Bayangkan seorang perempuan berusia dua puluhan akhir. Ia baru saja lulus pascasarjana, bekerja di bidang yang dicintainya, dan mulai membangun karier yang selalu ia impikan sejak kecil. Namun di sisi lain, ia juga ingin memiliki keluarga, menikah, dan mungkin suatu hari menjadi seorang ibu. Ketika ia mengungkapkan kedua keinginan ini, respons yang sering diterimanya sering kali sama:”Nanti kalau sudah punya anak, karier mau diapakan?” atau sebaliknya,”Kalau terlalu sibuk bekerja, kapan mau berkeluarga?”. Pertanyaan-pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan beban yang sangat berat. Karena pertanyaan yang sama hampir tidak pernah ditujukan kepada laki-laki.
Data menunjukkan tingkat pendidikan perempuan Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Semakin banyak perempuan menempuh pendidikan tinggi, bahkan meraih gelar magister dan doktor, semakin bertambah. Mereka masuk ke berbagai laki-laki dulu mendominasi profesi tersebut: dokter, insinyur, pengacara, ilmuwan, pemimpin perusahaan, hingga pejabat publik. Semakin tinggi capaian pendidikan seorang perempuan, semakin sering masyarakat mengajukan pertanyaan yang memojokkan kepadanya. Banyak orang masih meminta perempuan memilih antara karier dan keluarga.
Seolah-olah dua hal itu mustahil berdampingan. Seolah-olah perempuan harus memilih salah satu, dan apa pun yang ia pilih, akan selalu ada yang menghakimi. Jika ia memilih karier, orang-orang menuduhnya tidak peduli keluarga, terlalu ambisius, atau bahkan egois. Jika ia memilih menjadi ibu rumah tangga, masyarakat menganggap ia menyia-nyiakan pendidikan dan potensinya. Dan jika ia berusaha menjalani keduanya, orang-orang menuduhnya tidak fokus, tidak maksimal di salah satu, atau malah dikasihani karena “terlalu berat bebannya.”
Akar Masalah: Ekspektasi yang Tidak Setara.
Masyarakat tidak pernah menghadapkan laki-laki pada dilema seperti ini. Tidak ada yang bertanya kepada seorang pria ambisius, “Nanti kalau sudah jadi ayah, kamu mau tetap kerja keras?” Masyarakat menganggap karier dan keluarga bagi laki-laki sebagai dua hal yang saling melengkapi. Mengapa masyarakat menganggap karier dan keluarga perempuan sebagai dua hal yang saling bertentangan?
Perempuan merasakan tekanan ini bukan sekadar karena budaya usang yang akan hilang dengan sendirinya. Ia berakar pada sistem nilai yang telah lama menempatkan perempuan semata-mata sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak, masyarakat memosisikan laki-laki sebagai pencari nafkah.
Konstruksi sosial ini menciptakan standar ganda yang kejam. Masyarakat sering menganggap Perempuan yang berkarier kurang feminin,” sementara perempuan yang memilih tinggal di rumah sering dianggap “tidak produktif” atau “tidak memanfaatkan potensi.” Tidak ada posisi yang benar-benar aman dari penilaian masyarakat.
Menentukan Jalan Hidup
Belum lagi banyak perempuan bekerja merasakan beban ganda yang nyata: setelah delapan jam di kantor, keluarga masih mengharapkan mereka memasak dan membersihkan rumah, sementara pasangan mereka beristirahat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembagian pekerjaan rumah tangga masih tidak merata antara laki-laki dan perempuan, bahkan di keluarga di mana kedua pasangan bekerja penuh waktu. Ini bukan soal pilihan individual semata. Ini adalah masalah struktural.
Jika seorang perempuan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, itu adalah keputusan yang sah dan mulia. Merawat anak, membangun fondasi keluarga yang sehat, dan menciptakan lingkungan rumah yang penuh kasih adalah pekerjaan yang nyata, berharga, dan membutuhkan dedikasi luar biasa. Masyarakat tidak boleh merendahkan pilihan ini sebagai pemborosan pendidikan. Perempuan yang memilih jalan ini tahu apa yang mereka lakukan, dan masyarakat seharusnya menghargai mereka, bukan tanda tanya.
Jika seorang perempuan memilih untuk fokus pada karier dan tidak ingin menikah atau memiliki anak, itu pun adalah keputusan yang sepenuhnya valid. Tidak ada kewajiban kodrat yang mengharuskan setiap perempuan menjadi istri atau ibu. Ia berhak mendefinisikan kebahagiaannya sendiri.
Menghentikan Pemaksaan
Dan jika seorang perempuan ingin menjalani keduanya berkarier sekaligus membangun keluarga maka tugas masyarakat bukan untuk meragukannya, melainkan untuk menciptakan sistem yang mendukungnya. Kebijakan cuti melahirkan yang layak, akses terhadap pengasuhan anak yang terjangkau, budaya kerja yang fleksibel, dan pembagian tanggung jawab rumah tangga yang adil antara pasangan, semuanya adalah prasyarat agar pilihan “keduanya” bisa benar-benar terwujud, bukan sekadar slogan.
Pertanyaan “karier atau keluarga?”Seharusnya tidak lagi relevan di abad ke-21 ini. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: bagaimana kita sebagai masyarakat bisa memastikan bahwa perempuan memiliki kebebasan penuh untuk menentukan pilihannya sendiri, dan mendapat dukungan nyata untuk menjalaninya?
Perempuan bukan sekadar peran. Ia bukan hanya ibu, bukan hanya istri, bukan hanya pekerja. Perempuan adalah manusia utuh. Mereka memiliki mimpi, ambisi, nilai, dan prioritas yang berbeda-beda. Semua pilihan tersebut layak dihormati. Sudah saatnya kita berhenti memaksa perempuan memilih, dan mulai membangun dunia di mana semua pilihannya dihormati.[]

