Media sosial seringkali menjadi panggung bagi perilaku yang kontradiktif. Di satu sisi, kita melihat gerakan masif yang menuntut ruang aman bagi perempuan. Namun di sisi lain, kita menyaksikan pemandangan ganjil di kolom komentar aplikasi TikTok. Ketika ada kreator konten laki-laki yang mempunyai visual menarik mengunggah video, tak jarang kolom komentarnya penuh oleh perempuan yang melontarkan kalimat-kalimat vulgar.
Mulai dari yang bernada obsesif hingga yang secara terang-terangan menulis narasi seolah “ingin terlecehkan”. Fenomena ini bukan sekadar urusan selera humor, melainkan cermin dari standar ganda yang sangat nyata di tengah masyarakat digital kita.
Batas Tipis Kagum dan Objektifikasi
Ketika mereka kita ingatkan, seringkali pembelaan yang muncul adalah “ini kan cuma jokes, jangan baper ah!” atau “dia kan laki-laki, pasti seneng kalau digituin“. Namun, kita perlu jujur apakah perilaku ini masih bisa kita namakan pujian jika isinya adalah narasi yang merendahkan? Menggunakan kata “pelecehan” sebagai bahan gurauan untuk mengekspresikan ketertarikan adalah tindakan yang sangat tidak pantas.
Pelecehan seksual bukanlah sebuah fantasi atau kiasan untuk kekaguman. Hal itu adalah trauma nyata yang menghancurkan mental para korban pelecehan seksual. Ketika kita menormalisasikan kalimat seperti “culik aku bang” atau narasi seksual lainnya, kita secara tidak sadar sedang melakukan objektifikasi terhadap laki-laki. Memperlakukan mereka seolah-olah benda yang boleh kita komentari semaunya hanya karena mereka menarik secara fisik.
Standar Ganda dan Dampak Buruk bagi Korban
Ironi yang paling terasa adalah ketika pelaku komentar vulgar tersebut adalah orang-orang yang paling keras berteriak “Stop Pelecehan Seksual” saat korbannya adalah perempuan. Ada semacam pola pikir yang salah kaprah bahwa laki-laki tidak bisa menjadi korban, atau para laki-laki pasti merasa senang jika mendapat godaan secara seksual oleh banyak perempuan. Pemikiran ini justru melanggengkan budaya patriarki yang selama ini kita lawan.
Jika kita menuntut agar para laki-laki menghargai tubuh perempuan dan berhenti melakukan cat calling, maka kita juga memiliki kewajiban moral untuk melakukan hal yang sama. Keadilan tidak bisa berjalan satu arah. Kita tidak bisa meminta dunia untuk melindungi kita, sementara kita sendiri menjadi “predator” di kolom komentar para laki-laki yang kita anggap tampan.
Mengapa kita harus peduli? Karena setiap kali kita menjadikan narasi pelecehan sebagai bahan candaan, kita sedang mengikis rasa empati masyarakat terhadap kasus pelecehan yang sesungguhnya. Normalisasi ini menciptakan lingkungan di mana pelecehan teranggap sebagai sesuatu yang sepele.
Lebih jauh lagi, hal ini menciptakan ruang yang sangat tidak nyaman bagi korban laki-laki yang benar-benar mengalami kekerasan seksual di dunia nyata. Mereka akan semakin takut untuk bersuara karena masyarakat sudah terlanjur menganggap bahwa “godaan secara vulgar” adalah sebuah keberuntungan bagi laki-laki, bukan sebuah pelanggaran. Candaan kita di media sosial bisa menjadi belati yang membungkam suara korban yang sebenarnya.
Merawat Integritas
Pada akhirnya, perjuangan untuk kesetaraan dan keadilan gender membutuhkan integritas. Kita tidak bisa memilih untuk menjadi pejuang hanya saat itu menguntungkan kelompok kita. Kemudian, menjadi pelaku saat mempunyai kuasa di balik layar ponsel.
Konsistensi adalah kunci, jika ingin menciptakan internet yang sehat dan aman. Langkah terkecilnya adalah dengan memanusiakan setiap orang yang muncul di layar media sosial, terlepas dari apa gender mereka. Menghargai seseorang bisa dengan tanpa harus kehilangan akal sehat dan etika.
Sudah saatnya kita berhenti menggunakan standar ganda dalam menilai perilaku seksual di ruang digital. Menuntut keadilan bagi korban perempuan adalah hal yang wajib, tetapi berhenti melakukan objektifikasi terhadap laki-laki adalah bentuk konsistensi dari nilai-nilai kemanusiaan yang kita anut.
Mari kita gunakan jari kita dengan lebih bijak. Sebab, sebuah gerakan tidak akan pernah teranggap serius jika para pejuangnya masih sering “bermain-main” dengan isu yang mereka perjuangkan sendiri. Menghormati orang lain adalah cermin dari cara kita menghormati diri sendiri.[]

