Dilema Ibu Pekerja dalam Pengasuhan Anak

Sumber Gambar: hukumonline.com

Baru-baru ini publik heboh dengan kasus tindak kekerasan pada anak di salah satu daycare di Jogja. Kasus tersebut menimbulkan keresahan besar, terutama bagi para ibu pekerja yang setiap harinya harus meninggalkan anak untuk bekerja. Bagaimana bisa seorang ibu tidak resah? Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman justru menjadi tempat yang melukai anak-anak.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan kasus kekerasan terhadap anak di salah satu tempat penitipan anak (daycare) di Yogyakarta ini menimpa setidaknya 53 anak. Tingginya tindak kekerasan terhadap anak di daycare bukan tanpa sebab. Melansir dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) sekitar 44% daycare di Indonesia belum mengantongi izin resmi. Fakta ini membuat rasa cemas dan resah para orang tua terkhusus ibu pekerja yang setiap harinya harus menitipkan anaknya.

Kasus ini bukan sekedar tindak kriminal biasa. Berita kekerasan pada anak yang terus beredar di media sosial tersebut menjadikan keresahan bagi banyak ibu setelah melahirkan. Di satu sisi, seorang ibu harus kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun rasa takut juga mengahantui ibu pekerja ketika anaknya diasuh orang lain. Dari kasus kasus yang beredar banyak ibu pekerja yang dilema, was-was, bahkan bekerja dengan rasa cemas.

Tanggung Jawab Kerja dan Mengasuh Anak

Ketidakstabilan ekonomi menyebabkan sebagian perempuan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga bekerja bukan sekedar pilihan, melainkan kebutuhan. Harga kebutuhan pokok yang terus melambung, biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan rumah tangga membuat sebagian keluarga sulit bertahan jika hanya mengandalkan satu sumber penghasilan. Tidak semua ibu memiliki kesempatan untuk berhenti bekerja setelah melahirkan. Banyak perempuan tetap harus menjalakan peran sebagai pekerja sekaligus ibu dalam waktu bersamaan.

Baca Lainya  Sukses Menjadi Perempuan Mandiri

Selain faktor ekonomi, banyak perempuan yang sudah membangun pendidikan dan kariernya sejak lama. Perempuan menempuh pendidikan tinggi, bekerja keras mencari pengalaman, serta memiliki cita-cita tinggi. Namun ketika sudah menjadi ibu, tidak sedikit masyarakat yang menganggap bahwa perempuan seharusnya mudah meninggalakn pekerjaanya demi anak. Kenyataanya tidak sesederhana demikian, ada mimpi, perjuangan yang harus dipertaruhkan. Tidak sedikit permpuan yang mengalami dilema dan tekannan batin ketika harus memilih antara mempertahankan karier atau fokus penuh mengurus anak.

Keputusan untuk tetap bekerja juga bukan hal yang tenang untuk dijalani. Banyak ibu merasa dihantui rasa bersalah setiap kali meninggalkan anak di rumah. Dilema muncul ketika masyarakat sering menemukan berbagai kasus kekerasan terhadap anak di tempat penitipan maupun pengasuhan rumah tangga. Kasus salah satu daycare di Jogja menjadi salah satu contoh dari tempat yang dipercaya orang tua malah membuat ketakutan baru para ibu pekerja.

Ketakutan dalam Menitipkan Anak

Pilihan menitipkan anak di daycare memang solusi praktis bagi ibu pekerja. Namun ternyata tidak semua daycare memiliki kualitas dan pengawasan yang baik. Banyak tempat penitipan anak yang belum memiliki izin resmi maupun standar keamanan yang layak. Akibatnya, orang tua tidak pernah benar-benar merasa tenang ketika meninggalkan anak mereka. Dalam keadaan bekerja banyak ibu khawatir memikirkan apakah anaknya makan dengan baik, tidur dengan aman, atau justru mengalami perlakuan kasar.

