Masa Depan yang Hampir Karam

Sumber Gambar: warungsatekamu.org

Daku berjalan di atas tebing yang hampir karam, terjatuh tersungkur bila tak hati-hati melangkah. Sesekali aku berpikir seperti itu. Masa depan yang hampir karam mengingatkanku bahwa tidak ada jaminan otomatis dalam sejarah manusia, hanya upaya sadar yang bisa mengubah arah. Ada saatnya manusia percaya masa depan adalah janji tebal yang tak tergoyahkan, kemajuan yang pasti, pertumbuhan terus-menerus, dan arus infotmasi sebagai dermaga yang membawa kita lebih jauh dari badai.

Namun akhir-akhir ini janji itu bergeser menjadi gelombang yang mengancam. Ada masanya, kepalaku terkekang oleh asumsi bagaimana jika aku tidak bisa sukses nanti. Padahal ketika kecil hampir setiap saat aku hanya ingin tidur, bermain, menyantap jajan di depan sekolah atau bahkan sangat bahagia bersepeda santai bersama teman-teman kecilku. Dan, ya, dunia berputar, terus berjalan, dan tidak menentukan apakah kita siap menerima hal baru atau mengakhiri yang sudah ada.

Aku sadar bahwa aku mungkin tidak cukup pintar atau tangkas dalam memahami sesuatu secara cepat. Tuntutan hidup serba on point, disiplin dan selalu siap kita ajarkan oleh keluargaku. Tidak ada kata terlambat, atau bahkan tidak hadir. Namun apalah daya aku adalah sosok manusia santai yang sangat minim meminimalisir sesuatu.

***

Tumbuh remaja di zaman yang serba internet, online dan serba QRIS membuatku agak canggung dengan duniaku dulu. Dan itu membuat perubahan drastis yang kualami hingga saat ini. Kadang tidak tertolerir oleh seberapa lama aku main gadget, sosial media, dan lainnya. Hal tersebut membuatku jadi diri yang berbeda, di hadapan orang lain dan saat bersama gadget. Fenomena yang membuatku mudah terbawa arus oleh ritmenya. Kadang memotivasiku untuk semangat maju, kadang pula menghancurkan ekspektasi tinggi yang sudah kubayangkan. Sarkas memang, tapi itu yang terasa. 

Baca Lainya  Kampus dan Stereotipe Pemimpin Perempuan

Impianku masuk Universitas Diponegoro Semarang. “Wah, keren banget ya di sana”, ujarku dari aku masuk SMP. Entah kenapa aku juga tidak terlalu mengusahakannya dengan giat, selain karna faktor ekonomi orang tuaku, faktor jarak tempuhnya pun membuatku ragu. Ragu memilih, ragu melangkah, dan bahkan ragu untuk mencoba. Saat itu, kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Sakit gagal ginjal bapak stadium akhir, dan sudah sampai ke saraf otak.

Apakah aku bisa meninggalkannya? Sedangkan semua tanggung jawab berada di tanganku. Anak tunggal dengan segala keruwetannya, tersuguhi berbagai kesempatan membuat keputusan. Aku berhenti sejenak sambil menghela, aku harus tetap ada di sebelah bapak apapun alasannya, apapun badainya dan seberapa keras dokter memarahiku aku akan terima. Aku hampir patah, bukan lagi.

***

Bolak-balik rumah sakit selama hampir empat bulan berturut-turut tiada henti. Keluargaku menghentikan langkahku, “Nduk, tetap harus kuliah apapun kondisine biar bapak senang, mau jadi apa nanti?” sehari bisa tiga kali kudengar kalimat itu masuk di telingaku. Alhasil, aku memutuskan mencoba ikut ujian di universitas impian bapak. Opsi ke dua ialah Universitas Negeri Surakarta (UNS). Belum aku mencoba dan akhirnya keterima di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta. Alhamdulillah, keterima di universitas impian bapak, dan itu satu-satunya hadiah yang bisa kupersembahan saat bapak masih ada. Bisa aku bilang kenang-kenangan terakhir untuk bapak. 

Sejauh apapun aku mencoba mundur, pasti ada saatnya doa ibu menarikku untuk tetap melangkah maju. Kekhawatiran tetap ada, keraguan untuk tetap singgah di tempat yang tidak nyaman jelas terus menghantuiku. Suatu ketika aku benar-benar merasa harus berhenti mengejar gelar sarjana, aku harus menggantikan raga bapak dan menjaga ibu selama masih bisa berdiri tegak. Prinsipku. Sudah hampir mengambil cuti, tapi tetap dan selalu mendapat kemudahan dan ketenangan dalam mengambil keputusan selanjutnya.

Baca Lainya  Saya Melihat Mereka Berjuang: Di Balik Kisah Bangku Kuliah Perempuan

***

Ada yang membuatku yakin atas apa yang sudah kulewati adalah takdir, qodarullah. Tidak bisa dihentikan dan sudah tertakar tidak akan tertukar. Perjalanan itu menyadarkanku, bagiku saat ini setiap pengalaman harus memberikan pelajaran yang setara, seirama, dan serasa. Bisa jadi orang disekitar membuat kita jauh lebih hebat dari sebelumnya. Bisa juga malah membuat kita mundur sejauh-jauhnya.

Jadi, hati-hati dengan langkah yang kita tuju, jangan sampai masuk jebakan yang kita sendiri tidak ingin memperlambat waktu untuk sampai pada titik kemenangan. Jika kita memilih aksi yang bijak sekarang, kapal yang tampak hampir karam masih bisa diselamatkan namun jika tidak, kita mungkin hanya menunggu air menenggelamkan cerita yang seharusnya bisa dikenang sepanjang masa. 

Selalu ada tempat untuk mengadu dan bercerita, menengadah dan bersandar selagi masih bernyawa. Beberapa kali kapalku hampir tenggelam atau bisa ditenggelamkan, karenanya hatiku yang tidak cukup kuat menahan volume air yang tinggi, atau nahkoda kapalku yang sempat hilang arah saat melaju. Sekiranya aku terlalu sibuk merancang masa depan, sampai lupa bahwa akan ada angin atau badai yang menerpa dari arah berlawanan yang bisa datang dari mana saja.

Ragaku tidak selalu kokoh, benteng penguatku bisa saja tiba-tiba retak dan semua itu akan mudah hancur ketika pelindung diri ini mudah goyah. Aku berharap dan akan berusaha semua cita-cita orang tuaku tidak akan kuhentikan di tengah perjalanan. Itu bukan sekedar angan, justru impian terindah yang akan kuberikan kepada ibu dan alm bapak tercinta nantinya. Tunggu, ya, Allahu Akbar![]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *