Mengkritisi Narasi Single Mom, Belajar dari Alam Liar

Sumber Gambar: istockphoto.com

Istilah single mom biasanya merujuk pada para perempuan yang memiliki tanggung jawab ganda untuk merawat, mengasuh, dan membesarkan anak tanpa dukungan seorang suami atau ayah di sampingnya. Tulisan ini tidak hanya memaknai single mom sebagai perempuan yang bercerai atau ditinggal meninggal suaminya, tetapi juga menyoroti fenomena “ayah yang hadir tapi absen secara figur”, yang mana perempuan terpaksa menanggung beban pengasuhan ganda. Di alam liar, banyak spesies menjalani pola pengasuhan oleh induk tunggal, sehingga fenomena tersebut menjadi hal yang sangat umum terjadi. Induk betina secara biologis terancang untuk merawat, menyusui, dan melindungi anak-anaknya sendirian.

Sementara, pejantan sebagian besar hanya berperan sebagai donor sperma dan pergi untuk menyebarkan keturunan. Pejantan biasanya hanya bergaul dengan betina sebentar selama periode estrus, kemudian berpisah meninggalkan betina untuk membesarkan keturunan mereka sendiri. Istilah ini sangat umum di kalangan keluarga kucing, beruang, ayam, burung, hingga serangga seperti belalang dan laba-laba. Itulah mengapa, tak heran ibu tunggal sering kali mendapatkan konotasi buruk. Bukan hanya menanggung beban yang lebih berat, seorang ibu tunggal juga mendapatkan stigma yang berbeda dari masyarakat.

Kebijaksanaan Moral atau Kesepakatan Sosial,

Fenomena single mom dalam dunia hewan bukan berarti membenarkan argumen yang berbunyi, “hewan betina saja bisa membesarkan anaknya sendirian, berarti memang sudah kodrat perempuan membesarkan anak.” Hal tersebut bukan berarti melepas tanggung jawab seorang laki-laki, suami, ataupun ayah dalam proses pengasuhan anak. Pada dasarnya, kehadiran kedua pihak yang bekerja sama dalam proses mengasuh anak, bukan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada satu pihak. Terdapat beberapa faktor mengapa single mom kerap terjadi pada hewan.

Faktor utamanya, tampak pada kelangsungan hidup keturunan yang meningkat lebih banyak dari perawatan ibu. Terutama pada hewan mamalia, hanya betina yang memiliki kelenjar susu sehingga bayi tergantung pada air susu induknya. Sehingga induk betina tidak membutuhkan kehadiran pejantan dalam proses perawatan harian anak-anaknya. Bahkan, pada spesies tertentu seperti beruang, induk secara sengaja menjauhkan pejantan dari sarangnya karena pejantan berpotensi mengancam keselamatan anak-anaknya. Tingkat paternitas (keayahan) yang rendah dari pejantan dapat menjadi ancaman membunuh anak-anaknya agar induknya kembali siap kawin.

Baca Lainya  Perempuan Menanggung Beban Sosial

Di alam liar, fenomena single mom bukanlah bentuk kebijaksanaan moral atau kesepakatan sosial, melainkan strategi evolusioner yang kejam. Dalam dunia hewan, betina memikul beban berat pengasuhan, mulai dari mengandung, menyusui, hingga membesarkan anak. Sementara, pejantan sering kali memilih menyebarkan gen mereka secara luas ke betina lain. Hal tersebut adalah mekanisme bertahan hidup untuk menjaga agar spesies mereka tetap ada dan tidak punah.

Single Mom Hewan: Bukan Normalisasi Patriarki

Bukan halnya menyamakan antara manusia dengan hewan. Sebab keduanya merupakan makhluk yang berbeda, manusia menggunakan akal dalam menjalani kehidupan dan mengambil keputusan, sedangkan hewan lebih mengandalkan insting. Tidak seharusnya fenomena single mom yang umum terjadi pada hewan menjadi alasan untuk memaklumi absennya peran ayah dalam pengasuhan di era modern. Menggunakan perilaku hewan sebagai standar pengasuhan manusia hanyalah bentuk kemalasan intelektual yang mencoba menormalisasi ketimpangan peran dalam rumah tangga. Hal tersebut hanyalah taktik patriarki untuk menitikberatkan beban pengasuhan sebagai kodrat perempuan.

Keberadaan suatu perilaku di alam, tidak otomatis menjadikannya baik atau pantas untuk dinormalisasi dalam kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk yang memiliki kapasitas untuk melampaui insting biologisnya melalui budaya, etika, akal pikiran, empati, dan sistem hukum yang berlaku. Jika hewan tergerak oleh dorongan biologis untuk memastikan gennya tetap ada, manusia memiliki kemampuan untuk mengatur kehidupan yang lebih setara. Ketika masyarakat menormalisasi single mom sebagai beban ganda yang dipikul seorang ibu, secara otomatis mereka juga telah menormalisasi budaya patriarki dan membebaskan laki-laki dari tanggung jawab pengasuhan.

Di sisi lain, terdapat segelintir masyarakat yang memuji single mom sebagai sosok ibu tangguh yang mampu menjalani berbagai peran seorang diri. Tidak dapat dipungkiri, ibu tunggal menunjukkan ketangguhannya yang luar biasa dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Namun, banyak orang menyematkan label “Ibu Tangguh” tanpa mempertanyakan mengapa seorang ibu harus memikul beban pengasuhan yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Ketika seorang ibu harus menjalani peran sebagai single mom, kondisi tersebut menunjukkan adanya masalah dalam sistem pengasuhan. Sistem tersebut gagal membagi tanggung jawab secara adil sehingga satu orang harus menanggung seluruh beban pengasuhan.

Baca Lainya  Glow Up with Knowledge: Pendidikan Jadi Kunci Perempuan Hebat

Peradaban yang maju tidak mengukur keberhasilannya dari ketangguhan seorang ibu dalam memikul beban sendirian. Melainkan dari kemampuan kerja sama antar sesama untuk hadir menjalankan tanggung jawab demi memastikan generasi mendatang tumbuh dalam lingkungan supotif. Mempelajari perilaku hewan memang menarik, tetapi manusia tidak boleh membiarkan insting alamiah hewan mendikte nilai, tanggung jawab, dan relasi sosial yang dibangun melalui akal. Manusia punya akal untuk memilih, dan pilihan kita seharusnya adalah keadilan, bukan sekadar mengulang insting kuno yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan dunia modern saat ini.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *