Di era media sosial, ruang komunikasi berkembang begitu cepat. Menganggap kalimat-kalimat yang dahulu tabu kini sering muncul sebagai bagian dari candaan, tren, atau bentuk ekspresi lucu dan santai. Tidak sedikit perempuan maupun laki-laki menggunakan ungkapan bernada sensual demi menarik perhatian, memperoleh respons, atau sekadar mengikuti budaya bercanda di internet. Fenomena ini memunculkan pertanyaan sosial yang cukup rumit: bagaimana memahami batas antara kebebasan berekspresi, candaan digital, dan tindakan pelecehan?
Pertanyaan tersebut penting untuk membahas secara hati-hati karena sering kali masyarakat terjebak pada dua sikap yang sama-sama keliru. Di satu sisi, ada orang yang membenarkan pelecehan dengan alasan korban “memancing” perhatian melalui ucapan atau perilaku tertentu. Di sisi lain, ada pula yang menganggap seluruh bentuk komunikasi sensual di media sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya wajar tanpa memikirkan dampak sosialnya. Padahal, persoalan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar.
Tanggung Jawab dan Etika Berkomunikasi
Perlu menegaskan sejak awal bahwa pelecehan tetap merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Tidak ada ucapan, pakaian, unggahan, ataupun candaan yang bisa menjadikan alasan untuk merendahkan martabat seseorang. Tanggung jawab atas tindakan pelecehan tetap berada pada pelaku. Namun, pada saat yang sama, masyarakat juga perlu menyadari bahwa cara seseorang menampilkan diri di ruang publik digital dapat memengaruhi respons sosial yang muncul.
Media sosial telah melahirkan budaya komunikasi yang serba cepat, impulsif, dan sering kehilangan batas etika. Banyak pengguna mengunggah kalimat bernada sensual demi memperoleh perhatian, validasi, atau engagement. Kalimat seperti candaan menggoda, ajakan yang bersifat ambigu, atau komentar yang mengarah pada sensualitas sering dianggap sebagai bagian dari humor internet. Masalahnya, tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam memahami konteks candaan tersebut.
Sebagian orang menganggap ungkapan seperti itu hanyalah lelucon, tetapi sebagian lain menafsirkannya sebagai ajakan untuk melanggar batas personal. Di sinilah muncul persoalan utama: ruang digital membuat batas antara bercanda dan pelecehan menjadi kabur. Ketika melakukan komunikasi tanpa tatap muka, banyak orang kehilangan sensitivitas terhadap etika dan rasa hormat. Karena itu, masyarakat perlu membangun kesadaran baru tentang pentingnya komunikasi yang sehat di media sosial. Kebebasan berekspresi memang hak setiap individu, tetapi kebebasan tersebut tetap memerlukan tanggung jawab sosial. Seseorang yang mengunggah sesuatu di ruang publik harus siap menerima berbagai respons, termasuk respons yang tidak diharapkan. Namun, menerima kemungkinan respons bukan berarti membenarkan tindakan pelecehan.
Membangun Literasi Digital dan Budaya Saling Menghormati
Dalam konteks ini, masyarakat tidak seharusnya membebani perempuan dengan tanggung jawab untuk ‘menjaga diri’ sendirian, sementara mereka membebaskan laki-laki dari kewajiban mengendalikan perilakunya. Sebaliknya, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial perlu mendidik laki-laki agar memahami konsep persetujuan, menghormati tubuh orang lain, serta menerapkan etika dalam berkomunikasi. Selain itu, setiap pengguna media sosial harus menyadari bahwa tidak semua hal yang muncul di media sosial dapat menjadikan alasan untuk bersikap tidak sopan.
Di sisi lain, perempuan maupun laki-laki sama-sama perlu lebih bijak dalam menggunakan bahasa di ruang digital. Budaya viral sering membuat orang berlomba-lomba mencari perhatian tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap dirinya sendiri maupun lingkungan sosial. Ketika menormalisasikan candaan sensual, masyarakat perlahan kehilangan sensitivitas terhadap batas kesopanan dan penghormatan.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan krisis yang lebih besar, yaitu krisis literasi digital dan etika komunikasi. Banyak orang mampu menggunakan teknologi, tetapi belum tentu memahami cara berkomunikasi yang sehat di dalamnya. Akibatnya, media sosial berubah menjadi ruang yang penuh komentar kasar, pelecehan verbal, dan saling menyalahkan. Alih-alih terus memperdebatkan apakah seseorang “memancing” pelecehan atau tidak, diskusi publik seharusnya mengarahkan pada bagaimana membangun budaya komunikasi yang lebih dewasa. Masyarakat perlu memahami bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga ruang publik digital agar tetap aman dan bermartabat.
Pada akhirnya, pelecehan tidak pernah dapat dibenarkan. Akan tetapi, kesadaran untuk menjaga etika komunikasi juga penting agar ruang digital tidak semakin dipenuhi budaya yang mengaburkan batas antara humor, sensualitas, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Kebebasan berbicara seharusnya berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial, empati, dan kesadaran moral. Jika sering menggunakan sosial media tanpa etika, maka yang hilang bukan hanya rasa malu, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk saling menghargai sebagai manusia.[]

