Inklusivitas, Kursi Lipat, dan Nasib Mahasiswa Kidal

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Dunia pendidikan sering kali menyuarakan slogan “Inklusivitas”. Yakni menuntut akses pendidikan yang setara untuk semua kelompok tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi. Namun, apabila kita mengesampingkan sejenak slogan tersebut dan melihat secara lebih mendalam ruang kelas, akan terlihat suatu kenyataan sederhana.

Adalah dunia pendidikan kita ternyata masih terdominasi oleh penggunaan tangan kanan. Di antara deretan kursi kuliah, ada kelompok kecil yang setiap harinya harus beradaptasi dengan desain ruang yang kurang mendukung mereka. Mereka adalah kelompok yang menggunakan tangan kiri atau kidal.

Inklusivitas Fasilitas

Menjadi mahasiswa kidal di lingkungan kampus sering kali terasa seperti harus menyesuaikan diri dengan situasi yang kurang sesuai dengan kebutuhan mereka. Permasalahan paling nyata dan sering memunculkan rasa ketidaknyamanan adalah fasilitas fisik berupa kursi kuliah lipat.

Bagi sebagian besar mahasiswa yang menggunakan tangan kanan untuk menulis, meja kecil terpasang di sisi kanan kursi berfungsi sebagai sandaran nyaman. Namun sebaliknya, bagi mahasiswa kidal, kursi kuliah lipat tersebut malah menjadi fasilitas kurang nyaman. 

Bayangkan saja, untuk dapat mencatat penjelasan dosen dengan cepat, mahasiswa kidal harus memiringkan posisi tubuhnya ke arah kanan agar tangan kirinya dapat bertumpu pada meja yang menempel pada kursi. Jika mereka tidak memiringkan posisi tubuhnya, maka tangan kiri mereka akan berada tanpa penopang, yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan rasa lelah dan ketidaknyamanan di bagian bahu dan punggung. Hal ini tidak hanya tentang rasa nyaman, tetapi juga soal keadilan fasilitas.

Penyesuaian dan Tantangan

Permasalahan tidak hanya soal kursi, tetapi juga tentang tantangan saat mulai menulis di atas kertas. Terdapat kondisi sering mahasiswa kidal alami, yaitu ketika tangan mereka tanpa sengaja menggeser tulisan yang baru mereka tulis.

Baca Lainya  Wanita dan Wewangian

Hal ini karena arah penulisan bahasa Indonesia yang bergerak dari kiri ke kanan, yang membuat sisi tangan kiri penulis bergerak mengikuti arah tulisan dan bersentuhan dengan tinta yang baru keluar dari ujung pena. Dengan begitu, catatan yang seharusnya rapi menjadi terlihat kotor. Dalam kondisi ujian yang menegangkan, hal kecil seperti ini dapat mengganggu konsentrasi dan suasana hati saat belajar. 

Selain itu, terdapat juga keterbatasan ruang gerak yang menjadi masalah tersendiri. Di ruang kelas yang ramai, posisi duduk sering menjadi tantangan. Jika mahasiswa kidal duduk di sebelah kanan mahasiswa yang menggunakan tangan kanan, bertabrakan siku pun sulit untuk terhindari. Siku keduanya akan saling bertabrakan ketika sedang fokus mencatat. Seringnya, mahasiswa kidal lah yang harus menyesuaikan diri dengan menggeser posisi duduknya ke pinggir kuris demi menjaga kenyamanan bersama di meja belajar. 

Stigma Sosial Tak Kasat Mata

Selain permasalahan fisik, ada juga beban psikologis yang tidak terlihat secara langsung tetapi tetap mereka rasakan, yaitu sudut pandang sosial. Di lingkungan sosial, penggunaan tangan kiri masih sering terpandang sebagai sesuatu yang kurang sopan.

Walaupun di lingkungan kalangan mahasiswa pandangan tersebut mulai berkurang, tetapi perhatian khusus seperti terlontarnya pertanyaan: “Lho, kok pakai tangan kiri?“, “Oh, kamu kidal ya?” atau “Memangnya nggak bisa latihan pakai tangan kanan?” yang terus berulang terkadang membuat mereka merasa berbeda dari yang lain. Seakan-akan menjadi kidal dipandang sebagai suatu kesalahan yang perlu untuk diperbaiki, bukan sebagai variasi biologis yang normal.

Namun, di balik semua keterbatasan itu, mahasiswa kidal sebenarnya adalah yang memiliki kemampuan adaptasi yang kuat. Mereka terbiasa belajar menemukan cara beradaptasi, mulai dari mengatur kemiringan kertas saat menulis, memilih posisi duduk yang paling strategis di pojok kiri ruangan. Serta melatih keterampilan motorik agar tetap bisa menggunakan alat-alat yang terdesain untuk tangan kanan, seperti gunting dengan lancar. 

Baca Lainya  Pertemanan Mahasiswa: Nyata atau Pura-Pura?

Adaptasi dan Kekuatan Potensi

Keunikan seperti ini sebenarnya adalah sebuah nilai tambah. Beberapa penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang kidal sering memiliki kemampuan berpikir yang lebih kreatif dan cara pemrosesan informasinya yang berbeda karena dominasi otak kanan yang lebih intuitif. Keberagaman cara kerja otak inilah yang seharusnya terhargai dalam diskusi di kelas, bukan malah terabaikan oleh desain kursi yang kaku. 

Sudah seharusnya pihak kampus mulai memperhatikan isu ini sebgai bagian dari agenda inklusivitas yang nyata. Tidak perlus sampai melakukan perbuahan besar pada seluruh kursi kuliah lipat di kampus. Menyediakan sekitar 5-10 persen kursi lipat khusus untuk pengguna tangan kiri di setiap ruang kelas. Atau menyediakan meja datar yang lebih netral, adalah langkah nyata untuk menghargai kelompok minoritas ini. 

Tulisan opini ini bukan bertujuan menuntut perlakuan khusus, tetapi menyadarkan lingkungan sosial bahwa ruang kelas seharusnya menjadi ruang adil. Ialah tak kalah penting juga menciptakan inklusivitas untuk semua variasi anatomi tubuh.

Jangan membiarkan mahasiswa mengalami kelelahan pada punggungnya dan membuat noda tinta di tangan hanya karena sistem desain kurang mempertimbangkan perbedaan. Pada akhirnya, kualitas pemikiran tidak ditentukan oleh tangan yang digunakan memegang pena, melainkan oleh apa yang tertuang di atas kertas.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *