Perempuan Mandiri, Bukan Menyaingi

Sumber Gambar: mubadalah.id

Ketika seorang laki-laki sukses membangun karier, masyarakat memujinya sebagai sosok pekerja keras. Namun ketika perempuan mencapai keberhasilan yang sama, masyarakat sering mengajukan pertanyaan yang berbeda. Misalnya “Apakah dia tidak takut membuat laki-laki minder?” atau “Nanti siapa yang mau menikah dengannya?”. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menunjukkan bahwa masyarakat masih menganggap keberhasilan perempuan sebagai ancaman, bukan sebagai prestasi.

Di tengah semakin terbukanya akses pendidikan dan dunia kerja, perempuan kini memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang. Mereka menempuh pendidikan tinggi, membangun karier, memimpin organisasi, hingga mengambil keputusan penting bagi hidupnya sendiri. Namun ironisnya, semakin tinggi perempuan melangkah, semakin banyak orang yang menilai dan mengomentari pilihannya.

Fenomena Double Bind pada Perempuan

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering menilai perempuan dan laki-laki dengan ukuran yang berbeda. Mereka memandang laki-laki yang tegas sebagai sosok berwibawa, tetapi melabeli perempuan yang tegas sebagai pribadi yang galak. Mereka juga memuji laki-laki yang ambisius sebagai sosok visioner, tetapi memandang ambisi perempuan secara negatif dan menganggapnya terlalu berorientasi pada karier. Para ahli menyebut fenomena ini sebagai double bind, yaitu situasi yang menempatkan perempuan pada posisi serba salah.

Masyarakat menuntut mereka untuk kompeten, tetapi kemudian menganggap mereka terlalu dominan ketika menunjukkan kemampuan yang tinggi. Masyarakat juga mengharapkan mereka percaya diri, tetapi menilai mereka arogan ketika menampilkan kepercayaan diri tersebut. Fenomena double bind menunjukkan adanya standar ganda dalam masyarakat. Perilakunya sama, tetapi penilaiannya berbeda hanya karena jenis kelamin.

Kita bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat sering mencap seseorang yang memilih tidak bergantung secara finansial kepada orang lain sebagai pribadi yang terlalu mandiri. Ketika ia memiliki jabatan yang lebih tinggi dari pasangannya, tidak sedikit yang menganggap kondisi tersebut sebagai ancaman bagi laki-laki. Bahkan masyarakat masih sering menjadikan kenyamanan orang lain sebagai tolok ukur dalam menilai keberhasilan mereka. Cara pandang tersebut tidak muncul begitu saja.

Baca Lainya  Cantik itu Pilihan, Bukan Kewajiban

Selama bertahun-tahun masyarakat terbiasa menempatkan laki-laki sebagai pihak yang memimpin, melindungi, dan menjadi pencari nafkah utama. Akibatnya, ketika mereka mulai menunjukkan kemandirian dan pencapaian yang tinggi, sebagian orang menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim. Padahal yang berubah bukan nilai perempuan, melainkan kesempatan yang kini semakin terbuka bagi mereka untuk berkembang.

Ironisnya, berbagai stigma tersebut muncul ketika perempuan Indonesia justru menunjukkan kemajuan yang signifikan. Data BPS yang dirilis pada 5 Mei 2026 menunjukkan bahwa Indeks Ketimpangan Gender Indonesia tahun 2025 mencapai 0,402 atau membaik 0,019 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Perbaikan ini menunjukkan bahwa Indonesia terus mengurangi kesenjangan gender, meskipun berbagai ketimpangan antara perempuan dan laki-laki masih muncul dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, masyarakat belum sepenuhnya mengubah cara pandangnya seiring dengan kemajuan tersebut. Di tengah semakin luasnya kesempatan untuk berkembang, masyarakat juga masih mempertahankan stereotip terhadap perempuan yang mandiri dan berprestasi.

Langit-langit Perempuan Tak Kasat Mata

Upaya mencapai kesetaraan juga menghadapi hambatan yang sering kali tidak terlihat. Dalam kajian gender, para ahli menyebut kondisi ini sebagai glass ceiling, yaitu batas tak kasat mata yang menghambat perempuan mencapai posisi tertinggi meskipun memiliki kemampuan yang setara. Hambatan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk aturan.

Keraguan, prasangka, atau anggapan bahwa laki-laki lebih cocok memimpin dapat memunculkan hambatan tersebut. Akibatnya, mereka sering kali harus membuktikan kemampuannya berkali-kali untuk mendapatkan kepercayaan yang sama. Padahal jenis kelamin tidak pernah menentukan kemampuan seseorang. Usaha, pengalaman, pengetahuan, dan kerja keraslah yang menentukan kemampuan tersebut.

Tidak sedikit perempuan yang harus bekerja dua kali lebih keras untuk memperoleh pengakuan yang sama. Masyarakat sering menuntut mereka untuk membuktikan kompetensinya berulang kali, sementara masyarakat cenderung lebih cepat mengakui kelayakan laki-laki untuk memimpin. Dalam banyak situasi, perempuan bukan hanya harus bekerja dengan baik, tetapi juga harus membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya pantas menempati posisi tersebut. Akibatnya, mereka harus bekerja lebih keras sekaligus terus menunjukkan kelayakannya untuk berada pada posisi yang sama. Pada saat yang sama, masyarakat jarang memberikan beban serupa kepada laki-laki.

Baca Lainya  Dilema Peran Ganda: Pekerjaan Domestik dan Karier

Perempuan Tidak Sedang Berlomba

Berbagai bentuk standar ganda dan hambatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan perempuan bukan terletak pada kurangnya kemampuan, melainkan pada cara masyarakat memandang kemampuan itu sendiri. Yang sering tidak dipahami masyarakat adalah bahwa perempuan independen tidak pernah bangun pagi dengan tujuan mengalahkan laki-laki. Fokus utama mereka adalah menaklukkan keraguan dan ketakutan dalam diri. Mereka belajar hingga larut malam bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul, melainkan untuk mengembangkan potensi dan meningkatkan kualitas diri.

Mereka menempuh pendidikan tinggi untuk memperluas wawasan dan bekerja keras untuk mewujudkan kemandirian. Kepercayaan terhadap kemampuan diri tumbuh dari kesadaran bahwa setiap manusia berhak berkembang tanpa hambatan prasangka. Sayangnya, sebagian orang masih menyambut langkah maju tersebut dengan kecurigaan. Mereka kerap menganggap mimpi besar sebagai ambisi yang berlebihan dan menafsirkan keyakinan terhadap kemampuan diri sebagai sikap arogan. Seolah-olah lingkungan sekitar hanya menerima perkembangan seseorang selama ia tidak melampaui batas yang mereka tetapkan.

Mungkin kita tidak perlu mengubah tingkat kemandirian seseorang, tetapi perlu mengubah cara pandang kita terhadap kemandirian itu sendiri. Sebab upaya mengejar pendidikan, karier, dan cita-cita bukanlah usaha untuk merebut tempat siapa pun. Ia hanya memperjuangkan hak setiap manusia untuk tumbuh dan berkembang. Keberhasilan seseorang tidak mengurangi kesempatan orang lain, sebagaimana kemandirian tidak menghilangkan peran siapa pun. Pada akhirnya, mereka tidak berjuang untuk memenangkan persaingan dengan laki-laki, melainkan untuk mencapai potensi terbaik dalam dirinya. Karena itu, masyarakat seharusnya menghargai perjuangan tersebut, bukan mencurigainya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *