“Lagi sibuk apa sekarang?”. Kalimat itu mungkin sudah terdengar akrab di telinga mahasiswa. Saat bertemu teman, topik mengenai lomba, organisasi, kepanitiaan, magang atau berbagai aktivitas lain sering muncul dalam percakapan. Banyak orang menganggap hal tersebut sebagai obrolan biasa. Namun, kebiasaan saling menanyakan kesibukan sebenarnya menunjukkan sebuah fenomena yang dapat menimbulkan keraguan. Tanpa sadar, banyak mahasiswa mulai menghubungkan nilai diri dengan seberapa banyak kegiatan yang mereka jalani. Semakin padat jadwal seseorang, semakin besar pula penghargaan yang sering ia peroleh dari lingkungan sekitarnya.
Mahasiswa tentu perlu mengembangkan kemampuan dan menambah pengalaman. Kampus menawarkan berbagai kesempatan untuk mencapai tujuan tersebut. Organisasi, kepanitiaan, kompetisi, pelatihan, hingga program magang dapat membantu mahasiswa memperluas wawasan sekaligus mempersiapkan masa depan. Berbagai kegiatan itu memiliki manfaat yang besar apabila seseorang menjalaninya sesuai kebutuhan dan tujuan yang jelas.
Masalah muncul ketika kesibukan tidak lagi berfungsi sebagai sarana pengembangan diri, melainkan sebagai alat untuk memperoleh pengakuan. Banyak mahasiswa merasa perlu terus aktif agar orang lain menganggap mereka produktif dan berkembang. Mereka khawatir dan merasa tertinggal ketika tidak memiliki aktivitas yang dapat mereka ceritakan. Akibatnya, mereka menambah berbagai kegiatan tanpa mempertimbangkan kapasitas maupun kebutuhan pribadi.
Antara Pengembangan Diri dan Pengakuan Sosial
Fenomena tersebut tidak hanya muncul dalam kehidupan mahasiswa, tetapi juga mendapat perhatian dari para ahli psikologi. Menurut Natalie Dattilo, psikolog klinis dan instruktur di Harvard Medical School, terdapat kondisi yang dikenal sebagai toxic productivity, yaitu dorongan untuk terus produktif secara berlebihan hingga seseorang mengabaikan kebutuhan fisik maupun mentalnya.
Dalam kondisi ini, seseorang merasa harus selalu melakukan sesuatu agar tetap dianggap berhasil dan bernilai. Akibatnya, waktu istirahat sering memunculkan rasa bersalah, sementara kesibukan terus menjadi tolok ukur keberhasilan. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kesibukan yang berlebihan tidak selalu membawa manfaat, tetapi juga dapat mengganggu kesejahteraan seseorang.
Media sosial turut memperkuat kecenderungan tersebut. Setiap hari, mahasiswa menyaksikan unggahan tentang prestasi, sertifikat, jabatan organisasi, dan pengalaman magang. Berbagai pencapaian itu sering memunculkan dorongan untuk membandingkan kualitas diri dengan orang lain. Ketika melihat teman-temannya tampak berhasil, sebagian mahasiswa merasa tertinggal meskipun sebenarnya mereka memiliki proses dan tujuan yang berbeda. Perasaan tersebut mendorong mereka untuk terus mencari aktivitas baru, bahkan ketika tubuh dan pikiran sudah kelelahan.
Lambat laun, kesibukan berubah menjadi standar yang banyak orang gunakan untuk menilai keberhasilan. Jadwal yang penuh sering dianggap sebagai tanda perkembangan, sedangkan waktu luang kerap memunculkan rasa bersalah. Banyak mahasiswa merasa lebih percaya diri ketika mereka memiliki banyak kegiatan. Sebaliknya, mereka mulai meragukan diri sendiri ketika aktivitas berkurang. Padahal, nilai seseorang tidak bergantung pada padat atau tidaknya jadwal yang ia miliki.
Menjadi Berharga tanpa Membuktikan Diri
Setiap mahasiswa memiliki jalan yang berbeda-beda. Ada yang memilih fokus pada akademik, ada yang aktif dalam organisasi, dan ada pula yang mengembangkan kemampuan melalui pengalaman di luar kampus. Mereka juga memiliki waktu masing-masing dalam berkembang. Pilihan tersebut sama-sama dapat membawa seseorang menuju perkembangan diri. Oleh karena itu, tidak ada satu pola yang dapat menjadi ukuran keberhasilan bagi seseorang. Setiap mahasiswa memiliki keunggulan atau suatu hal yang menjadi hobi pada bidangnya masing-masing.
Selain itu, setiap orang juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Istirahat bukan tanda kemalasan ataupun kurangnya ambisi. Istirahat membantu tubuh dan pikiran memulihkan energi agar seseorang dapat menjalani aktivitas dengan lebih sehat dan seimbang. Kemampuan untuk berhenti sejenak sama pentingnya dengan kemampuan untuk terus bergerak maju.
Pada akhirnya, kesibukan bukanlah ukuran nilai diri. Seseorang tetap memiliki nilai meskipun ia tidak mengisi setiap jam dalam harinya dengan berbagai aktivitas. Keberhasilan tidak hanya lahir dari banyaknya kegiatan yang seseorang jalani, tetapi juga dari kemampuannya mengenali diri, menentukan prioritas, serta menjaga keseimbangan hidup. Dengan memahami hal tersebut, mahasiswa dapat bertumbuh tanpa harus terus-menerus membuktikan diri melalui kesibukan.[]

