhammad saw. meskipun dakwah Islam pada masa itu menghadapi penolakan dan tekanan yang besar. Keberanian semacam ini oleh perempuan masa kini butuhkan ketika harus memilih pendidikan, karier, maupun peran sosialnya.
Ketiga, Siti Khadijah mengajarkan bahwa kesuksesan tidak menghapus sisi kemanusiaan. Dia tetap menjadi istri yang penyayang, ibu yang mengurus keluarga, serta sahabat yang setia bagi Nabi Muhammad saw. Beliau mampu menyeimbangkan peran ekonomi, keluarga, dan sosial. Tentu saja, keseimbangan tersebut tidak berarti perempuan harus mampu melakukan segala hal sendirian tanpa bantuan. Justru, teladan Siti Khadijah menunjukkan pentingnya kerja sama, komunikasi, dan saling mendukung dalam keluarga. Nabi Muhammad saw. juga memberikan penghargaan dan kepercayaan kepada Siti Khadijah, sehingga hubungan mereka terbangun atas kasih sayang dan kesetaraan dalam tanggung jawab.
Tumbuh Berkontribusi
Dari Makkah hingga masa kini, pesan utama dari kehidupan Siti Khadijah tetap menjadi pedoman utama yakni, perempuan memiliki kemampuan untuk tumbuh, berkontribusi, dan mengubah keadaan. Kemandirian bukan hanya soal memiliki uang atau pekerjaan, tetapi juga soal memiliki keyakinan, ilmu, keberanian, dan empati. Perempuan masa kini dapat meneladani Siti Khadijah dengan terus belajar, mengembangkan keterampilan, menghargai diri sendiri, serta menggunakan kemampuannya untuk kebaikan bersama.
Siti Khadijah wafat di Makkah pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, atau sekitar tahun 619 Masehi. Ia wafat pada usia sekitar 65 tahun, sekitar tiga tahun sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Tahun wafatnya sering kita sebut sebagai ‘Amul Huzn atau tahun kesedihan. Karena pada tahun yang sama Abu Thalib, paman sekaligus pelindung Nabi Muhammad saw. juga wafat. Kehilangan dua sosok terpenting ini sangat menyentuh hati Nabi Muhammad saw.
Pada akhirnya, Siti Khadijah bukan hanya tokoh sejarah yang hidup di masa lampau. Ia adalah cermin bagi perempuan masa kini yang ingin menjadi mandiri tanpa kehilangan kelembutan, sukses tanpa melupakan tanggung jawab sosial, dan kuat tanpa kehilangan ketulusan. Dari kisahnya, perempuan masa kini belajar bahwa kemandirian sejati adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, sekaligus keberanian untuk mengangkat orang lain. Bukan berati kamu seorang perempuan kamu tidak bebas untuk berpartisipasi dalam seluruh aspek tatanan kehidupan. Kemandirian tetap dibutuhkan oleh seorang perempuan, tanggap melangkah lebih jauh dan terarah.[]
