Pena Kartini di Tangan Gen Z: Tantangan Keadilan Gender

Goresan demi goresan tinta pena termaktubkan dalam kertas yang awalnya bersih. Seorang perempuan yang tangguh sedang memperjuangkan kemerdekaan kaumnya lewat pena. Merajut mimpi yang tampak mustahil dengan membawa suara-suara dan harapan-harapan, serta menjunjung tinggi hak hak perempuan selama ini terrendahkan.

Perjuangan R.A. Kartini melalui pena dan kertasnya tidak boleh berhenti begitu saja. Kita, sebagai Kartini Muda, akan tetap merelevansikan kembali perjuangan-perjuangannya agar tetap hidup. Kini, pena itu telah berubah bentuk sebagai layar sentuh. Namun, di tangan Generasi Z, goresan-goresan pena itu akan tetap terukir tetapi dengan wujudnya yang berbeda.

Upaya kaum perempuan memperjuangkan keadilan telah sejak dahulu terjadi. Namun, sampai saat belum sepenuhnya tuntas mengangkat martabat dan harkat kaum perempuan untuk dapat sepenuhnya mendapat keadilan dan kesetaraan. Meskipun Indonesia pernah terpimpin seorang presiden perempuan, serta tak sedikit perempuan menduduki jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan, tetapi nyatanya sampai saat ini ketidakadilan gender dan kesetaraan yang tercita-citakan belum dapat terpenuhi. Perempuan masih saja tertinggal dan terkesampingkan dalam seluruh aspek kehidupan (Hamidah, 2021).

Laporan CATAHU 2025 menunjukkan bahwa perempuan pejuang HAM sering mendapat serangan secara tidak adil melalui ancaman dan penangkapan paksa. Hal ini terjadi karena adanya penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak kuat, seperti aparat keamanan, pemerintah, dan perusahaan besar (Komnas Perempuan, 2026).

Kartini berpendapat bahwa “Kedudukan perempuan adalah hal yang sangat penting. Tidaklah maju suatu bangsa apabila, kehidupan perempuan bangsanya masih tertinggal jauh. Perempuanlah yang dapat membolak-balikan suatu kehidupan manusia, karena perempuan dapat membantu untuk mengembangkan juga menjatuhkan kehidupan kesusilaan manusia itu sendiri. Dari perempuanlah pengaruh yang besar datang dengan maksud baik atau malah buruk”.

Baca Lainya  Mewujudkan Perguruan Tinggi sebagai Produsen Pengetahuan Adil Gender

Keadilan dan Budaya

Melalui tulisan-tulisannya, Kartini ingin mencapai keadilan bagi perempuan yang mendapat stigma rendah dari budaya masyarakat. Budaya itulah yang menjadi pengaruh besar hingga saat ini, yang memandang perempuan hanya sebelah mata. Pada kenyataan, sebagian peradaban suatu bangsa ada di tangan perempuan. Tanpa adanya perempuan yang berwawasan luas dan berpikir kritis itu bisa membuat bangsa ini menjadi tertinggal.

Tantangan menjadi perempuan masa kini ialah tertuntut cerdas serta harus bisa membuktikan bahwa kesetaraan itu ada. Halnya tokoh perempuan masa kini yang terkenal dengan kegigihan dan keberanian serta dedikasinya dalam bidang kepenulisan dan jurnalistik serta presenter televisi memiliki gaya wawancara kritis, tajam, dan mendalam. Ialah Najwa Shihab yang pernah mengatakan “Kesetaraan gender itu kita tidak menuntut sama karena tidak mungkin sama, kodratnya beda tapi yang kita tuntut adalah kesepadanan keseimbangan antara akses hak peluang kesempatan yang setara dengan laki-laki” (generasi.setara id, 2024 ).

Najwa shihab menjadi salah satu contoh serta bukti bahwa perempuan bisa setara. Perempuan harus bisa membuktikan jangan hanya diam di tempat saja. Sebab, diam tidak akan membawa perubahan apapun. Sebagai perempuan yang telah diperjuangkan untuk setara maka kita harus bergerak membuktikannya. Transformasi dari pena ke layar sentuh bukan hanya sekedar perubahan alat saja, tetapi ini termasuk perluasan media untuk memperjuangkan pergerakan kartini.

Wacana Wujud Nyata

Di era digitalisasi ini, pena yang telah berubah menjadi layar sentuh seharusnya dapat memudahkan kita sebagai Kartini Muda untuk memperjuangkan cita-cita R.A. Kartini. Jika dahulu goresan pena membutuhkan waktu yang lama baru dapat terbaca. Hari ini dengan adanya digitalisasi, Generasi Z dapat dengan mudah dan cepat menyebarluaskan berita ataupun tulisan-tulisan di media sosial. Hal tersebut dapat membuka mata dunia oleh adanya kesetaraan gender, bukan hanya dibicarakan dan menjadi wacana semata saja tetapi, bisa terwujud secara nyata.

Baca Lainya  Naik Kelas bersama Isra Mikraj: Saat Perempuan Berani Berubah, Berbenah, dan Menggerakkan Keadilan

Media sosial menjadi salah satu pena baru yang mampu menghidupkan semangat para perempuan yang berjuang untuk membuktikan bahwa perempuan setara dan layak untuk setara. Dengan adanya platform digital ini dapat kita manfaatkan sebagai sarana untuk menyebarkan informasi-informasi atau tulisan -tulisan yang dapat membangun semangat para perempuan, memberikan manfaat kepada sesama, menebarkan inspirasi dan motivasi.

Media sosial bukan hanya tempat untuk berekspresi, tetapi sebagai alat advokasi melalui konten kreatif. Dengan berpikir kritis dan bijak dalam membedah informasi, perempuan masa kini dapat memastikan narasi kesetaraan gender tidak tenggelam oleh riuhnya jagat maya. Inilah saatnya membuktikan bahwa layar sentuh ditangan kita mampu mewujudkan keadilan yang nyata, meneruskan tinta tinta kartini yang belum usai.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *