Nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir bukan hanya menjadi perhatian para ekonom, tetapi juga masyarakat luas. Setiap kali rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, muncul kekhawatiran mengenai kenaikan harga barang menurunnya daya beli masyarakat, hingga gejolak di pasar modal. Salah satu indikator yang paling sering terdampak adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Fenomena ini menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar tidak hanya berpengaruh pada perdagangan internasional. Namun juga terhadap kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi nasional (Jatmiko, 2026).
Secara ekonomi, hubungan antara pelemahan rupiah dan IHSG dapat kita pahami melalui kinerja perusahaan yang terdaftar di pasar modal. Ketika nilai tukar rupiah menurun, biaya impor bahan baku dan kebutuhan produksi lainnya cenderung meningkat. Kondisi tersebut dapat mengurangi keuntungan perusahaan sehingga memengaruhi minat investor untuk menanamkan modalnya. Akibatnya, harga saham berpotensi mengalami penurunan yang berdampak pada melemahnya IHSG (Badiuz & Purwaningrum, 2024). Selain itu, ketidakpastian ekonomi global sering mendorong investor asing menarik dananya dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Arus modal keluar ini semakin memperbesar tekanan terhadap pasar saham domestik (Khaliq et al., 2024).
Namun, jika kita lihat dari perspektif filsafat ilmu, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi semata. Pelemahan rupiah memang merupakan fakta yang dapat terukur melalui data statistik, tetapi dampak yang timbul sangat terpengaruhi oleh cara manusia memahami dan menafsirkan informasi tersebut. Investor mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan, pengalaman, serta keyakinan terhadap kondisi ekonomi di masa depan. Dengan demikian, pergerakan pasar modal sesungguhnya merupakan hasil interaksi antara fakta objektif dan persepsi subjektif para pelaku ekonomi. Di sinilah ilmu pengetahuan tidak hanya berfungsi menjelaskan realitas, tetapi juga membantu manusia mengambil keputusan yang lebih rasional (Laska Ortega & Sista Paramita, 2023).
Literasi Keuangan
Dalam konteks pendidikan, fenomena ini memperlihatkan pentingnya literasi keuangan bagi masyarakat. Masih banyak individu yang melakukan investasi tanpa memahami risiko yang mungkin muncul. Akibatnya, tidak sedikit investor yang mudah terpengaruh oleh isu atau sentimen sesaat ketika pasar mengalami penurunan. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan memiliki hubungan yang erat dengan kualitas pengambilan keputusan investasi (Purnamasari et al., 2023). Selain itu, pengetahuan mengenai investasi juga terbukti meningkatkan minat masyarakat untuk berinvestasi secara lebih terencana dan bertanggung jawab. Dukungan teknologi informasi yang semakin berkembang juga dapat termanfaatkan untuk memperluas akses edukasi keuangan kepada masyarakat.
Dari sisi sosial, pelemahan rupiah membawa konsekuensi yang lebih luas daripada sekadar penurunan nilai mata uang. Meningkatnya harga barang impor dapat memengaruhi tingkat konsumsi masyarakat dan pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Ketika daya beli masyarakat melemah, pendapatan perusahaan ikut terpengaruh sehingga pasar modal pun mengalami tekanan. Oleh karena itu, stabilitas IHSG tidak hanya mencerminkan kondisi perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga menggambarkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat secara umum. Penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan, modal sosial, dan pemanfaatan teknologi keuangan memiliki peran penting dalam meningkatkan inklusi keuangan masyarakat Indonesia (Thomas et al., 2024).
Dari perspektif pemerintahan, stabilitas nilai tukar merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Oleh karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi agar mampu menghadapi berbagai tantangan global. Upaya menjaga stabilitas rupiah tidak hanya dilakukan melalui kebijakan moneter, tetapi juga melalui penguatan sektor riil, peningkatan ekspor, dan pengurangan ketergantungan terhadap impor. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi internasional dan ketidakpastian pasar global (Saputri & Irawati, 2023). Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ekonomi dunia.
Ekonomi dan Kemaslahatan Umat
Selain itu, agama juga menawarkan perspektif yang penting dalam memahami aktivitas ekonomi. Dalam Islam, kegiatan ekonomi tidak hanya bertujuan memperoleh keuntungan material, tetapi juga menciptakan kemaslahatan bagi masyarakat. Prinsip kehati-hatian, keadilan, dan tanggung jawab sosial menjadi nilai yang harus dijunjung tinggi dalam setiap aktivitas ekonomi, termasuk investasi. Oleh karena itu, investor perlu menghindari praktik spekulatif yang berlebihan dan lebih mengutamakan pertimbangan yang rasional serta etis. Penelitian mengenai literasi keuangan syariah menunjukkan bahwa pemahaman terhadap prinsip-prinsip ekonomi Islam dapat membantu seseorang dalam mengambil keputusan investasi yang lebih baik (Nurisnayanti & Sevriana, 2023).
Di era globalisasi, tantangan yang dihadapi pasar keuangan semakin kompleks. Integrasi ekonomi antarnegara menyebabkan berbagai gejolak ekonomi dapat menyebar dengan cepat dari satu negara ke negara lain. Aeni & Stefhani (2024) menyatakan bahwa integrasi pasar modal ASEAN menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia memiliki keterkaitan dengan beberapa bursa saham di kawasan ASEAN, sehingga gejolak ekonomi di suatu negara dapat memengaruhi sentimen dan pergerakan pasar modal negara lainnya. Oleh karena itu, Indonesia perlu memiliki sistem ekonomi yang kuat dan adaptif agar mampu menghadapi berbagai perubahan yang terjadi di tingkat global.
Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Dari sisi sains, peningkatan kualitas data ekonomi dan literasi keuangan masyarakat perlu menjadi prioritas. Dari sisi agama, penguatan nilai-nilai etika ekonomi dan investasi syariah harus terus terdorong agar aktivitas ekonomi berjalan secara lebih bertanggung jawab. Sementara itu, kearifan lokal seperti gotong royong, kebersamaan, dan musyawarah dapat menjadi modal sosial yang memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi (Asih et al., 2023).
Pada akhirnya, pelemahan rupiah dan ketidakstabilan IHSG bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Keduanya merupakan bagian dari sistem yang saling berkaitan antara pendidikan, ekonomi, sosial, pemerintahan, dan agama. Ketika seluruh unsur tersebut mampu berjalan secara seimbang, Indonesia akan memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Dengan demikian, menjaga stabilitas rupiah dan IHSG bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku pasar, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan nasional.[]

