Ada anggapan yang begitu mudah kita terima tentang pendidikan yakni setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil. Mereka duduk di ruang kelas yang sama, mempelajari materi yang sama, menerima penjelasan dari guru yang sama, dan mengerjakan soal yang sama. Secara sepintas, keadaan tersebut tampak adil. Semua murid memperoleh hak untuk belajar, sedangkan keberhasilan seolah-olah tinggal menunggu seberapa besar usaha yang mereka berikan. Namun, pernahkah kita bertanya apakah kesempatan yang tampak sama itu benar-benar terasa secara setara oleh setiap murid?
Kita kerap membicarakan pendidikan sebagai jalan untuk mengubah nasib. Melalui pendidikan, seseorang terharapkan dapat memperluas pengetahuan, meningkatkan taraf hidup, dan memperoleh masa depan yang lebih baik. Harapan tersebut bukan sesuatu yang keliru. Justru karena pendidikan memiliki peran begitu penting, kita perlu memeriksa apakah setiap orang benar-benar memiliki kesempatan yang memadai untuk mencapai tujuan tersebut. Sebab, sebelum memasuki ruang kelas, setiap murid telah membawa kehidupan yang berbeda.
Ada murid yang pulang ke rumah dengan meja belajar, buku yang lengkap, koneksi internet, dan keluarga yang dapat mendampingi ketika pelajaran terasa sulit. Ada pula murid yang harus berbagi perangkat dengan anggota keluarga lain, membantu pekerjaan rumah, atau belajar di tengah keterbatasan fasilitas. Perbedaan semacam ini tidak selalu terlihat ketika seluruh murid duduk menghadap papan tulis. Akan tetapi, dampaknya dapat muncul ketika mereka harus memahami materi, menyelesaikan tugas, atau mempersiapkan diri menghadapi penilaian.
Perbedaan Sumber Daya
Berangkat dari sinilah persoalan pendidikan menjadi lebih rumit daripada sekadar siapa yang rajin dan siapa yang malas. Kita memberikan tugas yang sama kepada semua murid, tetapi tidak semua memiliki sumber daya yang sama untuk mengerjakannya. Kita menyediakan waktu belajar yang sama di sekolah, tetapi tidak semua memiliki kondisi yang mendukung untuk melanjutkan proses belajar di rumah. Kesamaan perlakuan di dalam kelas tidak serta-merta menghapus perbedaan kesempatan di luar kelas.
Sayangnya, perbedaan hasil belajar kerap kali lebih mudah terlihat daripada perbedaan kondisi yang melatarbelakanginya. Murid yang memperoleh nilai tinggi ternilai mampu, sedangkan murid yang tertinggal kerap mendapat permintaan belajar lebih giat. Nasihat tersebut memang tidak selalu salah. Usaha, kedisiplinan, dan tanggung jawab memang penting dalam proses belajar. Namun, persoalan muncul ketika usaha teranggap sebagai satu-satunya penjelasan atas keberhasilan, sementara hambatan yang murid hadapi nyaris tidak pernah kita perhitungkan.
Cara pandang semacam ini berisiko menyederhanakan persoalan yang sebenarnya kompleks. Kita dapat terlampau cepat menyimpulkan bahwa seorang murid kurang bersungguh-sungguh hanya karena ia membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas. Kita dapat menganggapnya kurang memiliki motivasi ketika ia berulang kali kesulitan memahami materi. Padahal, kesulitan belajar tidak selalu berakar pada kemauan. Bisa jadi, murid tersebut membutuhkan penjelasan dengan cara berbeda, petunjuk yang lebih bertahap, kesempatan untuk bertanya, atau dukungan yang belum ia peroleh.
