Representasi Standar Sosial dalam Lagu “The Man” Taylor Swift

Di era modern saat ini, musik tidak hanya sebagai lirik yang (hanya) terdengar sebagai hiburan. Banyak lagu yang tergunakan sebagai wadah untuk menyampaikan pesan, kritik sosial, hingga isu sosial di masyarakat. Maka dari itu, musik sering kali memiliki makna yang mendalam dari sekadar lirik dan irama yang mudah khalayak dengar.

Salah satu isu yang sering terbahas di kehidupan masyarakat adalah kesetaraan gender. Perempuan masih sering menghadapi perbedaan perlakuan, penilaian, dan tuntutan sosial daripada laki-laki. Isu tersebut kemudian banyak terangkat dalam karya populer, termasuk lagu. Salah satu lagu yang membahas isu tersebut adalah lagu The Man (2019) gubahan Taylor Swift dalam album Lover. 

Lagu yang telah meraih lebih dari 1 juta kali streaming di Spotify ini sempat menjadi sangat populer di TikTok karena liriknya yang dinilai sangat terhubung (relate) dengan kehidupan nyata kaum perempuan. Melalui lagu ini, Taylor Swift tidak sekadar menyajikan musik pop yang berenergi, tetapi juga membedah pengalaman personal perempuan dan pandangan masyarakat terhadap gender, terutama dalam dunia karier.

Mengenal Makna Lagu

Lagu The Man berisi pandangan Taylor tentang kesuksesan, ambisi, dan kepercayaan diri yang sering terpandang berbeda jika perempuan miliki. Melalui liriknya, Taylor merasa bahwa ada banyak hal lebih mudah masyarakat terima ketika oleh laki-laki lakukan alih-alih perempuan.  Ketika perempuan terlalu tenang, mereka teranggap lemah dan tidak percaya diri. Namun, ketika perempuan tampil berani dan ambisius justru mereka tercap dominan dan haus perhatian. Sementara itu, laki-laki dengan sikap yang sama akan ternilai keren dan berwibawa. 

Lagu The Man juga memperlihatkan perasaan lelah karena harus terus membuktikan diri untuk mendapatkan pengakuan yang setara. Taylor menunjukkan bahwa perempuan harus sering kali bekerja lebih keras agar oleh masyarakat hargai.  Hal tersebut terlihat dalam lirik yang paling terkenal dalam lagu ini: I’m so sick of running as fast as I can/ Wondering if I’d get there quicker if I was a man/.

Melalui lirik ini, Taylor menyuarakan standar sosial yang kerap memberikan perlakuan berbeda kepada perempuan. Ia mempertanyakan mengapa pencapaian perempuan harus membutuhkan usaha yang lebih untuk mendapatkan penghargaan atau penghormatan yang sama dengan laki-laki.

Baca Lainya  Peran Perempuan dan Lelaki di Masyarakat

Perempuan dan Standar Sosial

Perempuan kerap kali menghadapi berbagai standar sosial yang mempengaruhi cara mereka mendapat penilaian dari lingkungan. Standar tersebut tidak hanya berhubungan tentang fisik, tetapi juga mencakup sikap, karier, kehidupan pribadi, hingga mengekspresikan diri. Perempuan tertuntut untuk memenuhi ekspektasi secara bersamaan, seperti harus tampil menarik, bersikap santun, sukses dalam pekerjaan, serta mampu menjalankan peran dalam rumah tangga dengan baik.

Di sisi lain, sikap yang sama yang laki-laki tunjukkan demi mendapat penilaian berbeda. Hal tersebut, menyebabkan atau menimbulkan situasi yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan. Perempuan yang mempunyai ambisi besar dalam pekerjaan akan ternilai terlalu berlebihan dan terlalu mengejar kesuksesan, sebaliknya jika laki-laki yang menunjukkan ambisi akan tercap memiliki tujuan jelas.

Perbedaan tersebut tidak hanya terjadi dalam dunia pekerjaan, tapi juga dalam kehidupan sosial, perempuan kerap kali tersodori dua pilihan yang serba salah. Ketika perempuan menyampaikan pendapat tanpa ragu dan berani, masyarakat akan menganggapnya seorang yang haus akan perhatian. Sebaliknya, jika ia bersikap ramah, ia justru akan terpandang lemah dan ragu-ragu.

Penilaian yang Timpang

Ketimpangan penilaian sosial ini juga mulai meluas pada bagaimana masyarakat memvalidasi pencapaian untuk mendapat pengakuan yang sama perempuan harus berlari (bekerja keras) lebih cepat daripada laki-laki. Bahkan ketika berhasil pun, kesuksesan perempuan teranggap menjadi keberuntungan semata. Keharusan untuk terus-menerus membuktikan kemampuan yang mereka miliki di tengah penilaian yang tidak adil pada akhirnya menumbuhkan rasa lelah secara emosional dan membatasi kebebasan untuk mengembangkan kapasitas yang ada. 

Standar sosial ini juga Taylor rasakan dalam perjalanan karier di industri musik. Sebagai seorang musisi perempuan, kehidupan pribadi, dan kesuksesan yang digapai olehnya mendapat sorotan yang tidak sama dengan musisi laki-laki. Ketika musisi laki-laki menulis lagu tentang kisah asmara mereka, masyarakat akan menganggapnya karya seni yang emosional. Namun, ketika perempuan melakukan hal yang sama akan dianggap memamfaatkan kehidupan pribadi demi popularitas semata. Lagu ini menjadi fenomena yang menunjukkan bahwa standar sosial tidak hanya terjadi pada ruang publik biasa, tapi juga melekat kuat di industri kreatif.

Baca Lainya  Perempuan Menanggung Beban Sosial

Melalui lagu ini Taylor Swift, berhasil menyuarkan pahitnya realitas tersebut secara reletable dan mendalam. Lagu ini menjadi bukti bahwa musik bukan hanya sebagai hiburan dengan irama yang energik, tetapi juga sebagai wadah untuk menyampaikan kritik sosial terhadap bias gender di masyarakat. Alhasil, The Man mengajak para pendengarnya untuk menyadari standar sosial tersebut dan mulai mematahkannya, agar setiap individu dapat memandang dan menghargai setiap gender, berdasarkan kualitas, karya, serta kemampuan yang dimilikinya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *