Menikah atau Karier, Jalan Pilihan Perempuan Modern

Perempuan Karier Sumber Gambar: its.ac.id

Perempuan modern hari ini terhadapkan pada pilihan yang tidak mudah: menikah atau melanjutkan karier? Dua pilihan ini seringkali teranggap sebagai jalan yang berbeda, dan perempuan harus memilih salah satu. Namun, apakah benar hanya ada dua pilihan ini? Apakah perempuan harus memilih antara kebahagiaan pribadi dan kesuksesan karier?

Dalam pandangan saya, perempuan modern harus memiliki prioritas yang jelas dan manajemen waktu yang baik untuk mencapai keseimbangan antara menikah dan karier. Karena dewasa ini banyak sekali perempuan yang menikah muda tetapi bercerai beberapa tahun kemudian. Tidak sedikit pula perempuan yang bekerja, tapi resign karena merasa tidak nyaman atau tidak suka dengan pekerjaan tersebut. Biasanya teralami oleh anak-anak fresh graduate.

Perempuan modern sangat berbeda dengan perempuan zaman dahulu. Mereka (konon) memiliki pandangan yang lebih luas dan kritis. Beranggapan jika mereka memiliki banyak uang maka mereka tidak begitu memerlukan sosok pria. Juga karena pengaruh globalisasi, perempuan sekarang lebih memilih untuk menunda pernikahan dan terus melanjutkan kariernya. Hal ini banyak terjadi pada negara maju seperti Singapura, Amerika Serikat, Swiss, dan banyak lagi.

Sedangkan perempuan zaman dahulu memilih menikah muda karena beberapa faktor. Banyak orang tua yang mendorong anak perempuannya untuk segera menikah bahkan melalui mekanisme perjodohan. Nah, makanya zaman-zaman ini sering mendapat sebutan zaman Siti Nurbaya. Mereka tidak memandang berapa usia dari perempuan seperti halnya nenek saya sendiri, nenek menikah ketika masih berusia 9 tahun.

Gugatan Filosofi

Faktor lain seperti pada saat itu, perempuan juga teranggap sebagai aib karena tidak bisa mencari uang untuk memenuhi kebutuhan. Tugas perempuan hanya ada tiga menurut orang jawa yaitu masak, manak, macak yang berarti memasak, melahirkan, dan berdandan. Jadi banyak sekali perempuan yang ternikahkan untuk tujuan dapat terpenuhi kebutuhannya.

Baca Lainya  Siti Khadijah: Cerminan Perempuan Karier di Masa Rasulullah

Mereka memilih menikah juga karena mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan, banyak orang tua yang belum mampu membiayai sekolah. Sedangkan untuk makan saja kadang masih kurang, jadi anak-anak perempuan ternikahkan dengan harapan bisa hidup lebih baik dari orang tuanya. Jarang sekali zaman itu perempuan bersekolah hingga SMA terlebih lagi sarjana. Perempuan tertugaskan untuk memasak dan bebersih di rumah kadang kala perempuan juga harus membantu suami di sawah atau ladang.

Beruntung sekali kita tidak hidup di zaman itu, kita hidup di era modern yang sangat maju. Di mana harga diri, derajat perempuan tersamakan dengan laki-laki. Bukan lagi manusia rendah yang tidak tahu apa-apa. Dengan ini seharusnya kita sudah memiliki gambaran hidup kita di masa yang akan datang. Sudah menentukan jalan mana yang akan kita pilih.

Meskipun sudah zaman modern, perempuan produktif di Indonesia juga banyak yang memilih menikah. Berimbangan dengan perempuan yang memilih bekerja. Tercatat 52,6% partisipasi angkatan kerja perempuan yang masih kalah jauh dengan angkatan kerja laki-laki sebanyak 81,4%. Meskipun sudah menikah, perempuan Indonesia tetap melanjutkan karirnya. Mereka tidak memutuskan pekerjaan mereka meskipun hal itu sangat melelahkan karena pekerjaan menjadi dua kali lipat, harus fokus dengan pekerjaan dan mengurus rumah. 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perempuan modern memiliki pilihan yang beragam dalam menjalani kehidupan mereka, dan tidak ada satu pilihan yang lebih baik daripada yang lain. Yang terpenting adalah perempuan memiliki kebebasan untuk memilih dan menjalani kehidupan yang mereka inginkan.

Ibu Muda Zaman sekarang

Ibu-ibu modern melakukan Keluarga Berencana (KB) agar mereka tidak kerepotan mengurus anak sekaligus mengerjakan urusan karir. Pemerintah juga mengadakan program tersebut semenjak tahun 1957. Demi memperbaiki negara ini menjadi lebih maju, dengan mengurangi jumlah manusia. Berbanding balik dengan wanita dahulu, katanya “semakin banyak anak banyak rezeki” begitulah pandangan orang-orang dahulu. Anak banyak akan membawakan rezekinya dengan jalan yang berbeda-beda menurut mereka.

Baca Lainya  Pendidikan Perempuan, Kunci Perubahan Dunia

Ibu-ibu sekarang banyak loh yang mementingkan outfit  untuk anaknya bahkan suminya. Bagi mereka pakaian bukan sekedar penutup badan, pakaian merupakan identitas.  Harus mengenakan pakaian rapi dan bersih agar dipandang baik oleh orang lain. Tapi banyak juga mama muda memakaikan pakaian modis untuk anaknya seperti yang sedang trending di media sosial.

Bukan hanya pakaian yang mengikuti standar media sosial, kadang sebutan untuk orang tua juga diperhatikan. Orang modern banyak terpengaruh westernisasi (budaya Barat) agar terlihat keren. Mami dan papi, bokap dan nyokap, ayah dan bunda seringkali digunakan untuk memanggil orang tuanya. Kata bapak dan ibuk, mbok, mak dll sudah jarang digunakan generasi sekarang.

Menghargai Diri Sendiri

Perempuan modern (sekarang) sudah tahu hal apa yang bagus untuk diri dan keluarga. Menjaga reputasi keluarga itu sebagian besar ada di tangan perempuan. Mereka harus memikirkan secara matang bagaimana dan kapan waktu yang tepat untuk mereka melangkah. Apabila waktu dan kondisi tidak tepat, siap-siap akan menjadi bahan perbincangan banyak orang. Namun bukan pilihan yang sulit, jika kita memahami dengan baik akan diri sendiri. 

Tidak perlu memaksa manakah yang orang lain lakukan, manakah yang sedang trending atau hanya mengikuti arus? Tentukan saja sesuai keinginan hati jangan ikuti gengsi. Teman ada yang menikah muda, ingin nikah juga? Teman ada yang kariernya sukses, berkerja juga? Tidak, berhenti mengikuti standar orang lain. kita memiliki pilihan sendiri karena kitalah yang tahu bagaimana diri kita yang sebenarnya. Memilih untuk menikah atau melanjutkan karir itu pilihan, bukan sekedar ikut-ikutan.

Memilih menikah atau melanjutkan karier itu tergantung kita sendiri. Tidak perlu memaksa manakah yang orang lain lakukan, manakah yang sedang trending atau hanya mengikuti arus? Tentukan saja sesuai keinginan hati jangan ikuti gengsi. Teman ada yang menikah muda, ingin nikah juga? Teman ada yang kariernya sukses, berkerja juga? Tidak, berhenti mengikuti standar orang lain kita memiliki pilihan sendiri karena kitalah yang tahu bagaimana diri kita yang sebenarnya.[]

Baca Lainya  Peran Ibu sebagai Pendidik Keluarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *