Dilema Identitas: Alumni Santriwati dan Arus Pergaulan Kampus

Santriwati Sumber Gambar: bilqolam.or.id

Sejauh ini, apakah para alumni pondok pesantren masih aman dalam menjaga identitasnya di dunia perkuliahan? Baru beberapa bulan setelah menjadi mahasiswa baru, banyak di antara mereka yang mulai merasakan perubahan. Kebiasaan yang dulu begitu mereka jaga; mendengar azan segera berwudu, menjaga salat berjamaah, menutup aurat, hingga membatasi interaksi lawan jenis perlahan mulai bergeser.

Ada yang mulai menunda salat, aurat terbuka demi mengikuti tren, batasan pergaulan menjadi longgar, bahkan tak sedikit menormalisasi pacaran karena penasaran. Padahal, nilai-nilai itulah yang dulu mereka perjuangkan siang-malam selama bertahun-tahun di pesantren. Kini mulai terkikis karena goyahnya iman dan pengaruh lingkungan luar yang sangat berbeda jauh ketika saat di pesantren.

Masa peralihan dari santriwati menjadi mahasantri memang tidak mudah. Lingkungan kampus menyuguhkan berbagai tantangan, gaya hidup hedonis, dan pergaulan bebas. Serta berkurangnya rasa peduli terhadap ajaran agama yang telah oleh guru-guru di pesantren ajarkan. Dengan bekal ajaran pondok pesantren seharusnya santri dapat menyeleksi mana yang perlu mereka ikuti dan jauhi. Namun realitanya, banyak alumni pesantren yang terbawa arus pergaulan kurang baik. Mulai dari cara berbicara, gaya berpakaian, hingga perilaku yang tidak mencerminkan nilai pesantren.

Contoh nyata arus pergaulan yang mengubah santriwati adalah mereka yang dulu berhijab dengan syar’i, kini memakai jilbab yang menampakkan lehernya hanya untuk mengikuti tren. Cara bicara yang dulunya penuh sopan santun kini mulai terselip kata-kata yang kurang pantas oleh alumni santriwati ucapkan. Perubahan ini sedikit demi sedikit mulai menghilangkan identitas mereka sebagai alumni pondok pesantren. Hanya mereka yang memiliki komitmen kuat dan berprinsiplah yang mampu mengarungi dunia perkuliahan dengan tetap positif.

Tidak semuanya tapi banyak dari mereka mulai kesusahan membagi waktu untuk mengerjakan tugas, melakukan praktikum, dan menggarap laprak. Juga mungkin ada yang belum terbiasa dengan sistem KRS-SKS sehingga karena belum terbiasa dalam membagi waktu. Mereka mulai keteteran dan lupa menyisakan sedikit waktu untuk beribadah kepada Tuhan. Mulai dari tidak ada waktu mengaji, salat mulai di akhir waktu, dan amalan-amalan sunah tidak pernah lagi mereka kerjakan.

Baca Lainya  Budaya Fesyen Mahasiswa

Pengaruh Lingkungan

Kebiasaan-kebiasaan baik yang dulu rutin mereka lakukan di pondok perlahan mulai memudar, tergantikan oleh kesibukan dunia perkuliahan dan pergaulan kampus.  Lingkungan yang lebih bebas serta tuntutan akademik yang tinggi membuat sebagian dari mereka kehilangan arah dan fokus spiritualnya. Padahal, nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan keikhlasan yang telah tertanamkan selama di pesantren seharusnya menjadi bekal berharga untuk menghadapi kehidupan kampus.

Tantangan lain yang cukup besar muncul ketika alumni pesantren mulai tinggal di indekos. Lingkungan indekos yang jauh lebih bebas daripada asrama pesantren membuat mereka benar-benar tertuntut untuk mengatur hidupnya sendiri. Tanpa jadwal yang teratur dan tanpa pengawasan dari ustaz maupun pengurus, banyak yang kesulitan menjaga kedisiplinan. Jam tidur menjadi tidak teratur, waktu belajar sering tertunda, dan ibadah pun mulai terabaikan karena tidak ada lagi suara azan yang mengingatkan.

Suasana indekos yang ramai dengan aktivitas teman-teman lain mulai dari begadang, bermain gim, hingga nongkrong hingga larut malam menjadi godaan tersendiri. Tanpa komitmen kuat, alumni pesantren dapat dengan mudah hanyut dalam pola hidup yang tidak sehat dan jauh dari nilai-nilai ibadah yang dulu sangat mereka jaga di pondok. Jika tidak mereka sadari sejak awal, identitas sebagai santri akan semakin terkikis oleh arus modernitas.

Strategi Menjaga Nilai

Meski begitu, banyak juga mahasiswi alumni pesantren yang tetap istikamah. Mereka mampu mempertahankan nilai-nilai pondok dengan teguh dan justru berprestasi di kampus. Disiplin, sopan santun, tanggung jawab, kejujuran, serta semangat kebersamaan menjadi ciri khas yang membuat mereka berbeda. Tidak hanya unggul secara akademik, banyak pula yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan, kegiatan sosial, dan dakwah kampus. Hal ini membuktikan bahwa latar belakang pesantren bukan hambatan, melainkan modal berharga untuk berkontribusi di lingkungan kampus.

Baca Lainya  Saya Melihat Mereka Berjuang: Di Balik Kisah Bangku Kuliah Perempuan

Untuk alumni yang mulai kehilangan arah, perlu strategi agar tetap mampu menjaga nilai-nilai pesantren. Bergabung dengan organisasi keislaman atau komunitas kajian dapat menjadi solusi. Lingkungan yang baik akan membantu memperkuat iman, menjadi tempat berbagi semangat, sekaligus menjadi tameng dari pergaulan yang kurang sejalan dengan nilai-nilai pesantren. Kehadiran teman-teman yang memiliki tujuan sama sangat membantu agar tidak hanyut dalam arus negatif kampus.

Sebagian alumni mungkin ada yang merasa sudah jauh dari kata santri, tetapi tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Selama masih ada niat, kesempatan untuk kembali selalu terbuka. Dunia perkuliahan memang penuh tantangan dan godaan. Namun, seperti yang pernah salah satu guru pesantren sampaikan, ujian sejati seorang alumni bukan hanya mampu memahami ilmu agama, tetapi mampu mengamalkannya dalam kehidupan modern yang penuh tantangan. Dengan tekad dan dukungan lingkungan yang baik, semangat keislaman dan identitas sebagai santri tetap bisa dijaga.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *