Kartini dan Kebebasan Perempuan di Era Digital

Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan. Kartini dikenal sebagai sosok yang membuka jalan bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan. Berkat perjuangannya, perempuan Indonesia saat ini dapat menempuh pendidikan tinggi, bekerja, bahkan berperan penting di berbagai…

Baca Lengkapnya

Ibu Menggantikan Peran Ayah: Sosok Hebat di Balik Ketangguhan Keluarga

Dalam sebuah keluarga, kehadiran ayah dan ibu memiliki peran yang sangat penting. Keduanya saling melengkapi dalam membesarkan anak, memberikan kasih sayang, serta memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada kalanya seorang ibu harus menjalani peran yang lebih berat karena harus menggantikan posisi ayah dalam keluarga. Banyak alasan yang menyebabkan seorang…

Baca Lengkapnya
Kesetaraan Gender

Mengapa Gender Ditentukan oleh Warna, Hobi, dan Mimpi?

Pernahkah kita mendengar kalimat seperti, “Anak laki-laki kok suka warna ping?” atau “Perempuan jangan main bola, itu olahraga laki-laki”? Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa, tetapi sebenarnya kalimat tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih sering membedakan sesuatu berdasarkan gender. Masyarakat kerap mengaitkan warna, hobi, bahkan cita-cita dengan jenis kelamin seseorang. Padahal, setiap orang memiliki kesukaan, bakat,…

Baca Lengkapnya

Patriarki dan Peran Domestik

Membahas mengenai patriarki tak pernah lelah untuk terbicarakan dari waktu ke waktu sejak dulu. Praktik budaya yang mengakar kuat dalam suatu masyarakat yang terakibatkan oleh cara pandang terhadap peran antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki bertempat sebagai pihak dominasi kekuasaan terhadap perempuan dalam suatu kelompok sosial. Sedangkan pihak perempuan selalu menjadi kaum yang tidak terbiarkan menyuarakan…

Baca Lengkapnya

Laki-Laki, Nafkah, dan Kuasa

Saya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang masih memegang kuat budaya patriarki. Sejak kecil, saya melihat ayah memosisikan diri sebagai seseorang yang kuat dan pemegang kuasa utama. Beliau telah bekerja keras mencari nafkah dalam keluarga. Sementara ibu, mengerjakan seluruh pekerjaan domestik di rumah secara mandiri. Masyarakat menganggap memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengurus keluarga sebagai kewajiban…

Baca Lengkapnya

Kuasa Gender di Balik Makalah

Dalam dinamika perkuliahan, kerja kelompok sering kali menyisakan cerita ketimpangan yang luput dari perhatian. Sering kali, tanggung jawab berat untuk melakukan riset literatur dan merangkai argumen makalah secara otomatis bergeser ke pundak mahasiswi. Ironisnya, dedikasi intelektual yang menguras energi ini kerap kali hanya menjadi komoditas kelompok. Di mana mahasiswa yang pasif sepanjang proses pengerjaan bisa…

Baca Lengkapnya

Guru PAUD: Mengapa Hampir Selalu Perempuan?

Coba perhatikan ruang kelas PAUD atau TK sekitar kita. Hampir pasti, seorang perempuan berdiri di depan anak-anak. Ia berbicara dengan suara lembut, menunjukkan kesabaran yang besar, dan tetap tersenyum meski ada anak yang menangis, bertengkar, atau tiba-tiba rewel saat belajar. Ini bukan suatu kebetulan. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan bahwa perempuan mendominasi…

Baca Lengkapnya

Toxic Parenting: Ketika Orang Tua Jadi Sumber Luka

Kebanyakan dari kita sering mendengar perkataan dari orang tua “jangan jadi anak durhaka”. Namun di tengah adanya pernyataan tersebut ada satu bumerang jarang sekali seorang anak menanyakan “jangan jadi orang tua durhaka”. Pastinya seorang anak tahu efek dari pertanyaan tersebut, dimarahi atau bahkan ditelantarkan. Tindakan durhaka bukan hanya berupa kekerasan fisik, tetapi kelalaian dalam memenuhi…

Baca Lengkapnya

Dilema Ibu Pekerja dalam Pengasuhan Anak

Baru-baru ini publik heboh dengan kasus tindak kekerasan pada anak di salah satu daycare di Jogja. Kasus tersebut menimbulkan keresahan besar, terutama bagi para ibu pekerja yang setiap harinya harus meninggalkan anak untuk bekerja. Bagaimana bisa seorang ibu tidak resah? Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman justru menjadi tempat yang melukai anak-anak. Komisi Perlindungan Anak…

Baca Lengkapnya

Pemikiran Pascakolonial: Ketika Bule Menjadi Trofi Status Sosial di Indonesia

Pemikiran pascakolonial masih memengaruhi cara sebagian masyarakat Indonesia memandang hubungan romantis, kecantikan, dan status sosial. Saya menyadari hal itu ketika membaca sebuah komentar di TikTok yang berbunyi, “Kak, pokoknya kamu harus sama bule.” Komentar tersebut memunculkan pertanyaan sederhana tetapi penting: mengapa harus bule? Mengapa banyak orang masih menganggap identitas Barat sebagai nilai tambah dalam sebuah…

Baca Lengkapnya

Perempuan Karier Masih Dianggap Egois?

Perempuan pada era modern memiliki kesempatan yang lebih luas dalam pendidikan dan pekerjaan. Saat ini banyak kaum Hawa bekerja, membangun usaha, bahkan menjadi pemimpin di berbagai bidang. Namun, di tengah perkembangan tersebut, masyarakat masih sering memberi stigma negatif terhadap mereka yang karier.  R.A.Kartini juga mendorong mereka untuk berdaya di era modern ini tapi mengapa justru jika mereka…

Baca Lengkapnya

Menggugat Stigma “Hanya” Ibu Rumah Tangga

Pertanyaan mengenai rencana pasca-kelulusan sering kali menjadi beban psikologis bagi banyak mahasiswa. Muncul ketakutan tersirat bahwa memilih peran sebagai ibu rumah tangga berarti menyia-nyiakan seluruh jerih payah menuntut ilmu di universitas. Kita tentu tidak asing dengan sinisme komunal yang sering terdengar di masyarakat, seperti, “Sekolah tinggi-tinggi kok ujung-ujungnya cuma ke dapur.” Penggunaan kata “hanya” di…

Baca Lengkapnya

Menggugat Stigma “Ujungnya Cuma ke Dapur”

Hingga hari ini, stigma bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena akhirnya akan kembali ke dapur masih terus masyarakat rawat. Pikiran tersebut jelas tidak masuk akal, sebab mengurus rumah tangga dan mendidik anak justru membutuhkan kecerdasan yang matang. Ada kontradiksi besar ketika masyarakat menuntut lahirnya generasi masa depan yang cerdas, namun membatasi ruang belajar bagi…

Baca Lengkapnya

Paras dan Bentuk Tubuh: Tolok Ukur Nilai Perempuan

Pernahkah kita menyadari bahwa perempuan sering kali ternilai dari paras wajah dan bentuk tubuhnya sebelum karakter, kepribadian, dan kemampuannya terkenal lebih jauh lagi? Di tengah perkembangan media sosial dan budaya populer saat ini, perempuan sering kali berhadapan dengan berbagai standar kecantikan yang teranggap ideal. Wajah cantik dan mulus, kulit bersih, tubuh bagus, dan penampilan yang…

Baca Lengkapnya

Tekanan Sosial Melanjutkan Impian Pendidikan

“Masa depan perempuan itu sudah pasti di dapur. Mau berpendidikan atau tidak ujungnya tetap sama. Jadi, buat apa melanjutkan pendidikan?” begitulah kalimat yang sering masyarakat penganut budaya patriarki lontarkan. Lagi-lagi perempuan berhadapan dengan tekanan sosial yang merendahkan martabatnya. Bukankah pendidikan merupakan hak bagi setiap insan tanpa memandang jenis kelamin?Perempuan juga memiliki cita-cita, keinginan untuk berkembang, serta harapan untuk…

Baca Lengkapnya