Toxic Positivity Berkedok Peduli yang Merusak Mental Mahasiswa

Kuliah itu berat. Ia bukan lagi sekadar perihal goresan tinta di atas kertas, melainkan bagaimana cara kita mengemban tanggung jawab yang telah kita pilih sendiri. Menjalani hari-hari sebagai mahasiswa selalu penuh rintangan dan itu tidak pernah mudah. Tumpukan deadline tugas sering kali datang beruntun tanpa ampun. Apalagi seiring bertambahnya semester, tugas bukan lagi sekadar menyusun makalah biasa. Mahasiswa tertuntut menuntaskan berbagai proyek nyata guna mengasah kemampuan problem solving.

Tak ayal, malam-malam panjang habis dengan begadang demi menuntaskan tanggung jawab tersebut. Belum lagi dinamika menghadapi teman-teman dengan berbagai karakter. Mahasiswa yang ingin berkembang pun punya jalannya masing-masing, ada dari mereka yang aktif berorganisasi, memilih kerja part time, mati-matian mengikuti kompetisi, atau bahkan nekat mengambil semua kesempatan itu sekaligus. Di tengah hiruk-pikuk beban berat berkali-kali menempa pikiran, mereka masih harus memutar otak: bagaimana cara membayar UKT semester depan supaya tidak membebani orang tua?

Namun naasnya, setelah babak belur menghadapi lelahnya dunia perkuliahan, mereka justru harus menelan racun pahit dari komentar tetangga maupun kerabat. “Kuliah mah enak, cuma duduk dengerin dosen, enggak usah mengeluh”. Kalimat sok tahu inilah yang menjadi gerbang pembuka dari suburnya toxic positivity berkedok kepedulian menjadi sebuah validasi palsu yang pelan-pelan merusak mental mahasiswa.

Ketika Rumah Cerita Menjadi Menakutkan

Toxic positivity di kalangan mahasiswa paling sering menampakkan diri lewat penghakiman yang terbungkus rapi dengan nasihat bijak. Ketika seorang mahasiswa sedang mengalami hari yang luar biasa berat dan butuh ruang aman untuk menumpahkan keluh kesah, entah karena tugas yang menumpuk atau tekanan finansial, mereka justru kerap menuai penghakiman, bukan empati. Respons yang ada sering kali seragam “Kuliah aja kok mengeluh capek, nanti kalau sudah kerja itu lebih capek. Syukuri aja masih bisa kuliah, banyak orang di luar sana yang mau di posisimu”.

Kalimat yang begitu familiar di telinga ini sekilas terdengar seperti ajakan untuk melihat sisi positif kehidupan. Namun alih-alih menyembuhkan, kalimat tersebut justru merusak mental karena menyuburkan rasa bersalah (guilt-tripping). Orang-orang ini menghakimi tanpa berpikir terlebih dahulu; mereka berbicara seolah tahu segalanya dan paham betul setiap jengkal beban yang kita pikul. Setiap orang memang bebas berpendapat, tetapi alangkah baiknya jika memikirkan ulang apakah perkataan tersebut justru akan memberatkan sang pendengar.

Baca Lainya  Perempuan Independen: Bukan Menyaingi, Hanya Ingin Setara

Akibat dari respons beracun ini, mahasiswa sering merasa bahwa stres atau kelelahan yang mereka validasikan adalah sebuah kesalahan atau bentuk kelemahan. Mereka pun terjebak dalam dilema memilih memendam masalah sendirian daripada mencari solusi yang sehat. Kehilangan kepercayaan untuk berbagi cerita membuat mereka menggenggam erat kecemasan itu di tangan sendiri, hingga kerap mengabaikan kesehatan fisik dan mental demi sebuah pencapaian akademis.

Pengabaian Hak untuk Lelah

Toxic positivity pelan-pelan mengubah mahasiswa menjadi robot yang terprogram untuk tidak boleh rusak. Di lingkungan perkuliahan, mahasiswa kerap kali tertuntut untuk selalu tampil prima dan tangguh. Kenyataannya di lapangan, kita hari ini hidup di era yang mendewakan produktivitas, sebuah era di mana beristirahat sejenak sering kali teranggap sebagai suatu kemunduran.

Kondisi ini semakin parah oleh terampasnya “hak untuk lelah”, di mana tuntutan akademis yang mencekik dan kecemasan finansial mendesak mereka untuk terus maju tanpa batas. Slogan-slogan seperti, “Kerja keras sekarang, sukses kemudian,” akhirnya berubah menjadi paksaan psikologis. Akibatnya, mahasiswa harus tersenyum di luar sambil menanggung retak di dalam, mengorbankan kewarasan demi memenuhi ekspektasi lingkungan yang enggan memvalidasi rasa capek mereka.

Sayangnya, dalam dunia perkuliahan, ada ketidakadilan nyata yang terus langgeng. Entah mengapa, rasa capek mahasiswa selalu ditimbang dan dibandingkan dengan beban orang lain yang dianggap “lebih berat”. Kompetisi penderitaan (olympic suffering) ini membuat hak mahasiswa untuk merasa lelah terdiskriminasi. Mereka dilarang mengekspresikan keletihannya hanya karena ada orang lain yang dianggap jauh lebih menderita. Padahal, lelah adalah sinyal biologis yang valid, bukan perlombaan tentang siapa yang paling menderita di dunia.

Isolasi Emosi

Ketika ruang untuk bercerita tertutup rapat, mahasiswa akhirnya lebih memilih untuk menarik diri dan menyibukkan diri dengan berbagai hal, hanya agar terlihat produktif. Di tengah keramaian ruang kelas, mereka justru memilih merias wajah dengan ‘topeng’ dan berpura-pura tersenyum bahagia di luar serta menyatakan bahwa diri mereka sedang baik-baik saja, padahal racun psikologis pelan-pelan mulai menggerogoti dari dalam. Hal ini terpaksa mereka lakukan demi menghindari penghakiman dan kata-kata klise seperti “kurang bersyukur”. Padahal kenyataannya, sebagai mahasiswa, kami sudah sangat bersyukur jika masih terberi kewarasan untuk tetap bertahan. Fenomena pembungkaman ini akhirnya memaksa mahasiswa menelan mentah-mentah emosi negatif mereka sendiri.

Baca Lainya  Paradigma Pembangunan Mengabaikan Perempuan (Isu Perempuan di Kepulauan Karimunjawa)

Dampak nyatanya, mahasiswa mengalami kesepian yang akut di tengah keramaian kampus. Mereka merasa tidak ada satu pun orang yang benar-benar memahami seberapa berat beban yang sedang dipikul. Kecenderungan menarik diri, mengisolasi diri dalam sunyi, dan memendam masalah emosional akhirnya dianggap sebagai hal yang “wajar”. Padahal jika dibiarkan, kemungkinan terburuknya bisa fatal, mereka bisa mengalami stres berat, depresi, hingga kehilangan motivasi belajar sepenuhnya.

Setiap orang memiliki medan pertempurannya masing-masing. Sebagai mahasiswa, tugas kami bukan hanya duduk dan belajar, melainkan memutar otak dengan keras demi menuntaskan amanah dan mencapai tujuan awal mengapa kami berada di sini. Mengeluh adalah hal yang normal. Terkadang, berbagi cerita adalah solusi yang paling tepat untuk sedikit meringankan beban. Dengan catatan, lakukanlah dengan orang yang tepat.

Ketika lingkungan masih mengadopsi budaya penghakiman ketimbang menyediakan ruang aman untuk bercerita, mari ubah sindiran halus itu menjadi motivasi. Kita tidak perlu membuang energi untuk menjelaskan apa pun kepada mereka yang berpikir kita tidak melakukan apa-apa. Cukup buktikan dengan aksi nyata bahwa kita sebagai mahasiswa mampu melewatinya. Ubah omongan miring mereka menjadi amunisi dan bahan bakar yang menyalakan semangat untuk tetap bertahan. Tapi ingat, sekencang apa pun seekor kuda berlari, ia tetap butuh berhenti untuk bernapas. Oleh karena itu, mengambil jeda untuk beristirahat atau melakukan healing sejenak adalah keputusan yang bijak, bukan sebuah kelemahan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *