Maulid Kehilangan Makna: Kontroversi Simbang Kulon Night Carnival

Sumber Gambar: gemini.google.com

Beberapa hari terakhir, masyarakat terhebohkan oleh sebuah pertunjukan dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Karnaval yang tergelar pada Kamis malam, 10 September 2026, tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. dan khitanan massal. Namun, sebuah pertunjukan teatrikal justru menjadi sorotan setelah videonya tersebar luas di media sosial.

Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah peserta mengenakan kostum dan riasan menyeramkan, membawa peti mati, serta mempertunjukkan adegan penyembelihan kambing. Beberapa unsur visual dalam pertunjukan tersebut kemudian masyarakat nilai memiliki kemiripan dengan simbol atau gambaran yang terkenal dalam satanisme dan okultisme. Karena itulah muncul istilah “ritual satanik” yang kemudian ramai warganet gunakan untuk menggambarkan pertunjukan tersebut.

Namun, ada satu hal yang perlu kita bedakan: kemiripan visual dengan simbol satanisme tidak otomatis membuktikan bahwa pertunjukan tersebut merupakan ritual pemujaan setan. Sampai saat ini, tidak ada keterangan resmi yang membuktikan bahwa acara tersebut memang bermaksud sebagai ritual satanik. Bahkan, salah satu pihak yang terlibat dalam pertunjukan mengaku tidak memahami makna satanisme dan mengatakan bahwa konsep tersebut mereka ambil karena mereka anggap unik.

Tanggung Jawa Kreativitas

Justru di sinilah persoalan yang lebih besar muncul. Sebuah karya seni atau pertunjukan memang boleh menggunakan unsur horor, misteri, bahkan simbol yang kontroversial. Kreativitas tidak harus selalu monoton. Akan tetapi, kreativitas juga membutuhkan tanggung jawab. Ketika sebuah pertunjukan masuk ke dalam acara yang berkaitan dengan maulid nabi dan kegiatan keagamaan masyarakat, tentu wajar apabila masyarakat mempertanyakan apakah konsep yang terpilih benar-benar sesuai dengan suasana dan tujuan acara?

Baca Lainya  Perempuan dalam Kuasa Media Digital

Maulid nabi pada dasarnya bukan sekadar sebuah momentum untuk mengadakan keramaian. Ia berkaitan dengan upaya mengingat kembali kehidupan, akhlak, perjuangan, dan keteladanan Nabi Muhammad saw. Karena itu, segala bentuk hiburan yang mengiringinya seharusnya setidaknya mempertimbangkan nilai, norma, dan sensitivitas masyarakat yang hadir.

Masalahnya bukan semata-mata karena ada kostum menyeramkan. Masalahnya adalah ketika sebuah pertunjukan menampilkan peti mati, simbol yang ternilai menyerupai ikonografi satanisme, lilin, serta penyembelihan kambing secara terbuka, maka sangat wajar apabila masyarakat bertanya: apa sebenarnya pesan yang hendak mereka sampaikan?

Apabila tujuan pertunjukan hanya untuk memberikan kejutan kepada penonton, tentu masih banyak bentuk kejutan lain yang ada tanpa menggunakan simbol atau adegan yang berpotensi menimbulkan persepsi sebagai ritual keagamaan yang bertentangan dengan nilai acara. Seni boleh mengejutkan. Namun seni juga perlu tahu batas.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah persoalan koordinasi penyelenggara. Perwakilan panitia SKNC menyatakan bahwa pihak panitia tidak mengetahui secara detail kejadian atau maksud dari penampilan tersebut. Pemerintah Kabupaten Pekalongan kemudian menyatakan akan memanggil panitia untuk klarifikasi dan berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pelajaran Penting

Kalau benar panitia memang tidak mengetahui isi pertunjukan tersebut sebelumnya, maka peristiwa ini seharusnya menjadi pelajaran serius tentang pentingnya pengawasan terhadap setiap penampil dalam acara publik. Tidak cukup hanya membuat susunan acara lalu menyerahkan sepenuhnya kepada peserta. Setiap pertunjukan yang akan tampil di depan masyarakat seharusnya penyelenggara ketahui konsepnya terlebih dahulu. Terlebih apabila acara tersebut terhadiri tokoh masyarakat, ulama, pemerintah desa, dan masyarakat umum. Kejutan memang bisa menjadi bagian dari hiburan. Namun “surprise” bukan berarti penyelenggara boleh kehilangan kendali terhadap apa yang kepada publik pertontonkan.