Belajar Memahami Murid dari Ruang Kelas
Pemikiran tersebut menjadi semakin relevan ketika saya menjalani praktik mengajar di SMA Negeri 1 Purworejo. Dalam pembelajaran Teks Laporan Hasil Observasi (LHO), saya menjumpai keragaman kemampuan, pemahaman, minat, dan kepercayaan diri murid. Ketika mempelajari materi dan mengerjakan tugas, tidak semua murid menunjukkan tingkat pemahaman atau kecepatan kerja yang sama. Ada yang dapat mengikuti instruksi dan menyelesaikan tugas dengan relatif lancar, sementara ada pula yang membutuhkan penjelasan lebih terperinci, contoh konkret, atau pendampingan secara bertahap.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa memberikan materi dan instruksi yang sama belum tentu membuat semua murid memperoleh pengalaman belajar yang sama. Pada awalnya, saya cenderung menghubungkan lambatnya penyelesaian tugas dengan kemungkinan kurang fokus atau kurang bersungguh-sungguh. Namun, pengamatan selama pembelajaran mendorong saya untuk meninjau kembali penilaian tersebut. Saya menyadari bahwa apa yang terlihat di dalam kelas belum cukup untuk menjelaskan seluruh proses yang seorang murid alami. Kesulitan menyelesaikan tugas tidak dapat langsung menjadi ukuran kemauan belajar, sebagaimana kecepatan menyelesaikan tugas tidak selalu menggambarkan kedalaman pemahaman seseorang.
Berdasarkan pengalaman tersebut, saya belajar bahwa tugas seorang guru tidak berhenti pada penyampaian materi dan pemeriksaan hasil pekerjaan. Guru juga perlu mengenali bagian yang belum murid pahami, memperhatikan cara mereka merespons instruksi, serta menyediakan bantuan yang sesuai. Dalam pembelajaran, penjelasan, contoh, kegiatan individu dan kelompok, bantuan antarteman, serta petunjuk bertahap dapat menjadi cara untuk membuka lebih banyak jalan bagi murid dalam memahami materi. Bagi saya, hal ini merupakan bagian penting dari upaya membangun pembelajaran yang lebih adil.
Tentu saja, pengalaman tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa perbedaan kemampuan murid di kelas oleh sebab kondisi ekonomi keluarga atau ketimpangan wilayah. Saya tidak dapat menyimpulkan latar belakang kehidupan setiap murid hanya berdasarkan kecepatan mereka mengerjakan tugas. Namun, pengalaman itu memberi saya satu pelajaran penting, yakni sebelum menilai kemampuan dan kemauan seorang murid, saya perlu menyediakan ruang untuk memahami kesulitan yang sedang ia hadapi. Kesadaran ini kemudian membawa saya pada pertanyaan yang lebih luas mengenai kesempatan belajar yang tersedia bagi setiap murid.
Mutu Pendidikan dan Ketimpangan Antarwilayah
Pertanyaan tersebut tidak hanya menyangkut hubungan antara guru dan murid, tetapi juga mutu pendidikan yang mereka peroleh. Hak untuk bersekolah belum dengan sendirinya menjamin bahwa setiap murid mendapatkan pembelajaran yang berkualitas. Sekolah dapat sama-sama menyelenggarakan kegiatan belajar, tetapi memiliki kondisi berbeda dalam menyediakan tenaga pendidik, bahan bacaan, fasilitas pembelajaran, lingkungan yang aman, dan pendampingan bagi murid yang mengalami kesulitan.
Mutu pendidikan juga tidak cukup terukur dari kelengkapan gedung atau banyaknya fasilitas yang sekolah miliki. Fasilitas memang penting, tetapi keberadaannya perlu beriringan dengan proses pembelajaran yang bermakna. Apakah murid memperoleh penjelasan yang dapat mereka pahami? Pun apakah guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya? Jug apakah kesulitan belajar dikenali sejak awal? Serta apakah murid memiliki ruang untuk bertanya tanpa takut dipermalukan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa mutu pendidikan berkaitan dengan pengalaman belajar yang benar-benar murid terima, bukan semata-mata dengan keberadaan sekolah secara fisik. Sekolah yang memiliki fasilitas lengkap belum tentu secara otomatis mampu memenuhi seluruh kebutuhan belajar murid. Sebaliknya, keterbatasan fasilitas tidak serta-merta menghapus kemungkinan hadirnya pembelajaran yang bermakna. Namun, komitmen guru saja juga tidak cukup untuk menggantikan seluruh sumber daya yang murid butuhkan. Mutu pendidikan memerlukan dukungan yang memadai, mulai dari fasilitas, tenaga pendidik, pengelolaan sekolah, hingga kebijakan yang memungkinkan pembelajaran berlangsung secara optimal.
Persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika melihat ketimpangan antarwilayah. Indonesia memiliki kondisi geografis yang luas dengan karakteristik daerah yang beragam. Di sejumlah wilayah, akses menuju sekolah dapat menjadi tantangan tersendiri. Jarak tempat tinggal, kondisi transportasi, ketersediaan jaringan internet, serta distribusi guru dan fasilitas dapat memengaruhi pengalaman pendidikan murid. Pada situasi tertentu, persoalannya adalah apakah layanan pendidikan yang dibutuhkannya tersedia dan dapat dijangkau.
Hambatan Akses
Ketimpangan wilayah tidak berarti bahwa semua sekolah di perkotaan memiliki mutu yang baik atau semua sekolah di perdesaan dan daerah terpencil memiliki mutu yang rendah. Generalisasi semacam itu justru mengaburkan persoalan. Akan tetapi, perbedaan kondisi geografis dan distribusi sumber daya dapat menciptakan hambatan yang tidak sama. Sekolah yang memiliki akses lebih luas terhadap sumber belajar dan jaringan pendukung mungkin lebih leluasa mengembangkan pembelajaran. Sementara itu, sekolah yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar harus menghadapi tantangan tambahan sebelum dapat menyediakan layanan yang setara.
Akibatnya, murid tidak hanya berangkat dari kondisi keluarga yang berbeda, tetapi juga dari lingkungan pendidikan yang memiliki kemampuan berbeda dalam mendukung perkembangan mereka. Ketika seorang murid mengalami kesulitan belajar, dukungan yang dapat ia peroleh mungkin bergantung pada sumber daya sekolah tempatnya belajar. Ketika seorang murid membutuhkan akses terhadap bahan bacaan atau teknologi, ketersediaannya mungkin dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat ia tinggal. Dengan demikian, kesempatan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemauan murid, tetapi juga oleh sejauh mana sistem mampu menyediakan layanan yang bermutu dan menjangkau berbagai wilayah.
Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), misalnya, menunjukkan adanya kesenjangan capaian matematika berdasarkan status sosial-ekonomi di Indonesia. Murid dari kelompok sosial-ekonomi teratas memperoleh skor rata-rata matematika 34 poin lebih tinggi daripada murid dari kelompok terbawah. Angka tersebut tidak berarti bahwa latar belakang ekonomi menentukan nasib setiap murid. Namun, temuan tersebut memberikan alasan untuk mempertanyakan anggapan bahwa capaian pendidikan sepenuhnya merupakan hasil kemampuan dan usaha individual.
Data tersebut perlu dibaca bersama persoalan akses dan mutu pendidikan. Perbedaan capaian tidak secara otomatis menjelaskan penyebabnya, tetapi menunjukkan pentingnya memeriksa kondisi yang menyertai proses belajar. Jika keluarga memiliki sumber daya yang terbatas, sekolah memiliki fasilitas yang tidak memadai, dan akses terhadap layanan pendidikan berkualitas belum merata, tuntutan untuk mencapai hasil yang sama dapat menjadi semakin berat bagi sebagian murid.
Keadilan Pendidikan, Lebih dari Sekadar Perlakuan yang Sama
Lantas, apakah keadilan pendidikan berarti setiap murid harus memperoleh perlakuan yang persis sama? Tidak selalu demikian. Keadilan justru menuntut kemampuan untuk mengenali kebutuhan yang berbeda dan menyediakan dukungan yang sesuai. Murid yang telah memahami materi mungkin membutuhkan tantangan lanjutan, sedangkan murid yang masih kesulitan memerlukan penjelasan tambahan. Keduanya tetap berhak memperoleh pembelajaran yang bermakna. Memberikan dukungan yang berbeda bukan berarti menurunkan harapan terhadap sebagian murid, tetapi membuka jalan agar mereka dapat mencapai tujuan belajar.
Berdasarkan hal tersebut, tanggung jawab guru menjadi penting. Guru perlu melihat lebih jauh daripada nilai akhir, memperhatikan proses belajar, menyediakan beragam cara untuk memahami materi, dan membangun ruang kelas tempat murid tidak merasa rendah diri ketika membutuhkan bantuan. Namun, tanggung jawab tersebut tidak dapat dibebankan kepada guru seorang diri. Keterbatasan fasilitas, ketimpangan kualitas layanan pendidikan, distribusi tenaga pendidik, dan kesulitan ekonomi keluarga memerlukan perhatian sekolah, pemerintah, serta masyarakat. Tidak adil jika sistem mengabaikan hambatan struktural, kemudian menyerahkan seluruh tanggung jawab keberhasilan kepada murid dan guru.
Pendidikan memang dapat menjadi jalan untuk memperluas kesempatan hidup. Namun, kita perlu berhenti menganggap bahwa keberadaan sekolah dengan sendirinya telah menjamin kesetaraan. Hak untuk bersekolah merupakan langkah awal, bukan bukti bahwa setiap murid telah memiliki kondisi yang memadai untuk belajar dan berkembang. Pemerataan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak anak yang terdaftar di sekolah, tetapi juga perlu dilihat dari mutu layanan yang mereka terima, hambatan yang mereka hadapi, dan dukungan yang tersedia untuk mengatasinya.
Dukungan terhadap Murid
Maka, kita perlu mengubah pertanyaan yang selama ini diajukan kepada murid. Bukan hanya mengapa ada yang berhasil dan ada yang tertinggal, tetapi juga kondisi apa yang memungkinkan sebagian murid melangkah lebih jauh, sementara sebagian lainnya harus mengatasi begitu banyak hambatan. Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menghapus tanggung jawab pribadi, tetapi untuk menempatkannya dalam pemahaman yang lebih utuh tentang kehidupan manusia.
Pengalaman mengajar membuat saya memahami bahwa keadilan pendidikan tidak selalu mulai dari perubahan besar, tetapi dari kesediaan untuk menunda penilaian, mendengarkan kesulitan murid, dan mencari cara agar pembelajaran dapat terakses oleh kebutuhan yang beragam. Namun, refleksi di ruang kelas juga mengingatkan saya bahwa kepedulian seorang guru perlu tertopang oleh sistem pendidikan yang memberi dukungan secara memadai dan merata.
Kita boleh berharap setiap murid berusaha sebaik mungkin. Kita boleh menetapkan tujuan pembelajaran yang tinggi dan mendorong mereka untuk terus berkembang. Namun, harapan itu perlu disertai kesediaan untuk memeriksa apakah jalan menuju keberhasilan telah terbuka secara layak bagi semua. Sebab, kita memang dapat berangkat dari kelas yang sama, tetapi selama kondisi keluarga, mutu sekolah, dan akses terhadap layanan pendidikan masih berbeda, menyebut kesempatan itu setara tanpa memeriksa kenyataannya hanya akan membuat ketimpangan tampak seperti persoalan pribadi. Pendidikan yang adil tidak cukup mengajarkan setiap murid untuk berlari. Pendidikan juga perlu memastikan bahwa kita memahami dari mana mereka berangkat, hambatan apa yang mereka hadapi, dan dukungan apa yang mereka perlukan agar dapat berkembang sejauh mungkin.[]