Ketakutan itu tidak berhenti pada daycare saja. Menggunakan jasa babysitter juga sering menimbulkan kecemasan lain. Media sosial dan pemberitaan kerap menampilkan kasus penganiayaan anak oleh pengasuh rumah tangga. Situasi tersebut membuat banyak ibu semakin sulit percaya kepada orang lain. Bahkan ketika pengasuh terlihat baik sekalipun, rasa takut tetap muncul karena kekerasan terhadap anak sering terjadi tanpa diketahui orang tua.

Baca Lainya  Mewujudkan Kesetaraan Gender

Sebagian keluarga akhirnya memilih menitipkan anak kepada nenek atau anggota keluarga lain. Banyak orang menganggap pilihan ini lebih aman karena keluarga menitipkan anak kepada orang yang mereka kenal dan percaya. Namun, solusi tersebut juga tidak selalu tepat. Banyak orang tua yang sudah lanjut usia tetap harus mengurus cucu setiap hari. Tidak sedikit ibu yang merasa bersalah karena membebani orang tua mereka di usia ketika mereka seharusnya beristirahat. Mengurus bayi membutuhkan tenaga dan perhatian besar, sementara kondisi fisik orang tua tentu tidak lagi sekuat dulu.

Pada akhirnya, ibu sering berada dalam posisi serba salah. Ketika bekerja, mereka merasa cemas dan takut terhadap kondisi anak. Ketika memilih berhenti bekerja, muncul tekanan ekonomi dan karir yang terhenti. Beberapa perempuan bahkan harus rela meninggalkan karier yang telah dibangun bertahun-tahun. Setelah berhenti bekerja, sebagian dari mereka juga menghadapi tekanan psikologis karena merasa kehilangan ruang berkembang, kehilangan penghasilan sendiri, atau merasa tidak lagi memiliki kebebasan seperti sebelumnya.

Tanggung Jawab Bersama

Sayangnya, masyarakat sering menyederhanakan persoalan ini. Masyarakat kerap menganggap ibu yang bekerja kurang memberikan perhatian ke anak. Ketika terjadi masalah dalam pengasuhan, ibu biasanya menjadi pihak pertama yang salah. Sementara itu, ibu yang memilih berhenti bekerja juga tidak jarang dianggap terlalu bergantung pada pasangan atau tidak produktif. Apa pun pilihannya, perempuan tetap sering menghadapi penilaian dari masyarakat hingga berada dalam posisi serba salah.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih lebih banyak mengarahkan beban pengasuhan anak kepada perempuan. Seolah-olah kesejahteraan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu, sementara dukungan dari lingkungan sekitar masih sangat minim. Padahal persoalan pengasuhan anak bukan hanya urusan pribadi seorang ibu, melainkan persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.

Baca Lainya  Self-Love dan Perisai Mental Perempuan

Kasus kekerasan di daycare menjadi pengingat bahwa negara dan masyarakat perlu lebih serius membangun sistem pengasuhan anak yang aman dan layak. Pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap tempat penitipan anak, memperhatikan kualitas pengasuh, dan mengawasi perizinan daycare secara tegas. Selain itu, lingkungan kerja juga seharusnya lebih ramah terhadap ibu yang memiliki anak kecil, misalnya dengan menyediakan cuti melahirkan yang layak, jam kerja fleksibel, atau fasilitas penitipan anak yang aman.

Masyarakat juga perlu berhenti menyederhanakan pilihan hidup perempuan. Menjadi ibu bukan berarti perempuan harus menanggung seluruh beban pengasuhan sendirian. Terdapat banyak pertimbangan atas keputusan seorang ibu memilih untuk bekerja. Tidak ada ibu yang benar-benar tenang saat meninggalkan anaknya untuk bekerja. Ada rasa takut, rasa bersalah, dan kekhawatiran yang terus ketika meninggalkan anak. Sebab bagi banyak ibu, menitipkan anak bukan hanya soal mencari tempat pengasuhan, tetapi juga tentang menitipkan sebagian ketenangan hati mereka setiap harinya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *