Di Balik Sindrom “Sing Penting Absen”

Sumber Gambar: jambi.antaranews.com

Frasa “Sing Penting Absen” adalah tiga kata sederhana yang berasal dari bahasa Jawa. Namun, di dalam makna kata ini, tersimpan ironi yang luar biasa besar. Secara harfiah “absen” berarti tidak hadir. Namun, dalam praktiknya, kata ini justru tergunakan untuk menyatakan kehadiran demi sebuah legalitas formal semata.

Kerap saya temui banyak mahasiswa, bahkan teman-teman saya sendiri, masih mengadopsi pemikiran yang salah kaprah. Bukankah akan sangat sia-sia mengorbankan waktu, tenaga, dan kesempatan jika tidak mereka pergunakan dengan baik untuk menunaikan apa yang menjadi tanggung jawab?

Amanah yang kita pegang kini runtuh hanya karena arus kualitas yang terukur dari sebuah centang hijau. Sebuah realitas yang miris apabila perilaku tersebut kita lakukan secara sadar, tanpa peduli bahwa proses yang sesungguhnya jauh lebih berdampak daripada sekadar datang dan “menyetor muka”.

Menyoroti Kontras Formalitas Raga

Pernahkah kalian bertanya-tanya, mengapa kita begitu tenang hanya karena nama kita sudah tercantum di dalam daftar hadir? Rasa aman yang timbul dari pemikiran ini melahirkan zona nyaman bagi seseorang untuk berlindung di balik jargon “Sing Penting Absen”.

Keterlibatan raga di ruang kelas pada akhirnya hanya menjadi pengingat betapa sepinya ruang diskusi tanpa kontribusi aktif dari mahasiswa. Ruang yang seharusnya menjadi wadah untuk mengembangkan diri dan bertukar wawasan, kian beralih fungsi menjadi ruangan hampa yang gagal melahirkan kreativitas.

Perlu kita garisbawahi, di tengah maraknya arus informasi yang serba cepat ini, banyak mahasiswa jauh lebih memilih cara instan dengan mulai dari mengerjakan tugas hingga sekadar mencari hiburan. Pemanfaatan teknologi ini jelas memerlukan evaluasi kritis. Sungguh sebuah kontradiksi yang nyata dari visi-misi perkuliahan jika kehadiran seorang mahasiswa di ruang kelas hanya sebatas duduk dan asyik scrolling TikTok saat dosen atau teman sejawatnya tengah melangsungkan presentasi.

Baca Lainya  Menandaskan Keberanian dan Kemandirian dalam Diri Perempuan

Terjebak dalam Mentalitas Gugurkan Kewajiban

Bentuk “pembunuhan karakter” perlahan yang teradopsi dengan mencari jalan pintas demi menggugurkan kewajiban ini melahirkan mindset baru “yang penting tugasnya selesai”. Hal ini menjadi indikator kesalahan berpikir (logical fallacy) yang mengakibatkan ide ataupun gagasan kritis mahasiswa tidak dapat tersalurkan. Faktanya, sudah menjadi rahasia umum yang mendarah daging bahwa individu saat ini lebih memprioritaskan penyelesaian formal suatu tugas di atas internalisasi makna atau kualitas hasil.

Kecenderungan pola pikir dalam lingkaran setan ini menjelma menjadi momok yang membandel pada aspek kognitif mahasiswa. Padahal, tanpa disadari, esensi dari perkuliahan bukan hanya sekadar datang lalu mengisi presensi. Kuliah adalah tentang bagaimana cara kita berproses, benturan pemikiran, dan mengasah ketajaman analisis. Keahlian dan soft skills inilah yang nantinya menjadi senjata utama yang dibutuhkan di dunia kerja, bukan selembar kertas daftar hadir yang penuh centang hijau.

Dinamika profesionalitas pada dunia kerja sangat menghargai value, orisinalitas ide, dan kompetensi nyata bukan hanya sekadar kehadiran formal yang pasif. Mahasiswa yang terjebak dalam sindrom ini dapat dipastikan akan gagap ketika dituntut untuk memberikan solusi atau menyelesaikan masalah dalam dunia kerja, sebab selama bertahun-tahun mereka hanya melatih raga untuk mendengarkan tanpa ada kontribusi untuk melatih otak berpikir. Sadar atau tidak, menuntut ilmu itu terkadang menjenuhkan dan melelahkan tidak senikmat scrolling media sosial tanpa beban.

Tapi apa kelak kita akan menuai hasil jika hanya bermalas-malasan dan berlindung di balik zona nyaman? Untuk itu mari kita ubah definisi presensi. Pikirkan kembali, untuk apa kita ada di bangku kuliah? Bukan hanya memindahkan raga dari rumah ke bangku kuliah demi centang hijau presensi yang semu. Ini adalah fase krusial untuk membentuk karakter dan kompetensi. Sebab, dunia kerja tidak hanya membutuhkan kehadiran raga secara nyata melainkan kontributif aktif yang solutif untuk mengubah arah dunia.[]

Baca Lainya  Menjaga Harga Diri Perempuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *