Setiap perempuan, hidup dengan kisah masing-masing. Kisah yang tidak selalu terceritakan, tetapi terasa dari cara mereka berjalan, tertawa, atau bahkan diam. Di balik langkah-langkah kecil itu, ada batas-batas tak terlihat yang sering membuat dunia terasa sempit. Batas yang tidak tertulis, tetapi begitu kuat memengaruhi cara perempuan memandang diri dan tempatnya di kehidupan ini.
Sejak kecil, banyak perempuan tumbuh dengan kalimat-kalimat sederhana yang ternyata menyimpan aturan besar. “Perempuan jangan ribut,” “jangan terlalu berani,” atau “Yyng sopan, yang halus.” Kata-kata ini mungkin bermaksud untuk mendidik, tetapi lama-kelamaan berubah menjadi pagar. Pagar yang membuat perempuan bertanya apakah suaranya terlalu keras, apakah mimpinya terlalu besar, atau apakah keinginannya terlalu egois.
Hal-hal seperti ini terjadi begitu halus, sampai perempuan sering tidak sadar bahwa ia sedang menahan diri sendiri. Ia membatasi impiannya karena takut ternilai. Ia meredam kemarahannya karena ternggap tidak layak marah. Ia menahan air mata karena tidak ingin terlihat lemah. Kadang-kadang, batas itu tidak datang dari orang lain, tetapi tumbuh dari dalam, dari ketakutan yang lahir dari pengalaman bertahun-tahun tidak terdengar.
Celah Ruang
Namun, hidup selalu memberi ruang, meski kecil. Dan banyak perempuan mulai menemukan celah untuk masuk ke ruang itu. Mereka mulai memberi kesempatan pada diri sendiri untuk bernapas, bertanya, dan menolak hal-hal yang tidak lagi membuat mereka menjadi manusia seutuhnya. Tidak selalu dalam bentuk perjuangan besar, kadang hanya keberanian sederhana untuk mengatakan, “Hari ini aku butuh waktu untuk diriku sendiri.” Atau keberanian untuk melangkah keluar dari sesuatu yang tidak sehat, sekalipun orang lain tidak mengerti.
Dalam mencari ruangnya sendiri, perempuan sering harus berdamai dengan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar hilang. Saat ia memilih pendidikan tinggi, ada suara kecil yang berkata: “Apakah ini egois?”. Saat ia mengejar karier, suara lain muncul: “Apakah ini membuatku terlihat tidak peduli?” Rasa bersalah itu menjadi bayangan yang mengikuti ke mana pun ia pergi. Padahal, perempuan juga berhak merasa lelah, ingin terhargai, dan berhak memilih jalan yang membuat hidupnya terasa benar.
Dunia belum sepenuhnya ramah. Banyak perempuan masih harus membuktikan dua kali lipat untuk mendapatkan pengakuan yang sama. Di beberapa ruang, suara mereka ditanggapi setelah suara laki-laki selesai. Kemampuan mereka dipertanyakan sebelum mendapat kesempatan. Dan ketika mereka berhasil, sering menyandang bahwa kesuksesan itu “kebetulan,” bukan hasil kerja keras.
Namun yang menakjubkan, perempuan tetap bertahan. Tidak hanya bertahan, mereka tumbuh. Mereka mengubah hal kecil menjadi sesuatu yang berarti. Ibu rumah tangga yang membangun usaha kecil sambil mengurus anak. Mahasiswi yang belajar keras meski orang di sekitarnya meremehkan pilihan jurusannya. Guru yang mendengarkan murid perempuan dengan lebih sabar karena ia tahu rasanya tidak punya tempat untuk bersuara. Mereka semua adalah potongan-potongan perubahan yang bergerak perlahan tapi pasti.
Membuka Jalan
Perempuan yang mencari ruangnya sendiri bukan hanya memperjuangkan diri. Mereka membuka jalan bagi generasi yang belum lahir. Mereka ingin anak perempuan tumbuh tanpa takut bermimpi besar, dan anak laki-laki tumbuh dengan pemahaman bahwa kekuatan bukan selalu tentang keras, dan kelembutan bukan kelemahan. Ketika perempuan mendapatkan ruang, itu bukan kemenangan satu orang, itu kemenangan bagi banyak orang sekaligus.
Pada akhirnya, batas-batas tak terlihat itu mungkin tidak akan hilang sepenuhnya dalam waktu dekat. Tetapi setiap langkah kecil perempuan entah itu berbicara lebih jujur, mencintai diri sendiri, menetapkan batas sehat, atau mengatakan kebenaran meski suaranya bergetar selalu menjadi retakan baru pada dinding yang mengurung. Dan retakan-retakan itu akan terus melebar, hingga suatu hari dunia tidak lagi memaksa perempuan untuk mengecilkan dirinya agar muat di dalamnya.
Perempuan tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin hidup sebagai manusia yang utuh, yang boleh salah, boleh bingung, boleh marah, boleh bahagia, dan boleh memilih tanpa harus meminta maaf pada siapa pun. Perjalanan mereka mencari ruang bukan tentang melawan dunia, melainkan tentang menemukan diri sendiri di tengah dunia. Dan di setiap kisah perempuan yang perlahan berdiri lebih tegak, kita sedang melihat bagaimana dunia pun belajar menjadi lebih manusiawi.[]

