Di sebuah kartun Zootopia (2016), dunia tergambarkan sebagai ruang metropolitan yang ideal. Sebuah utopia tempat bertemunya keberagaman dan harmoni sosial antarhewan. Kota ini menawarkan janji kesetaraan yang begitu memikat melalui slogan ikonik. Bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang tanpa memandang asal-usul atau spesies mereka.
Lanskap kota yang megah, pembagian distrik ekologis yang canggih, hingga sistem transportasi publik yang sangat inklusif. Demikian itu memperlihatkan sebuah pencapaian peradaban yang sempurna. Zootopia menggambarkan diri sebagai puncak dari tatanan sosial yang damai. Di mana masa lalu kelam yang penuh dengan rantai makanan predator dan mangsa telah berhasil terhapuskan dan terganti dengan toleransi.
Namun, jika kita mau menganalisis dinamika kota ini secara lebih kritis, di balik keindahan visual yang memanjakan mata tersebut sebenarnya terdapat realitas distopia yang penuh dengan berbagai penyimpangan sistemik. Lapisan-lapisan kebusukan ini tidak terlihat di brosur wisata kota. Melainkan bekerja secara senyap di ruang birokrasi, interaksi sehari-hari, dan kebijakan yang tidak tertulis.
Tatanan yang tampak stabil sesungguhnya sangat rapuh karena fondasinya tidak terbangun di atas kesadaran moral yang tulus. Namun malah terbangun di atas kepatuhan yang terpaksakan. Akhirnya, Zootopia menjadi sebuah metafora dan kritik sosial yang sangat tajam. Yakni mengenai bagaimana sebuah sistem modern dapat dengan sangat lihai menyembunyikan ketidakadilan di balik topeng kesetaraan yang indah.
Ilusi “Having It All” dan Penyeragaman Standar Kemenangan
Kontras tajam antara pencapaian semu ruang publik dan tekanan di balik layar menjadi relevan jika terkaitkan dengan tren “Seporsi Kemenangan”. Dalam fenomena digital tersebut, dalam “Seporsi Kemenangan” terdapat sebuah tuntutan terselubun. Agar perempuan modern mampu memiliki dan menguasai segalanya tanpa celah, sebuah konsep yang kita kenal sebagai the illusion of having it all. Perempuan terdorong, bahkan terpaksa secara tidak langsung oleh narasi lingkungan, untuk menjadi sosok yang mandiri secara finansial, memiliki karier yang bersinar di korporasi, berpendidikan tinggi, namun di saat yang sama tetap mampu menjalankan peran domestik tradisional dengan sempurna.
Persis seperti dunia utopia di Zootopia. Di luar, konten-konten tersebut kelihatan sangat ideal, penuh warna, inspiratif, dan mengagumkan bagi siapa saja yang melihatnya. Kita tersuguhi visualisasi perempuan muda dengan pakaian kerja yang rapi, memegang kopi mahal, bekerja di gedung pencakar langit, lalu pulang ke apartemen yang bersih. Namun, di balik estetika visual digital tersebut, konten ini sebenarnya menyimpan realitas yang sangat menyedihkan, melelahkan, dan penuh dengan tekanan psikologis yang luar biasa. Ironisnya, untuk mendapatkan label “menang” yang oleh netizen akui ini rasanya sangat sulit, menguras energi, dan menuntut pengorbanan kesehatan mental yang luar biasa.
Sebagai contoh konkret, media sosial sering kali meromantisasi kisah hidup perempuan urban yang bekerja keras hingga larut malam demi mengejar target karier, kemudian pulang menembus pekat dan bahayanya kota dengan menggunakan transportasi ojek daring sendirian, dan akhirnya tiba di rumah dengan selamat. Konten seperti ini kemudian mendapat judul sebagai “seporsi kemenangan hari ini”. Jika kita melihatnya dengan kacamata kritis, kondisi ini sebenarnya sangat memprihatinkan dan mengundang keresahan mendalam.
Hak Dasar Perempuan
Mendapatkan rasa aman selama perjalanan pulang kerja di malam hari seharusnya menjadi hak dasar yang mutlak dan terjamin oleh infrastruktur ruang publik serta negara. Bukan malah turun derajatnya menjadi sebuah “hadiah keberuntungan” atau pencapaian luar biasa yang harus kita syukuri di tengah kecemasan yang konstan. Romantisasi terhadap situasi yang tidak aman ini memperlihatkan betapa abainya masyarakat terhadap pemenuhan hak-hak dasar perempuan.
Pemberian label-label pujian seperti “perempuan tangguh”, “independent woman“, atau kekaguman terhadap kemampuan multitasking pada dasarnya adalah bentuk normalisasi yang keliru terhadap beban ganda (double burden) yang tidak adil. Masyarakat dan sistem sosial sering menggunakan pujian-pujian manis ini sebagai alat penenang agar perempuan tidak melayangkan protes terhadap ketimpangan yang mereka alami.
Perempuan terbiarkan berjuang sendirian di ruang publik yang maskulin dan kurang ramah gender, sementara tanggung jawab domestik di rumah tidak terkurangi sedikit pun dan tidak terbagi secara adil dengan pasangan atau anggota keluarga lainnya. Ketika perempuan merasa harus meniru standar kesuksesan yang seragam dan artifisial di internet demi menghindari stigma gagal, mereka justru kehilangan otoritas atas tubuh, waktu, dan ruang untuk mengukur kebahagiaan berdasarkan kapasitas diri mereka sendiri.
Sublimasi Psikologis melalui Tindakan Sederhana
Dalam perspektif psikologi, tekanan yang sangat berat, ekspektasi sosial yang tidak realistis, serta jebakan perbandingan sosial ini tidak boleh terbiarkan menumpuk hingga merusak kewarasan. Salah satu cara sehat dan adaptif untuk meredam serta mengelola energi negatif tersebut adalah melalui mekanisme pertahanan diri yang terkenal dengan istilah sublimasi.
Sublimasi adalah sebuah proses psikologis yang sangat positif. Di mana seseorang secara sadar atau tidak sadar mengubah dorongan-dorongan emosional yang merusak. Misalnya rasa stres, kecemasan kronis, rasa tidak berdaya, dan amarah akibat tuntutan lingkungan menjadi tindakan atau aktivitas yang bermanfaat, kreatif, dan menenangkan jiwa.
Untuk memutus rantai standar luar tak masuk akal, kita harus tegas bahwa pencapaian atau kemenangan tidak melulu terukur dari kuantitatif. Kemenangan seorang perempuan tidak tertentukan oleh seberapa tinggi posisinya di tempat kerja. Atau seberapa mahal barang yang termiliki, pun seberapa estetis feed media sosialnya. Ketika seorang perempuan sedang mengalami kelelahan mental yang hebat, mampu bangun tepat waktu di pagi hari. Serta langsung merapikan tempat tidurnya sendiri, tindakan yang tampak sepele sudah menjadi sebuah “karya pertama”.
Rekonseptualisasi Makna Kemenengan
Selain itu, bentuk-bentuk sublimasi sederhana ada banyak sekali di sekitar kita dan mudah untuk dipraktikkan. Sebagai contoh, seorang perempuan dapat memilih meluangkan waktu sepuluh menit di pagi hari untuk menikmati teh atau kopi secara tenang. Duduk di teras tanpa gangguan gawai, dan benar-benar merasakan kehangatan minuman tersebut tanpa terburu-buru memikirkan tumpukan surel pekerjaan. Tindakan ini adalah bentuk sublimasi yang mengubah kecemasan akan masa depan menjadi kesadaran penuh pada masa kini (mindfulness).
Pada akhirnya, tren “seporsi kemenangan” di TikTok mengejawantahkan ironi zaman. Sebuah panggung digital yang gemerlap tetapi juga menjadi ruang panoptikon yang mendikte bagaimana perempuan harus hidup dan merasa sukses. Ketika ruang publik dan sistem sosial belum sepenuhnya ramah dalam membagi beban hidup perempuan, media sosial justru hadir menawarkan kompensasi semu berupa estetika visual dan validasi algoritma.
Adanya konseptualisasi ulang terhadap makna “kemenangan” harus direbut kembali dari riuhnya layar gawai dan dikembalikan ke dalam otoritas diri. Kita harus berhenti meromantisasi ketimpangan sistemik sebagai bentuk ketangguhan individu, dan mulai merayakan ketangguhan yang sesungguhnya. Yakni keberanian untuk menjadi manusiawi, mengakui keterbatasan, dan merasa cukup tanpa perlu dikurasi oleh lensa kamera. Menolak tunduk pada distopia estetika TikTok bukan berarti kita menyerah pada keadaan. Melainkan sebuah pilihan sadar untuk keluar dari ruang gema kompetisi yang melelahkan.[]

