Pernikahan merupakan ikatan janji nika yang laki-laki dan perempuan lakukan dengan tujuan menjalankan hidup dalam satu rumah tangga bahagia berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Namun, sebagaimana hal umumnya, permasalahan bakal muncul dari sebuah konsep ideal. Konsep pernikahan ideal sebagaimana terdefiniskan di atas, mendatang persoalan serius bagi beberapa masyarakat negara ini, yakni pernikahan dini salah satunya.
Pernikahan dini adalah pernikahan yang terjadi atas pasangan belum cukup umur. Biasanya pernikahan ini terjadi karena paksaan suatu adat setempat atau paksaan orang tua yang ekonominya tidak memadai. Padahal pernikahan ini bukanlah solusi untuk keluar dari kemiskinan. Sebaliknya, ia justru membuat konflik rumah tangga mudah terjadi dan berujung kekerasan hingga perceraian di usia muda.
Rumusan Penyebab
Di beberapa daerah, menikah muda adalah sesuatu yang cukup wajar bahkan membanggakan. Anak perempuan yang belum menikah di usia tertentu sering mendapat tekanan sosial bahkan teranggap mempermalukan keluarga. Karena itu, banyak remaja yang mendapat paksaan menikah padahal dia belum siap mental dan finansialnya.
Budaya seperti ini yang membuat pernikahan bukan lagi terpandang sebagai tanggung jawab seumur hidup, melainkan hanya sekedar kewajiban sosial yang harus ada. Padahal, seharusnya untuk membangun sebuah keharmonisan keluarga butuh kesiapan mental dan finansial yang matang agar dapat bertahan menghadapi tantangan kehidupan.
Kemiskinan menjadi salah satu faktor terjadinya pernikahan dini. Sebagian orang tua mempercai bahwa menikahkan anak dapat mengurangi tanggungan ekonomi keluarga. Mereka hanya berharap kehidupan anaknya menjadi lebih baik setelah menikah dengan pasangan yang lebih mampu.
Namun, kenyataanya, pasangan muda justru hidup dalam kondisi ekonomi yang belum stabil. Mereka tidak memiliki pekerjaan yang tetap, penghasilan yang masih rendah, dan bahkan masih ada yang hanya bergantung kepada orang tuanya. Kondisi ini membuat pasangan menjadi stress dan menimbulkan konflik karena belum bisa mengelola emosi dengan stabil.
Dampak Nyata
Pasangan yang masih berusia di bawah umur, cenderung belum bisa mengelola emosi dan menyelesaikan masalah dengan baik. Pertengkaran verbal maupun fisik seperti KDRT akan meninggalkan trauma psikologis yang mendalam bagi korban. Banyak perempuan yang menikah muda, menjadi korban kekerasan karena posisi mereka yang cukup lemah secara ekonomi maupun sosial.
Kurangnya kesiapan ekonomi dan mental membuat konflik terus menerus terjadi. Solusi akhir yang diambil pasti perceraian. Perceraian tidak hanya berdampak pada pasangan, tetapi juga pada anak yang mereka lahirkan. Anak akan kekurangan kasih saying, gengguan psikologis, serta masa depan yang semakin suram.
Pernikahan dini berdampak pada kesempatan memperoleh Pendidikan dan pekerjaan yang layak. Masa muda yang seharusnya merka habiskan untuk belajar, mengembangkan diri, dan bermain Bersama teman, kini mereka harus meninggalkan semua itu demi menjalani peran sebagai orang tua. Hal ini menyebabkan kemiskinan rantai dalam keluarga.
Solusi Mengatasi Pernikahan Dini
Diperlukan kerja sama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah untuk mengurangii angka pernikahan dini. Dengam mengadakan sosialisasi masyarakat dan mengedukasi pentingnya pendidikan dan kesiapan sebelum melakukan pernikahan. Orang tua juga harus memahami kondisi anak dan memikirkan bahwa masa depan anak bisa sukses tanpa harus menikahkan anak mereka di usia yang belum memadai ini.
Pemerintah juga harus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dengan adil dan memberikan akses pendidikan yang lebih baik, supaya keluarga tidak menjadikan pernikahan dini sebagai jalan keluar dari kemiskinan.
Pernikahan dini tidak bisa menjadi solusi kesulitan ekonomi, melainkan awal dari permasalahan baru dalam kehidupan rumah tangga. Tekanan berupa adat dan kemiskinan menyebabkan rumah tangga muda mudah mengalami konflik, KDRT, dan perceraian dini.
Itu sebabnya, semua masyarakat perlu bekerja sama untuk mengubah pola pikir bahwa menikah muda tidak akan menyelesaikan masalah ekonomi. Maka dari itu, penikahan harus dengan pendidikan, finansial, dan mental yang matang sebelum memutuskan untuk menikah. Dengan ini, pernikahan bisa di jalani dengan harmonis bukan menjadi sumber penderitaan di usia muda.[]