Baca Lainya  Untuk Apa Kita Belajar dan Bekerja?

Jika sebuah pertunjukan ternyata menyimpang dari konsep yang disepakati, seharusnya ada mekanisme untuk menghentikan atau setidaknya mengevaluasinya ketika pertunjukan berlangsung. Ini bukan persoalan membatasi kreativitas, melainkan memastikan bahwa kreativitas tersebut tetap berada dalam koridor acara dan tidak menimbulkan keresahan. Di sisi lain, masyarakat juga perlu berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Viral bukan berarti semua narasi yang beredar otomatis benar.

Salah satu kabar yang ikut beredar adalah mengenai meninggalnya seorang peserta setelah mengikuti karnaval. Polisi menyebut peserta tersebut, Ahmad Faiz, meninggal beberapa jam setelah acara. Namun, informasi yang tersedia tidak membuktikan bahwa kematiannya disebabkan oleh pertunjukan ataupun hal-hal yang disebut “satanik”. Keluarga juga tidak bersedia dilakukan autopsi. Karena itu, menghubungkan kematian tersebut secara langsung dengan pertunjukan adalah kesimpulan yang belum memiliki dasar yang cukup.

Kita boleh merasa aneh. Boleh juga mengritik. Serta boleh mempertanyakan penggunaan simbol tertentu. Namun kita juga harus tetap membedakan antara fakta, dugaan, interpretasi, dan rumor. Justru sikap seperti itulah yang diperlukan di tengah derasnya informasi media sosial.

Mengambil Ibrah

Terlepas dari apakah pertunjukan tersebut memang dimaksudkan sebagai ritual atau hanya pertunjukan teatrikal yang meniru simbol tertentu, ada pelajaran yang bisa diambil. Setiap acara yang membawa nama maulid nabi, kegiatan keagamaan, atau kegiatan masyarakat harus dirancang dengan mempertimbangkan nilai yang ingin dibawa. Jangan sampai keinginan untuk membuat acara semakin spektakuler justru membuat pesan utamanya hilang.

Tak ada salahnya membuat karnaval yang meriah. Pun tak ada salahnya membuat pertunjukan yang unik. Serta tak ada salahnya membuat penonton terkejut. Tetapi kejutan tidak harus berupa sesuatu yang mengundang kontroversi besar. Kreativitas masih sangat luas: seni budaya, sejarah Islam, kisah perjuangan, tradisi lokal, pertunjukan cahaya, musik, teatrikal edukatif, dan berbagai bentuk kesenian lain dapat menjadi pilihan. Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang apakah masyarakat boleh menikmati hiburan atau tidak.

Baca Lainya  Pola Komunikasi Pemerintah dengan Rakyat dalam Demokrasi Modern

Persoalannya adalah apakah sebuah hiburan ditempatkan pada konteks yang tepat. Jika ingin membuat pertunjukan horor, buatlah dengan konsep yang jelas dan tempat yang sesuai. Atau kalau ingin membuat pertunjukan budaya, angkatlah budaya. Pun jika ingin memperingati maulid nabi, buatlah sesuatu yang tetap mencerminkan nilai dan keteladanan nabi Muhammad saw. Sebab tidak semua sesuatu yang dianggap unik harus dipertontonkan dalam setiap kesempatan.

Kreativitas membutuhkan kebebasan, tetapi kebebasan juga membutuhkan tanggung jawab. Dan dalam sebuah acara keagamaan, tanggung jawab tersebut bukan hanya kepada penonton, tetapi juga kepada nilai dan tujuan dari acara itu sendiri. Meriah boleh. Kreatif tentu boleh. Mengejutkan juga boleh. Tetapi jangan sampai demi terlihat berbeda, kita justru lupa membedakan mana konsep yang sesuai dengan acara dan mana yang seharusnya tidak perlu dibawa ke dalamnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *