Bangku Kuliah dan Harapan Orang Tua

Ia adalah anak bungsu. Dalam keluarganya, julukan itu bukan sekadar karena urutan kelahiran, tetapi sebuah harapan besar yang terasa seperti beban yang datang belakangan. Bukan karena warisan yang habis atau tabungan yang terkuras, tapi karena waktu yang terus berjalan, sementara orang tuanya semakin menua. Rumah yang ia tinggali suasananya tidak seperti dulu saat kakak-kakaknya semasa sekolah tempati. Tabungan yang dulu ada, kini sudah menyusut dan yang paling tidak bisa ia tawar adalah usia oang tuanya yang sudah tidak muda lagi.

Setiap kali pulang ke kampung, ia pasti memperhatikan perubahan kecil yang dulu tak pernah ia sadari. Rambut ayahanya yang semakin memutih, ibunya yang mulai mengeluh sakit tulang, suara batuk yang sering terdengar di malam hari. Hal-hal semacam itu seharusnya biasa saja karena bagian dari proses menua yang pasti semua orang alami. Tetapi bagi anak bungsu, hal itu terasa seperti waktu yang bekerja lebih kencang dari biasanya.

Hampir setiap hari ayahnya menelpon. Tapi tidak pernah lama, setelah kalimat pembuka “sehat dek? udah makan belum?”, dan “kuliahnya lancar?”. Kemudian gawai itu akan berpindah ke tangan ibunya. Bukan karena ayahnya tidak ingin bercerita lebih lama, tetapi karena ia tahu percakapan panjang akan membuat ayahnya semakin merindukannya. Serta ibunya yang selalu duduk disampingnya kadang ikut menambahkan kalimat, kadang hanya mendengarkan dari jarak dekat.

Kemudian pertanyaan yang ia takuti justru bukan soal “kira-kira lulusnya berapa lama lagi?”, melainkan kalimat andalan yang selalu ayahnya ungkapkan di ujung telepon: “uangnya masih ada?”. Pertanyaan itu terdengar wajar, tapi setiap kali mendengarnya, ia merasa tertahan. Ia tidak ingin menjawab “tidak”, karena tahu itu akan jadi beban baru bagi ayahnya yang sedang berusaha untuknya. Tapi ia juga tidak ingin berbohong. Biasanya ia hanya menjawab, “Masih, Yah, tenang aja,” padahal di kepalanya ia sedang mencari cara agar jawaban itu tetap benar untuk beberapa hari ke depan sampai penghujung bulan.

Baca Lainya  Silent Divorce: Terjebak menjadi Tempat Sampah Emosional?

Dorongan Mandiri Finansial

Dari situ, ia mulai mencari jalan sendiri. Uang jatah bulanan yang dikirim, yang ia tahu betul dari mana asalnya dan seberapa berat orang tuanya mengusahakannya dan tidak ia habiskan begitu saja. Sebagian ia putar untuk berjualan kecil-kecilan: makanan ringan atau apa pun yang bisa laku di lingkungan kos dan kampus. Untungnya tidak besar, kadang hanya cukup untuk menambah uang makan beberapa hari. Namun bagi ia, itu berarti untuk satu hal penting: ketika ayahnya menelepon dan bertanya lagi, ia bisa menjawab “masih kok uangnya” dengan lebih tenang, karena ada sedikit cadangan yang ia ciptakan sendiri.

Ia tidak pernah menceritakan ini pada orang tuanya. Bukan bermaksud menyembunyikan, tetapi karena ia tidak ingin mereka berpikir bahwa uang kiriman itu tidak cukup jika ada kebutuhan mendadak lainnya. Setidaknya biar urusan itu diselesaikan oleh dirinya sendiri, tanpa perlu menambah kekhawatiran di kepala kedua orang tuanya, walaupun ia tahu orang tuanya tidak pernah mengeluh secara langsung. Tapi ia bisa membaca dari caranya ibu menghitung-hitung pengeluaran, dari cerita ayah yang bekerja lembur sampai larut malam. Rasa bersalah itu datang bukan karena ia memintanya secara langsung, tetapi karena ia tahu, tidak bisa berbuat banyak untuk mengubahnya.

Ironisnya, justru karena ia anak terakhir, orang tuanya menaruh harapan yang lebih besar padanya. Bukan karena ia paling istimewa, tetapi karena ia adalah kesempatan terakhir yang mereka miliki untuk melihat salah satu anaknya benar-benar “jadi”. Kakak-kakaknya sudah punya jalan masing-masing ada yang sukses, ada yang masih berjuang, ada yang sudah berkeluarga dan punya beban sendiri. Tinggal dia yang masih dianggap punya waktu dan punya kesempatan untuk mewujudkan impian mereka.

Baca Lainya  Saya Melihat Mereka Berjuang: Di Balik Kisah Bangku Kuliah Perempuan

Harapan Terakhir, Tapi Tidak Boleh Gagal

Tapi waktu itu sendiri yang menjadi musuhnya. Ia sering membayangkan, jika kuliahnya semakin berat dan molor satu semester saja, apakah orang tuanya masih cukup sehat untuk menyaksikan ia wisuda? Apakah mereka masih bisa hadir, duduk di kursi penonton, memotret dengan kamera ponsel yang gambarnya selalu buram karena tangan yang sedikit gemetar? Bahkan tembok kamar kos dan sajadah di sujud lamanya itu menjadi saksi ketakutannya akan usia kedua orang tuanya itu.

Ada momen-momen ketika ia merasa lelah menjadi “harapan terakhir”. Bukan karena ia tidak mencintai keluarganya, tetapi karena label itu datang dengan tekanan yang tidak selalu terlihat orang lain. Teman-temannya bisa santai membahas rencana setelah lulus mau lanjut S2, mau gap year, mau eksplor dulu. Tetapi baginya setiap keputusan terasa seperti taruhan, karena di baliknya ada dua orang yang sedang menunggu kelulusan dan kesuksesan anaknya, meski tak pernah mengatakannya secara langsung kecuali lewat satu pertanyaan tentang uang, yang sebenarnya menyimpan banyak hal lain di dalamnya.

Namun, di tengah semua tekanan itu, ia juga menemukan sesuatu yang lain: bahwa menjadi harapan terakhir bukan berarti ia harus sempurna. Orang tuanya tidak menuntut ia menjadi yang terbaik dari semua anak. Mereka hanya ingin melihatnya selesai, selesai kuliah, selesai berjuang, selesai pada titik di mana ia bisa berdiri sendiri tanpa harus menunggu siapa pun lagi. Walaupun sekarang ia masih berjalan, masih mengejar gelar yang sedang ia tempuh, masih menghitung semester yang tersisa sambil sesekali menengok kalender, menghitung usia orang tuanya, dan berharap waktu bisa lebih bersahabat untuknya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *