Nikah dan Tekanan Sosial yang Menghantui Perempuan

Sumber Gambar: magnific.com

Meja makan masih penuh, ketupat belum habis, dan pertanyaan itu sudah datang lebih dulu. “Kapan nikah?” Bukan dari satu orang saja. Tapi hampir semua orang, bergantian, seolah itu pertanyaan wajib yang harus ada dalam agenda arisan keluarga. Di meja yang sama, tidak ada yang menanyakan hal itu ke sepupu laki-laki. Mereka ditanya soal kerja, soal rencananya, soal mau ke mana hidupnya. Sementara perempuan ditanya soal kapan: kapan menikah, kapan punya anak, kapan lulus, dan kapan “selesai”.

Bukan sebuah kebetulan. Itu menjadi cara masyarakat mendefinisikan nilai seseorang dan selama puluhan tahun masyarakat mengukur nilai perempuan dari satu hal: apakah ia sudah ada yang memiliki? Dari sanalah stigma “perawan tua” lahir. Bukan dari kekhawatiran yang tulus, dan bukan dari kasih sayang yang salah arah. Label itu lahir dari ketakutan-ketakutan bahwa perempuan yang terlalu lama hidup sendiri akan menemukan sesuatu yang kurang baik: bahwa ia akan merasa baik-baik saja tanpa bergantung pada siapapun, terutama pada laki-laki.

“Perawan tua” bukan sekadar ejekan. Ia adalah alat. Cara masyarakat menjaga perempuan agar tetap di jalur yang mereka tentukan seperti menikah muda, patuh, dan tidak terlalu banyak bertanya. Ketika seorang perempuan memilih menyelesaikan pendidikannya dulu, membangun karier, atau memastikan ia punya tabungan sebelum menikah, masyarakat tidak menyebutnya bijaksana. Masyarakat menyebutnya “susah diatur”, “terlalu pemilih”, atau yang paling menohok: “nanti tidak laku lho”.

Pilihan Perempuan

Yang menarik perhatian dan jarang orang bicarakan adalah perempuan yang paling keras menerima tekanan sosial itu justru mereka yang paling tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Mereka bukan takut menikah. Mereka hanya menolak menikah dalam kondisi yang salah, dan masyarakat seringkali terlalu banyak komentar dan berasumsi.

Baca Lainya  Peran Ibu sebagai Pendidik Keluarga

Angka berbicara dengan jelas bahwa selama satu dekade terakhir, jumlah pernikahan di Indonesia turun dari sekitar 2,1 juta menjadi mendekati 1,4 juta per tahun bahkan hampir sepertiga berkurang. Di waktu yang sama, usia rata-rata perempuan Indonesia pertama kali menikah naik dari 21,8 tahun menjadi 23 tahun. Perempuan tidak berhenti ingin menikah. Tapi mereka mulai punya ruang untuk memilih waktu yang tepat.

Prof. Bagong Suyanto dari Universitas Airlangga menyebut penurunan ini berhubungan langsung dengan membaiknya akses perempuan ke pendidikan dan pekerjaan. Ketika perempuan punya penghasilan sendiri ketergantungan yang selama ini menjadi alasan banyak perempuan bertahan dalam pernikahan yang tidak sehat pun ikut melemah.

Mandiri Bukan Ancaman

Fenomena inilah yang sering perempuan muda saksikan di sekitar mereka seperti ibu-ibu yang tidak berani membeli barang yang mereka inginkan, hanya karena tidak punya uang sendiri. Serta perceraian yang meninggalkan perempuan tanpa aset, tanpa keahlian, dan tanpa jaring pengaman apapun. Mereka tidak ingin mewarisi ketakutan itu. Sehingga mereka memilih jalan lain.

Anggapan masyarakat bahwa perempuan berpenghasilan itu “susah diatur” mengandung asumsi: bahwa pernikahan yang baik adalah pernikahan yang di mana satu pihak berkuasa dan satu pihak harus patuh. Sehingga perempuan yang mandiri mengancam model itu dan itu bukan kelemahan perempuan, melainkan kelemahan model itu sendiri.

Perempuan-perempuan yang memilih menunda pernikahan demi membangun diri bukan sedang menghindari komitmen. Mereka justru sedang mempersiapkan diri untuk komitmen yang lebih kuat. Ketika dua orang masuk ke dalam pernikahan dengan kondisi yang setara sama-sama punya penghasilan, sama-sama boleh suara, dan keduanya memilih satu sama lain bukan karena terpaksa. Mereka justru membangun sesuatu yang jauh lebih tahan lama.

Baca Lainya  Hak Pendidikan Tinggi bagi Perempuan

Berhenti Mengukur Status Perempuan

Perempuan yang belum menikah di usia tiga puluhan bukan sedang berleha-leha. Ia mungkin sedang menyelesaikan gelar, membangun usaha, merawat kedua orang tua, atau sekadar menikmati hidup yang ia bangun dengan usahan dan keringatya sendiri. Semua itu bukan kegagalan. Semua itu adalah perjalanan hidup yang terus berjalan, dan pernikahan bukanlah sebuah

Yang perlu berubah bukan jadwal pernikahannya, yang perlu berubah adalah pertanyaan yang ingin kita ajukan. Bukan “kapan menikah?” tapi “apa yang lagi kamu bangun?” Bukan tatapan iba di tengah  pertemuan keluarga, tapi rasa ingin tahu yang tulus tentang perjalanan hidupnya. Serta memberikan dukungan, bukan dijadikan bahan topik pembicaraan.

Label “perawan tua” lahir dari masyarakat yang takut kehilangan kendali atas perempuan. Sementara perempuan yang terus melangkah menyelesaikan pendidikannya, yang sedang membangun kariernya, dan yang sedang menunggu pasangan yang benar-benar setara sedang membuktikan setiap hari bahwa mereka tidak butuh persetujuan siapapun untuk hidup dengan baik. Perempuan merdeka bukan ancaman bagi pernikahan. Ia justru yang paling siap untuk menjalaninya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *