Hingga hari ini, stigma bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena akhirnya akan kembali ke dapur masih terus masyarakat rawat. Pikiran tersebut jelas tidak masuk akal, sebab mengurus rumah tangga dan mendidik anak justru membutuhkan kecerdasan yang matang. Ada kontradiksi besar ketika masyarakat menuntut lahirnya generasi masa depan yang cerdas, namun membatasi ruang belajar bagi para calon ibunya. Perempuan merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya, jika perempuan mendapat batasan dalam pendidikan, maka tidak akan bisa menciptakan generasi penerus yang cerdas dan memiliki wawasan yang luas.
Pendidikan adalah investasi terbaik yang oleh orang tua berikan kepada anaknya. Oleh karena itu, stigma menganggap perempuan hanya sebatas dapur perlahan harus kita ubah narasinya. Perempuan tidak harus memilih salah satu antara dapur dan pendidikan. Perempuan harus mampu menguasai keduanya, mampu untuk memiliki gelar tinggi dan mampu dalam mengelola rumah tangga. Hal itu merupakan paket kombo luar biasa yang sudah semestinya khalayak dukung, bukan malah mencibirnya.
Ukuran Materi Pendidikan
Stigma negatif ini tumbuh karena masyarakat sering kali salah kaprah dalam memandang pentingnya pendidikan. Pendidikan hanya teranggap sebagai tiket untuk mencari kerja atau alat untuk meraup gaji yang besar. Jika tolok ukurnya masih soal uang, stigma tersebut tidak akan pernah hilang. Faktanya, dalam realitas dunia kerja, pendapatan laki-laki secara umum memang masih kerap lebih besar daripada perempuan ketika bekerja.
Akibatnya, hinaan terhadap perempuan yang sedang menempuh pendidikan tinggi menjadi sangat tajam dan menusuk hati. Dengan begitu membuat perempuan merasa diremehkan dan direndahkan saat sedang berada dalam masyarakat yang memiliki stigma “perempuan tidak harus berpendidikan tinggi karena ujung-ujungnya juga di dapur.”
Namun, bagi kaum mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan tinggi, cibiran tersebut justru menjadi bahan bakar motivasi, bukan alasan untuk mundur. Rasa sakit hati tentu ada, tetapi jika perempuan terus-menerus larut dalam kesedihan, mereka akan hanyut dalam arus stigma masyarakat dan malah membenarkan pandangan keliru bahwa perempuan memang tidak pantas untuk kuliah di era pandangan masyarakat yang masih rendah akan pentingnya pendidikan ini. Di tengah masyarakat yang kesadaran pendidikannya masih rendah, kaum mahasiswi harus membawa ambisinya untuk membuktikan bahwa pendidikan tinggi adalah senjata terbaik bagi perempuan untuk mandiri dan meruntuhkan tembok stigma tersebut.
Sebab, pendidikan yang sesungguhnya tidak pernah terbatas pada urusan slip gaji, melainkan tentang pembangunan karakter dan logika berpikir. Seorang perempuan yang menempuh pendidikan tinggi sebenarnya sedang melatih otaknya untuk berpikir kritis, memecahkan masalah secara sistematis, dan memperluas cakrawala pandangnya. Melalui proses itulah, ilmu yang perempuan dapat di bangku kuliah akan membentuk watak, kedewasaan, dan cara bersikap yang berbeda dari mereka yang tidak menempuh pendidikan.
Pendidikan Tidak Pernah Sia-Sia
Hinaan masyarakat awam yang terus berlanjut akhirnya memunculkan sebuah pertanyaan besar: “Apakah salah jika seorang perempuan menyandang gelar sarjana, magister, bahkan doktor?” Jawabannya adalah sama sekali tidak ada yang salah. Stigma masyarakatlah yang keliru. Mengapa keliru? Karena sebagian besar dari mereka belum memahami esensi dari pendidikan itu sendiri. Pola pikir ini akan terus berlanjut jika masyarakat tidak mendapat edukasi mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan.
Bahkan, jika seorang perempuan yang memiliki gelar tinggi pada akhirnya memilih untuk fokus di ruang domestik, hal itu tetap tidak bisa kita salahkan. Dapur di tangan seorang perempuan yang berpendidikan akan terkelola dengan ilmu nutrisi, manajemen waktu yang efisien, dan higienitas yang terjaga. Rumah tangga di tangan perempuan berpendidikan juga akan memiliki tata kelola keuangan yang lebih stabil serta pola komunikasi yang lebih sehat. Pendidikan tidak pernah sia-sia, karena ia melekat pada kualitas diri manusia, bukan pada gedung kantor tempatnya bekerja.
Jika masyarakat mau jujur melihat kenyataan, sosok pertama yang mengajari seorang anak berbicara adalah ibu. Sosok yang pertama kali mengenalkan konsep benar dan salah, serta mendampingi anak-anak belajar saat mereka kesulitan memahami tugas sekolah, sebagian besar jawabannya adalah seorang ibu. Ketika masyarakat membatasi sekolah untuk anak perempuan, mereka sebenarnya sedang membatasi masa depan generasi penerus bangsa itu sendiri. Ibu yang cerdas akan membesarkan anak yang cinta ilmu. Jika seorang ibu memiliki wawasan yang luas, ia akan mampu membimbing rasa ingin tahu anaknya tentang dunia. Bagaimana mungkin sebuah bangsa bisa maju, jika sosok ibu yang menjadi guru pertama di rumah justru tidak mendapat kesempatan untuk menjadi pintar?
Menggugat Pembatasan Pendidikan Berbasis Gender
Mengatakan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi, karena pada akhirnya akan “kembali ke dapur” adalah bentuk penghinaan terhadap kapasitas intelektual manusia. Tuhan memberikan akal pikiran kepada laki-laki dan perempuan dengan potensi yang sama untuk dikembangkan. Oleh karena itu, membatasi hak pendidikan berdasarkan gender sama saja dengan menyia-nyiakan setengah dari potensi kecerdasan yang ada di dunia.
Lagi pula, untuk apa manusia diciptakan dengan bekal perasaan dan pikiran yang sama jika seluruh peran hidupnya harus ditentukan oleh gender? Jika semua hal diukur dari jenis kelamin, keberadaan perempuan seolah-olah dianggap tidak ada nilainya. Sistem berpikir seperti ini membuat masyarakat lupa bahwa perempuan dilahirkan bukan untuk dibatasi oleh stigma, melainkan untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh melalui ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, memberikan kesempatan bagi perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi bukanlah tentang memilih antara karier atau dapur. Pendidikan adalah hak dasar setiap manusia untuk bertumbuh. Mengizinkan perempuan belajar setinggi mungkin berarti sedang berinvestasi pada kecerdasan generasi masa depan. Oleh karena itu, stigma usang ini sudah sepatutnya diakhiri. Sebab, perempuan yang berpendidikan tinggi, di mana pun mereka memilih untuk mengabdikan ilmunya, baik di kantor maupun di dalam rumah tangga akan selalu menjadi fondasi terkuat bagi kemajuan sebuah bangsa.[]

